
Tentu saja kemunculan seseorang yang mendadak di ruangan itu membuat keduanya kaget. Fabian bergegas menjaga jarak dari Silvia. Pun sang direktur juga lekas merapikan rambut serta pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Lancang sekali kamu! Masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu lebih dahulu!" seru Silvia.
"Ma-ma-af, Bu. Di jam ini saya biasanya mengantarkan minuman untuk pak Fabian. Saya sudah mengetuk pintu sebelumnya. Saya pikir pak Fabian terlalu sibuk hingga beliau tidak mendengar saya mengetuk pintu. Itulah sebabnya saya masuk begitu saja."
"Siapa namamu?" tanya Silvia.
"Ar-Ar-ya, Bu."
"Sudah berapa lama kamu bekerja di kantor ini?"
"Ehm, sudah cukup lama, Bu."
"Kamu sudah berkeluarga?"
"Su-su-dah, Bu. Saya memiliki dua orang anak."
"Itu artinya kamu masih butuh pekerjaan 'kan?"
"Benar, Bu. Di kantor inilah satu-satunya tempat saya mencari nafkah."
"Kamu harus tutup mulut! Anggap saja apa yang tadi kamu lihat tidak pernah terjadi."
"Ba-ba-baik, Bu."
"Kalau sampai berita ini menyebar, kamu akan tahu konsekuensi nya!" ancam Silvia.
"I-i-iya, Bu. Saya tidak akan membocorkan hal ini pada siapapun."
"Uang tutup mulutmu akan masuk bersama gajimu bulan ini."
"Maaf, Bu. Ibu tidak perlu memberi saya uang. Saya pasti bisa menjaga rahasia."
"Baru kali ini ada pegawai rendahan yang sok-sok menolak uang dari saya."
"Ma-ma-af. Bukannya saya menolak. Saya hanya berpikir jika saya akan memberi makan kedua anak saya dari uang yang benar-benar berasal dari hasil keringat saya."
"Sudah miskin, belagu!" umpat Silvia.
"Ini minumannya, Pak," ucap office boy itu sembari meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.
"Kamu boleh pergi. Ingat! Kalau sampai saya mendengar rahasia ini sampai keluar, pekerjaannyamu yang akan menjadi taruhannya!" ancam Silvia.
"Saya permisi, Bu, Pak."
Arya mengangkat nampan dari atas meja lalu membawanya keluar dari ruangan tersebut.
"Hufht! Ganggu saja!" gerutu Silvia.
"Ehm, Bian."
"I-i-iya, Bu."
__ADS_1
"Bagaimana ajakan saya tadi? Kamu mau 'kan menemani saya keluar kota? Biar pekerjaanmu digantikan asisten saya."
"Ehm…ehm, …"
"Kenapa? Saya hanya menghadiri seminar bisnis. Tidak lama kok, hanya dua hari."
"Dia hari?"
"Ya. Hanya dua hari. Semua biaya akomodasi ditanggung penyelenggara."
"J-j-jadi, selama dua hari kita akan menginap di hotel?"
"Tentu saja. Jarak dari kota M ke kota ini cukup jauh. Saya tidak ingin kamu kelelahan. Saya dengar di kota itu juga banyak tempat wisata. Kamu bisa sekalian rekreasi untuk menghilangkan penat."
"T-t-tapi, …"
"Apalagi?"
"Apa kita tidur dalam satu kamar?"
"Ya. Tapi kamu tentang saja, setiap peserta mendapatkan fasilitas double bed. Meskipun kita menginap dalam satu kamar, kita akan tidur di ranjang terpisah.
Bagaimana? Kamu mau kan?"
"Ehm…ehm…"
"Kamu tidak usah bingung memberi alasan pada istrimu. Bilang saja kamu mendapatkan tugas dari kantor."
"T-t-tapi, …"
Fabian terdiam. Dia tidak mengiyakan ataupun berani menolak ajakan atasannya itu. Dia sudah cukup paham apapun yang diucapkannya adalah perintah.
"Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Ingat, besok jam tujuh pagi kamu sudah harus tiba di kantor. Perjalanan kita cukup jauh."
"I-i-iya, Bu. Akan saya usahakan."
"Diusahakan? Saya tidak mau tahu, kamu harus menurut pada perintah saya."
Silvia meraih tas selempang nya, ia lantas melangkah menuju pintu.
"Oh ya, ada yang ketinggalan."
"Apa yang tertinggal, Bu?"
Fabian celingukan seolah mencari sebuah di meja kerjanya.
"Yang tertinggal adalah ucapan terima kasih."
"Terima kasih untuk apa, Bu?"
"Jangan panggil ibu dong."
"Terima kasih untuk apa, Via?"
__ADS_1
"Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta." Silvia mengeringkannya mata kanannya sebelum ia menarik gagang pintu lalu menutupnya.
"Argh! Kenapa aku harus terjebak di posisi ini?!" Fabian menggebrak meja dengan kedua tangannya dengan begitu keras.
***
"Jika ada yang mencari saya, saya sedang keluar," ucap Fabian pada salah satu karyawan.
"Memangnya Bapak mau kemana?"
"Kamu hanya perlu menjawab "iya". Bukannya malah bertanya saya mau kemana."
"Ba-ba-baik, Pak."
"Di mana Bu direktur?"
"Bu Silvia meninggalkan kantor setengah jam yang lalu."
"Oh ya. Mungkin saya tidak kembali lagi ke kantor ini. Jika ada berkas yang harus ditandatangani, taruh saja di meja saya."
"Ba-ba-baik, Pak."
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, hari ini Fabian akan mendatangi yayasan untuk mencari perawat bagi ibunya.
Sesampainya di yayasan.
"Saya mencari perawat bagi ibu saya," ucapnya pada salah satu petugas."
"Berapa usia ibu anda? Lalu bagaimana keadaannya?"
"Usia ibu saya hampir enam puluh tahun dan beliau sakit stroke. Saya tidak bisa merawatnya dengan tangan saya sendiri karena saya harus bekerja."
"Baik, Pak. Silahkan Bapak baca form ini. Jika Bapak setuju dengan peraturan di yayasan ini, Bapak bisa menandatanganinya."
Fabian pun lantas mulai membaca isi form itu.
"Setiap bulan saya harus memberi gaji sebanyak ini pada perawat?"
"Benar, Pak. Gaji yang diterima nantinya akan diberikan pada yayasan sebesar 20%."
"Apa memang sebesar ini membayar gaji perawat?"
"Bapak bisa mendatangi yayasan lain. Rata-rata sama, Pak."
Fabian tampak ragu.
"Jika gaji untuk perawat saja sudah sebesar itu, apa kata Mila nanti? Dia tidak akan setuju jatah bulanannya dipotong," gumamnya.
"Tapi, jika tidak membayar perawat, siapa lagi yang akan merawat ibu? Apa aku harus mengirim ibu ke panti jompo?" gumamnya lagi.
Bersambung….
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…