
Alangkah terkejutnya aku saat memasuki kamar ibu. Kulihat gelas berisi air putih itu telah terjatuh dan berceceran di atas lantai. Kurasa gelas itu tidak terjatuh, tetapi ibu sengaja menjatuhkannya untuk menarik perhatianku. Memang, dari semua anggota tubuh ibu, hanya tangan saja yang masih bisa bekerja dengan baik meskipun tidak se leluasa orang lain pada umumnya.
Aku berjalan mendekati ranjang, lantas kutatap pemilik sorot mata teduh itu.
"Maafkan Zura, Bu. Zura harus pergi," ucapku.
Ibu menggelengkan kepalanya lalu berusaha meraih tanganku. Meski tak bersuara, aku tahu ibu melarangku pergi meninggalkan rumah ini.
"Zura minta maaf, Zura tidak bisa tinggal di rumah ini. Assalamu'alaikum." Aku meraih tangan ibu lalu mencium punggung tangannya.
Ada rasa perih yang menyeruak memenuhi rongga dadaku. Namun, aku tetap memilih pergi. Rumah ini kini bukan lagi surga bagiku, dan mas Fabian bukan lagi imam yang kukagumi. Aku tak pernah menyangka, secara terang-terangan dia mengaku pernah melakukan hubungan terlarang sebelum ia menikahi Mila.
Aku menepis lembut tangan ibu meskipun beliau berusaha menahannya.
"Maaf, Bu. Zura harus pergi."
Sekali lagi kutatap mata ibu. Aku melihat buliran bening mulai merebak di kedua bols matanya dan siap tumpah kapan saja.
Aku beranjak dari ranjang. Ibu memang melepaskan tanganku, namun kini tangannya menarik kaki Lyra. Aku pun sontak menoleh ke arahnya, dan tangisnya kini benar-benar tumpah.
Apa aku tega meninggalkan wanita tua yang begitu kukasihi ini? Tapi, apa aku sanggup berbagi suami dengan Mila?
"Maaf, Bu. Saya dan Lyra harus pergi. Assalamu'alaikum." Kulangkahkan kakiku perlahan meninggalkan kamar tamu.
"Brukk!"
__ADS_1
Aku menoleh kembali ke arah ranjang.
"Astaghfirullah! Ibu! Mas…tolong!" pekikku.
Ya. Suara benda jatuh yang berasal dari kamar tamu tak lain adalah suara tubuh ibu yang terjatuh dari atas ranjang. Sepertinya ibu memaksakan diri mengangkat tubuhnya demi menahanku agar aku tidak meninggalkan rumah ini.
"Ada apa, Dek?" tanya mas Fabian.
"Ibu jatuh, Mas," jawabku.
Mas Fabian pun bergegas mengangkat tubuh ibu dari atas lantai lalu membaringkannya kembali di atas ranjang.
"Ibu jatuh tuh gara-gara Mbak. Kalau Mbak nggak memaksa untuk pergi, ibu pasti tidak akan jatuh karena menahan Mbak," ucap Mila yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Enak saja menyalahkan orang lain. Apa dia tidak sadar, semua yang terjadi sekarang ini lantaran kehadirannya dalam pernikahan kami?
Aku terdiam sejenak, lantas kutatap wajah yang telah dipenuhi kerutan itu.
"Ya Allah, apa aku tega meninggalkan beliau?" gumamku.
"Kalau Mbak Zura nekat mau pergi, silahkan. Tapi jangan menyesal jika terjadi sesuatu pada ibu," ucap Mila.
Dilema. Itulah yang sekarang kurasakan. Di satu sisi aku ingin pergi meninggalkan rumah ini, namun di sisi lain tak sampai hati rasanya meninggalkan ibu yang sepertinya tak merelakan kepergianku.
"Kamu kan menantunya. Kamu yang seharusnya merawat ibu."
__ADS_1
Ada rasa perih yang yang menyeruak saat kalimat itu terlontar dari bibirku. Jujur, dari sifat Mila yang mulai kukenal, aku tidak yakin dia akan merawat ibu dengan baik.
"Tuh, Mas. Lihat istri kamu yang katanya solehah dan penurut suami itu. Dia terang-terangan menolak merawat ibu," ucap Mila.
"Kamu pikir di posisiku sekarang ini aku masih mau tinggal di rumah ini?"
"Alah. Mbak gak usah sok-sokan begitu. Di luar sana masih banyak perempuan yang mau berbagi suami dan hidup mereka akur-akur saja."
"Kamu jangan samakan aku dengan mereka. Aku perempuan yang punya prinsip, tidak ada kata maaf bagi sebuah pengkhianatan!" tegasku.
"Mbak boleh bicara prinsip kalau Mbak punya harta banyak dan tidak bergantung sama suami. Tapi nyatanya Mbak gak punya semua itu 'kan? Selama ini Mbak hanya bergantung pada gaji suami saja."
Sungguh, ucapan itu terdengar begitu menyakitkan. Ingin sekali rasanya menampar mulut Mila yang berbusa itu.
"Kamu tetap ingin pergi?" Mas Fabian mengulang pertanyaannya.
Sekali lagi kutatap wajah ibu mertuaku. Kali ini aku melihat kedua bola matanya telah basah. Apa yang harus kulakukan? Pergi atau bertahan? Keduanya sungguh pilihan yang sulit.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏