
Kubuka mataku perlahan lalu kupandangi sekelilingku. Ini bukan di padang yang luas ataupun di lorong yang gelap. Apa ini artinya aku masih hidup?
Kucoba menggerakkan tubuhku, namun aku sedikit kesulitan lantaran salah satu tanganku terpasang selang infus. Aku yakin sekarang, aku masih berada di alam dunia, dan ya, tempatku berada saat ini adalah di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Setelah kejadian mengerikan di dalam taksi siang tadi ternyata Allah masih memberi umur panjang bagiku.
Tidak berselang lama kudengar suara derit pintu. Tampak seorang perawat tersenyum ramah ke arahku.
"Syukurlah, Ibu sudah sadar," ucapnya. Ia pun lantas memeriksa kantong infus yang tergantung di tiang penyangga.
"Jam berapa ini, Sus?" tanyaku.
"Hampir jam empat sore, Bu."
"Astaghfirullahaldzim! Kue pesanan bu Anita!" Seketika aku panik. Aku sudah berjanji mengantar kue itu sebelum jam tiga sore. Pasti sekarang beliau sedang menunggu kue pesanannya.
"Ibu mau kemana?" tanya perawat saat melihatku mencoba berdiri dengan berpegangan pada tiang penyangga kantung cairan infus.
"Saya … ehm … mau, …"
"Keadaan Ibu masih lemah, sebaiknya Ibu jangan banyak bergerak dulu."
"Tapi, Sus. Ada urusan penting yang harus saya kerjakan."
"Kesehatan Ibu jauh lebih penting."
Aku hanya bisa pasrah saat perawat itu sedikit memaksaku untuk kembali berbaring di ranjang pasien.
"Ibu ditemukan tak sadarkan diri di dalam taksi yang nyaris terbakar. Sepertinya Ibu terlalu banyak menghirup asap," papar perawat bernama Nadira itu.
"Apa, Sus? Terbakar?"
"Benar, Bu. Beruntung seorang pria yang berada di luar sana berhasil mengeluarkan Ibu dari taksi naas itu di detik-detik terakhir taksi itu terbakar hingga pada akhirnya meledak."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Apa ada korban selain saya, Sus?"
"Pengendara taksi selamat lantaran dia sedang berada di toilet."
"Alhamdulillah. Oh ya, apa Suster tahu siapa yang membantu saya keluar dari taksi itu?" tanyaku.
"Pria yang menolong Ibu saat ini berada di depan ruang perawatan ini. Apa Ibu mau bertemu dengannya?"
Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban.
"Tunggu sebentar."
Suster Nadira berlalu dari hadapanku. Beberapa saat kemudian ia masuk kembali ke dalam ruang perawatanku bersama seorang pria yang cukup kukenal.
"Herdian?"
"Syukurlah, akhirnya anda sadar."
__ADS_1
"Ja-ja-di anda yang menolong saya keluar dari taksi itu?" tanyaku.
"Ya. Kebetulan saya baru saja hendak memasuki SPBU. Namun saya curiga pada taksi yang berada di dekat tempat itu lantaran saya melihat asap keluar dari celah kaca mobil. Saya pun menggedor pintu taksi itu. Namun tak ada sahutan sehingga saya terpaksa memecahkan kaca salah satu kaca mobil itu untuk membantu anda keluar dari dalam taksi tersebut," papar ayah dari salah satu ayah teman sekelas Lyra itu.
"Terima kasih. Jika tanpa pertolongan anda mungkin saya sudah, …"
Pria berperawakan tinggi itu mengulas senyum.
"Jangan berterima kasih pada saya, tapi berterima kasih lah pada Allah. Saya hanya perantara saja. Oh ya, ini tas milik anda. Saya rasa anda harus segera memeriksa ponsel anda. Keluarga anda pasti sudah khawatir." Herdian menyodorkan tas selempang milikku.
"Terima kasih."
"Tidak usah berterima kasih terus," tukasnya.
Aku pun bergegas mengambil ponselku dari dalam tas lalu memeriksa pesan dan daftar panggilan. Nomor Ibu, Fina, pak Amin dan bu Anita memenuhi daftar panggilan. Bahkan bu Anita sudah menghubungiku lebih dari sepuluh kali. Alasannya masuk akal, beliau pasti menanyakan kenapa aku belum juga mengantarkan kue pesanannya.
Orang pertama yang kuhubungi adalah ibu.
[Halo, Assalamu'alaikum, Bu]
[Akhirnya kamu menelpon ibu. Ibu khawatir kenapa sudah sore begini kamu belum pulang. Tadi ibu mencoba menelpon karyawanmu tapi dia bilang kamu sedang mengantar kue ke rumah bu Anita. Kamu sekarang di mana, Nak? Kamu baik-baik saja 'bukan?]
[Ehm … apa Ibu bisa datang ke rumah di sakit sekarang?]
[Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?]
[Aku mengalami musibah, Bu]
[Terlalu panjang ceritanya. Aku tidak bisa menceritakannya melalui sambungan telepon]
[Ya sudah, ibu ke rumah sakit sekarang]
- Panggilan terputus- -
Setelah ibu, orang berikutnya yang ku telepon adalah bu Anita. Nada sambung memang terdengar, namun beliau mengabaikan panggilanku.
"Anda terlihat gelisah, apa ada seseorang yang sulit anda hubungi?" tanya Herdian.
"Ya, beliau adalah salah satu pembeli kue di toko saya. Tadi saya memang berniat mengirimkan kue ke rumahnya. Tapi ternyata … begitu lah. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi satu menit kemudian. Tadi bu Anita menghubungiku lebih dari sepuluh kali. Saat ini beliau pasti sedang menunggu kue pesanannya," paparku.
"Semoga nanti bu Anita bisa maklum atas kejadian ini. Jika ditawari, tak ada seorang pun yang mau mendapat musibah," ujar Herdian.
Sekitar dua puluh menit kemudian ibu, Fina, Lyra, dan pak Amin memasuki ruang perawatanku.
"Ibu!" jerit Lyra. Ia lantas menghambur ke dy pelukanku. Tangisnya pun mulai pecah.
"Ibu … hu … hu … hu … Lyra takut," isaknya.
"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Lyra jangan menangis," ucapku seraya membelai lembut kepalanya yang tertutup kain hijab.
__ADS_1
Pandangan ibu lalu tertuju pada Herdian yang berdiri tidak jauh dari ranjang pasien.
"Herdian? Kamu ada di sini?" tanyanya.
Pria itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Herdian lah yang sudah menyelamatkan nyawaku dan membawaku ke rumah sakit ini," jelasku.
"Terima kasih banyak, Nak. Apa saya boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
"Zura tadi terkunci di dalam taksi yang meledak."
"Astaghfirullahaldzim! Bagaimana taksi itu bisa meledak?"
"Entahlah, taksi yang kutumpangi baru saja mengisi bahan bakar. Mungkin terjadi korsleting di bagian mesin hingga menyebabkan taksi itu meledak."
"Lantas, bagaimana dengan pengemudi taksi itu?"
"Pengemudi taksi selamat karena dia sedang berada di toilet."
"Ayahnya Haikal," panggil Lyra pada Herdian.
"Ya, Nak."
"Terima kasih sudah menyelamatkan ibuku. Bapak menjadi pahlawan lagi bagi ibu. Haikal pasti bangga memiliki Ayah seperti Bapak," ungkap Lyra.
"Sama-sama, Sayang. Ini adalah pertolongan Allah. Bapak hanya perantara saja."
Tiba-tiba Herdian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ehm … maaf. Sepertinya saya harus pergi sekarang. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan. Oh ya, untuk administrasi sudah saya selesaikan. Jadi jika dokter sudah mengizinkan, Anda tinggal pulang saja," ucapnya.
"Sekali lagi terima kasih. Allah yang akan membalas kebaikanmu," ujarku.
"Sudah bilang terima kasih nya, nanti pakaianku sempit." Herdian terkekeh.
"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'aalaikumsalam," jawab kami serentak.
Herdian. Sekali lagi pria itu menjadi penyelamatku.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya baruku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰