Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Inikah karma?


__ADS_3

Masih di rumah sakit.


Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul dua dini hari dan tidak bisa tidur kembali hingga pagi. Perasaanku sungguh tak karuan apalagi almarhum ayahku sempat mendatangiku dalam mimpi.


Dalam mimpi itu beliau mengatakan jika aku pasti kuat menghadapi ujian ini.


Tidak berselang lama Adzan subuh berkumandang. Dengan keadaanku sekarang aku tidak mampu untuk mengambil air wudhu. Aku teringat saat beberapa waktu yang lalu ibu yang tengah sakit bersuci dengan melakukan tayamum pada tembok kamar. Aku pun lantas melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah diajarkan mas Fabian kala itu.


Aku baru saja menyelesaikan kewajibanku sebagai umat muslim ketika tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari luar kamar perawatanku.


"Ada ribut-ribut apa pagi-pagi begini?" gumamku.


Di saat itulah seorang perawat masuk ke dalam ruanganku. Dia bukan Mayra.Kurasa jam kerjanya baru akan dimulai jam delapan pagi nanti.


"Selamat pagi, Bu Azzura," sapanya.


"Selamat pagi, Suster."


"Botol infus nya habis. Kenapa tidak ada yang memberitahu perawat untuk menggantinya dengan botol infus yang baru?"


"Maaf, Suster. Saya sendirian di sini. Tidak ada yang menunggui."


"Memangnya Ibu tidak punya suami atau saudara?"


"Suami saya di rumah, Sus. Merawat ibu mertua saya dan juga putri kami yabg masih berusia dua bulan," jelasku.

__ADS_1


Perawat itu pun mengangguk paham.


"Baik lah, saya ambil botol infus dulu," ucap perawatan itu sembari beranjak dari ruang perawatanku. 


Pintu ruangan terbuka, aku pun menoleh ke arah luar. Astaghfirullah! Apa aku tidak salah lihat? Sepertinya aku baru saja melihat perawat mendorong trolly pasien, dan pasien itu adalah mas Fabian.


Aku mengucek mataku, memastikan jika penglihatanku tidak bermasalah. Selang beberapa saat setelah trolly pertama melintas di depan ruang perawatanku, tampak trolly lain di belakangnya.


"Ibu!" pekikku.


Ada apa ini? Kenapa mas Fabian dan ibu berada di rumah sakit ini? Apakah perasaanku yang sedari tadi tidak tenang ini berkaitan dengan mereka? Apakah sesuatu telah terjadi pada mereka? Ya Rabb, lindungi lah suami dan ibu mertuaku.


Perawat bernama Diana itu kembali ke ruang perawatanku dengan membawa botol infus baru.


"Maaf, Suster. Kalau boleh saya tahu Di luar ada ribut-ribut apa ya?" tanyaku.


"Seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan dan seorang perempuan yang mungkin ibunya menjadi korban ledakan tabung gas di di rumah mereka," jelas perawat.


Astaghfirullah! Dari ciri-ciri yang disebutkan barusan, sepertinya aku tidak salah lihat. Kedua trolly pasien yang baru saja kulihat melintas di depan ruang perawatanku memang lah mas Fabian dan ibu.


Aku berusaha sekuat tenaga beranjak dari tempat tidurku. Namun, usahaku gagal. Tubuhku justru ambruk kembali.


"Ibu mau kemana? Jika mau ke toilet, mari saya bantu," ucap suster Diana yang baru saja selesai memasang botol infus baru.


"Saya ingin melihat pasien yang baru saja datang. Saya khawatir mereka adalah suami dan ibu mertua saya," jawabku.

__ADS_1


"Kondisi Ibu masih terlalu lemah, sebaiknya ibu banyak beristirahat."


"Saya mohon, Sus. Saya harus melihat mereka."


Perawat itu tampak berpikir sejenak.


"Baiklah, saya ambil kursi roda dulu," ucapnya. Dia pun lantas meninggalkan ruang perawatanku. Tidak berselang lama dia kembali dengan membawa sebuah kursi roda.


Dengan bantuannya aku berpindah dari ranjang pasien ke kursi roda tersebut. Dia pun mendorong kursi roda itu menuju ruang unit gawat darurat yang hanya berjarak beberapa ruang dari kamar perawatanku.


Semakin dekat menuju ruangan itu, jantungku pun rasanya berdetak beberapa kali lebih kencang dari sebelumnya. Aku berharap pasien yang berada di dalam ruangan itu bukanlah mas Fabian dan ibu.


"Maaf, Dokter. Ibu ini ingin memastikan apakah pasien yang berada di dalam ruangan ini adalah keluarganya," ucap suster Diana pada dokter yang hendak masuk ke dalam ruang tindakan itu.


"Silahkan."


Pintu ruangan terbuka. Tubuhku gemeter hebat rasanya, dengan kedua tangan dan kaki yang mendadak terasa dingin.


"Astaghfirullah!" Aku membekap mulutku dengan kedua tanganku. Pasien itu benar mas Fabian dan ibu. 


"Mas Fabian…Ibu," ucapku parau.


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


__ADS_2