
"Bu! Ibu!" teriak Fina dari depan pintu ruang produksi."
"Masyaallah, ada apa sih, Nak, pulang-pulang kok teriak begitu," ujarku.
"Ada hal penting yang harus aku beritahu pada Ibu." Fina menggandeng tanganku lalu mengajakku keluar dari ruangan itu.
"Tunggu sebentar. Ehm … Seto. Nanti setelah ruangan ini dibersihkan, kuncinya kamu saja yang bawa," ucapku pada Seto yang kutunjuk sebagai kepala produksi.
Aku dan Fina pun lantas meninggalkan ruang produksi dan menuju ruang tamu.
"Ada apa, Nak?" tanyaku.
"Itu, Bu. Mbak Maureen, …"
"Iya, ada apa dengan kak Maureen? Bukankah dia sekarang berada di luar kota?"
"Tadi aku melihat mbak Maureen dan mbak Luna sedang mengobrol dengan dua orang pria berpenampilan preman."
Astaghfirullahaldzim. Baru kemarin Keenan mengatakan melihat Luna mengobrol dengan seorang pria berpenampilan preman, sekarang Fina melihatnya bersama kak Maureen juga. Apa benar kata Keenan jika Luna memang telah merencanakan sesuatu yang tidak baik padaku?
"Ibu kenapa?" tanya Fina.
"Ehm … kemarin Keenan berpesan agar aku lebih hati-hati karena dia melihat Luna sedang mengobrol dengan seorang pria berpenampilan preman. Dia khawatir Luna dan pria itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk padaku."
"Benar apa yang dikatakan mas Keenan. Bukan tidak mungkin mbak Maureen dan mbak Luna bersekongkol untuk merencanakan kejahatan pada keluarga kita. Tidak hanya Ibu dan Lyra, kita semua harus berhati-hati. Kita tahu jika mbak Luna perempuan yang nekat. Ibu ingat 'kan, dia pernah mencelakai Lyra dan Ibu."
Bagaimana pun kak Maureen adalah kakak kandungku. Aku tidak ingin berprasangka buruk padanya. Namun, jika mendengar ucapan Fina, ada baiknya aku lebih berhati-hati. Bukan tidak mungkin dia dan Luna bekerja sama untuk merencanakan sesuatu yang buruk lantaran keduanya menyimpan dendam pribadi padaku.
"Ada apa ini? Kenapa wajah kalian tegang begini?" tanya ibu yang baru saja muncul di ruang tamu.
"Ini, Bu. Tadi aku melihat mbak Maureen dan mbak Luna sedang mengobrol dengan pria berpenampilan preman. Aku khawatir mereka sedang merencanakan hal yang buruk pada ibu atau bahkan pada keluarga kita. Mas Keenan pun sempat berpesan agar Ibu dan Lyra lebih hati-hati," papar Fina.
"Menurut ibu masuk akal jika Maureen dan Luna bekerja sama merencanakan hal yang buruk, mereka 'kan menyimpan dendam padamu."
"Apa kita perlu lapor polisi, Bu?" tanya Fina.
"Melapor untuk apa? Itu baru dugaan kita saja. Menuduh tanpa bukti beda tipis dengan fitnah 'bukan?" ucapku.
"Tapi, Bu, …"
"Semoga dugaan kita salah. Mungkin saja kak Maureen dan Luna sudah lama saling mengenal, dan pria berpenampilan preman itu memang berkawan dengan mereka," ujarku.
"Maureen itu memang saudaramu, tapi perlakuannya padamu tidak bisa disebut sebagai saudara," ujar ibu.
__ADS_1
"Bu. Sabrina benar. Ibu mungkin selalu mengalah dan bersikap baik padanya, tapi dia selalu merasa iri dan dendam pada Ibu."
"Pyar!"
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar suara kaca yang pecah dari arah kamar Lyra.
"Ibu!" pekik Lyra sembari berlari ke arahku.
"Astaghfirullahaladzim. Suara apa itu, Nak?" tanyaku.
"Aku takut, Bu. Hu … hu … hu …"
"Lyra tenang ya, Sayang. Jangan takut, ada ibu di sini." Aku mengecup lembut kening Lyra lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Fina, ayo kita periksa kamar Lyra," ucap ibu. Fina mengangguk setuju. Keduanya pun beranjak dari ruang tamu lalu menuju kamar Lyra.
"Astaghfirullahaldzim!" pekik ibu.
"Ada apa, Bu?" tanyaku.
"Seseorang sengaja melempar batu pada kaca jendela di kamar Lyra."
"Tunggu! Batu itu dilempar bersama kertas ini." Fina mengambil kertas yang membungkus batu berukuran sekepal tangan orang dewasa itu lalu mengamatinya.
"Pasti Maureen dan Luna yang sudah meneror kita," ucap ibu.
Tidak lama kemudian pak Amin muncul dari arah teras. Nafasnya terengah lantaran berlari dari arah belakang rumahku.
"Ada apa, Bu? Saya mendengar suara pecahan kaca dari bagian depan rumah ini," tanyanya.
"Ada orang yang meneror Ibu, Pak."
Fina menyodorkan kertas berisi sebaris kalimat bernada ancaman itu pada pak Amin.
"Astaghfirullahaldzim. Ibu Azzura ini orang baik, bagaimana mungkin Ibu punya musuh," ujarnya.
"Zura memang tak pernah menganggap siapapun sebagai musuhnya. Tapi bagaimana dengan orang lain? Maureen dan Luna contohnya. Mereka selalu mencari masalah dengannya," ucap ibu.
"Mbak Maureen 'kan kakak kandung Bu Zura. Mana mungkin dia pelakunya."
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Lagipula sedari dulu mbak Maureen memang tidak punya perasaan. Suami Ibu aja direbut, meskipun pada akhirnya dia kena karma." Fina menimpali.
"Bu, Lyra takut tidur di kamar."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ibu tahu. Malam ini kamu tidur di kamar ibu. Besok pak Amin akan membelikan kaca baru untuk jendela kamarmu," ucapku. Gadis kecilku itu mengangguk setuju.
"Apa tadi Pak Amin melihat ada orang yang mencurigakan di sekitar rumah ini?" tanyaku.
"Saya sempat melihat saat karyawan konveksi pulang, namun tidak lama saya masuk ke dalam kamar saya di belakang. Saya baru saja selesai menjalankan shalat Ashar saat saya mendengar suara kaca pecah. Itulah sebabnya saya langsung berlari ke sini," papar pak Amin.
"Ibu yakin 100% pelaku teror itu pasti orang suruhan Maureen dan Luna," ujar ibu.
"Teror itu apa, Bu?" tanya Lyra dan mata polosnya.
"Lyra sudah selesai belum PR nya?" Fina mengalihkan pembicaraan.
"Belum, Mbak. Setelah ada yang melempar kaca dengan batu, aku langsung keluar kamar."
"Ya sudah, ayo bawa bukumu ke kamarku, biar aku ajari," ucap Fina. Lyra mengangguk setuju. Fina menggandeng tangan Lyra lalu mengajaknya menuju kamarnya.
"Perasaan saya kok jadi tidak enak begini, Bu. Saya khawatir pada keselamatan Ibu dan Lyra," ucap pak Amin.
Aku mengulas senyum.
"Insyaallah semuanya akan baik-baik saja," ujarku.
"Ya sudah, saya permisi dulu." Pak Amin beranjak dari ruang tamu dan kembali ke kamarnya yang berada di bagian belakang rumah.
Malam harinya.
Aku dan keluargaku baru saja hendak memulai makan malam, namun tiba-tiba saja lampu padam.
"Tumben sekali mati lampu," ucap ibu.
"Tapi kok lampu di rumah tetangga menyala," ucapku.
"Mungkin sekering nya turun. Tunggu sebentar, aku akan memeriksanya."
Fina menghidupkan lampu senter dari ponselnya lalu berjalan ke arah pintu depan.
"Cklek!" Pintu terbuka.
"Brukk! Klotak!"
Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh.
"Astaghfirullahaldzim. Fina! Nak! Apa yang terjadi?!" teriakku dari ruang makan.
__ADS_1
Bersambung …