
"Kak, maaf. Boleh kah aku bertanya padamu?"
Bella melihat ke arah Cinta. Dia lalu menganggukkan kepalanya.
"Apa kau sudah menikah?" tanya Cinta takut-takut. Rasa bersalah masih bergelayut di dadanya.
Bella menatap Cinta dan tersenyum kecut.
"Belum, aku belum mendapatkan pria yang benar-benar mencintaiku," jawabnya.
Deg!
Cinta semakin merasa bersalah dengan jawabn yang Bella berikan.
"Kak!"
"Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, jodoh itu pilihan dari Tuhan bukan kita yang memilih," jawab Bella.
"Hanya saja ... ." Cinta ingin mengatakan sesuatu namun tangan Bella mengelus bahu Cinta.
"Lihat aku! Aku baik-baik saja, kau tidak perlu merusak suasana yang membuat pertemuan ini terasa tidak nyaman. Kau jangan khawatirkan diriku. Cristian bukan satu-satunya pria dalam hidupku, ada pria lain setelahnya hanya saja kami tidak berjodoh," ujar Bella setengah berbohong.
Cinta menarik dua sudut bibirnya, mengeluarkan senyum yang dipaksakan, tapi matanya memperlihatkan kesedihan yang sangat. Di umur kakaknya yang sudah menapaki usia 30-an dia belum menikah sama sekali.
Dia memeluk bahu Bella dengan erat, dan menyandarkan kepalanya di bahu Bella.
"Maaf Kak!"
"Sampai kapan kau akan meminta maaf, hilangkan semua rasa bersalahmu itu. Besok pulanglah ke rumah temui ayah dan ibu. Mereka pasti senang melihatmu dan Calesta cantik ini," ucap Bella sembari menyentuh dagu Calesta.
"Kenapa Mom menangis?" tanya Calesta melihat titik air mata di pelupuk Cinta.
__ADS_1
"Karena ibumu itu cengeng, dia suka menangis di pelukan Aunty," jawab Bella sembari mengeluarkan senyum lebar.
"Jika saja anakku masih hidup mungkin akan sedikit lebih kecil dari Calesta," batin Bella. Dia lalu menciumi Calesta berkali-kali.
"Ini sudah sore, sebaiknya aku pulang ke rumah," ucap Bella.
"Kak, Cristian yang datang dan memberitahumu atau kalian tidak sengaja bertemu tadi?"
"Aku berada di cafe yang sama dengan Cristian tadi dan Alehandro memanggilku, lalu kami duduk bersama dan aku tahu jika kau telah kembali bersamanya," jawab Bella.
Calesta beranjak turun dari pangkuan Bella dan mengambil mainannya.
"Aunty, lihatlah, ini mainan yang Papa berikan padaku. Aunty tidur di sini saja dan bermain bersamaku," ucap Calesta.
Bella menarik sudut bibirnya lebar dan menyipitkan mata.
"Kau baik sekali, mau meminjamkan mainanmu pada Aunty, tapi sayang Aunty harus pulang ke rumah, kakek dan nenek di rumah menunggu Aunty pulang," jawab Bella.
"Bagaimana kalau Calesta ikut ke rumah Aunty saja dan bertemu dengan kakek Setiawan dan nenek Riska."
Calesta melihat ke arah Cinta.
"Besok saja Aunty, bersama Papa dan Mom. Iya kan, Mom!" Mata Calesta melihat penuh harap pada Cinta. Cinta menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kau tidak boleh ingkar janji, karena besok Aunty akan membuatkan kue cokelat yang manis untukmu," ucap Bella.
"Kue cokelat, ehm ... yummmy ... , aku pasti akan datang untuk kue itu. Ehm ... apakah ada pasta, aku suka pasta," ujar Calesta antusias mengatakan semua makanan yang dia suka. Dan Bella mendengarkan.
"Aunty akan menyiapkan semua makanan kesukaanmu," ucap Bella menyentil hidung kecil Calesta.
"Tapi sekarang Aunty harus pulang untuk membuat kue itu terlebih dahulu."
__ADS_1
"Aku akan mengantar Aunty sampai depan," jawab Calesta menggandeng tangan Bella. Mereka lalu berjalan keluar dari kamar tamu.
Di depan mereka sudah duduk di ruang keluarga, Aura dan Cristian. Cristian dengan sabar dan telaten, menyendokkan minuman jus kesehatan untuk Aura.
"Tante, senang melihatmu kembali," kata Bella berdiri di hadapan Aura. Aura tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Ba-bagai ma-mana ka-kabarmu," sapa Aura terbata-bata.
"Kabarku baik-baik saja, Tante," jawab Bella.
"Aku berharap Tante bisa pulih lagi seperti semula dan kita berempat bisa belanja lagi bersama," kata Bella sembari melihat ke arah Cinta. Aura tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana jika Minggu depan kita belanja bersama," ajak Cinta. "Aku sudah lama tidak keliling Mall di Jakarta, paling jika ada even menari dan tampil di salah satu Mall."
"Kau masih menekuni hobimu itu?" tanya Bella.
"Itu sebelum aku bertemu lagi dengannya, jika sekarang aku tidak tahu, apakah dia memperbolehkan aku untuk tampil lagi atau tidak," jawab Cinta diiringi tatapan tajam Cristian.
"Cukup di rumah saja dan menari bersamaku jika kau rindu itu," balas Cristian.
"Romantis sekali itu,sayang sekali aku tidka sepandai kalian dalam menari," ungkap Bella
Dia lalu melihat jam ditangannya.
"Ini sudah sore, aku harus kembali ke rumah. Tante aku mau pamitan pulang terlebih dahulu, Calesta kau harus membawa ayah dan ibumu untuk ke rumah Aunty, semuanya bye," pamit Bella.pada semua orang.
Mereka lalu mengantar Bella hingga ke mobilnya. Setelah melihat mobil bergerak pergi Cristian melihat ke arah Cinta.
"Kau sudah siap menghadapi keluargamu lagi!" tanya Cristian.
**mampir dan masukkan ke favorit... y
__ADS_1