Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Aku Tak Layak


__ADS_3

"Kita makan bareng yuk! Aku juga belum makan dari tadi pagi!" ajak Alehandro. Dia lalu membuka dua kotak nasi, satu untuk Maria dan dirinya.


"Aku... ." Maria keberatan namun kotak nasi berisi ayam Kentucky berlogo pria tua itu terlihat menggiurkan entah kapan terakhir kali dia memakan itu.


"Mau kusuapi?" tanya Alehandro.


Maria menggelengkan kepalanya. Maria lalu mengambil air dengan wadah untuk cuci tangan.


Akhirnya mereka makan dalam diam. Tidak ada yang berbicara samasekali, susana terasa kaku dan mendebarkan bagi Maria. Mendebarkan karena dia harus satu kamar dengan pria asing. Ralat suami yang terasa asing.


"Entah kapan terakhir kali aku makan dengan tangan, mungkin jaman SMU dulu," ujar Alehandro memulai percakapan.


Dara memiringkan tubuhnya dan meraih wadah berisi sendok. Dia menyerahkan sendok dan sendok garpu untuk Alehandro.


"Aku bisa Maria," tolak Alehandro. Maria hanya menatap tajam lalu meletakkan sendok tadi dekat dengan Alehandro. Dia tahu ini mungkin pertama kalinya bagi pria itu makan di ruang kecil seperti itu. Suasana kembali sunyi hanya ada suara kecapan orang makan.


Alehandro sudah menyelesaikan makanannya terlebih dahulu, dia mencuci tangannya di wadah kecil dari plastik. Lalu melapnya dengan gulungan tissu toilet. Dia tidak tahu kehidupan apa yang telah dijalani oleh Maria tapi dia yakin jika kehidupan itu buruk. Tidak ada makanan atau minuman, hanya ada air galon saja. Tidak ada hiburan misal sebuah televisi mungkin. Tidak ada kamar mandi khusus dia menggunakan dua kamar mandi bersama-sama penghuni kos lainnya. Di kamar ini hanya ada satu kasur bisa dan lemari plastik yang telah terlihat usang.


"Itu seperti kotak snack yang ada dipertemuan kemarin?" tanya Alehandro pada kotak kardus makanan berwarna kuning berada di atas lemari plastik.


"Ya, aku mendapatkannya dari Dara dan karena itu pula aku dipecat dari pekerjaanku. Hidup ku berantakan setelah bertemu denganmu dan kini kau datang lagi mengacaukan hidupku.'' Maria menyingkirkan makanan itu ke samping dan bersandar di tembok.


" Hidup apa yang kau jalani ini Maria, tidak ada makanan, tidak ada hiburan dan hanya ada satu tempat tidur tipis ini. Akan lebih baik jika kau hidup bersamaku!" tawar Alehandro.


"Hidup bersama pria yang suka main wanita itu sama saja hidup di dalam neraka!" balas Maria sengit. Alehandro menghela nafasnya dalam.


"Maria aku tidak pernah berkhianat," jawab Alehandro, ya hanya bermain sedikit tetapi tidak sampai ke hubungan lebih jauh. Dara langsung mencuci tangannya dan membereskan makanan itu.


"Mulut manismu itu pandai berbohong! Aku melihat kau sedang bermesraan dengan seorang wanita di salah satu perumahan di Bekasi."

__ADS_1


Wajah Alehandro memucat, dia memang pernah pergi ke perumahan itu dengan Stella. Wanita itu mengatakan ada barang yang tertinggal di rumahnya dan dia mengajak Alehandro untuk mengambil barang itu di rumah lalu dia merayunya dan mereka bermesraan tapi tidak berlanjut ke kamar.


"Itu, dia merayuku kami memang sempat... , " Alehandro menggosok tengkuknya. "Tapi tidak melakukan hal lebih jauh, percayalah Maria, aku tidak pernah melakukan hal gila lagi!''


"Kau itu sudah melakukan kesalahan malah membela diri, sekarang jika kau melihat aku bermesraan dengan wanita lain apa kau akan menerima hal itu?" tanya Maria.


Alehandro diam. Maria benar, jika dia melihat Maria yang bermain pria lain mungkin dia tidak akan pernah bisa menerimanya.


"Maaf, aku memang khilaf, aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi hanya saja aku berharap kau mau pulang bersamaku!"


'Tidak!" jawab Maria.


"Kalau begitu aku akan tinggal di sini bersamamu hingga kau mau pulang bersamaku!''


Maria mengerang sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Kau itu istriku seharusnya kau hidup bersamaku!"


"Alehandro, ini pernikahan aneh, aku dan kau tidak saling mencintai!" terang Maria.


"Kalau begitu belajarlah berbagi terlebih dahulu, berbagi perasaan kita hingga timbul rasa saling memiliki," ujar Alehandro.


"Aku tidak ingin terlibat perasaan denganmu!"


"Mau tidak mau kau harus melakukannya karena kita adalah suami istri."


"Aku akan mengajukan surat cerai!" ujar Maria enteng.


Hati Alehandro mendesir sakit. Baru pernah dia diperlakukan begitu tidak berharga oleh seorang wanita dan dia adalah istrinya sendiri.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya tapi dengan satu syarat kau harus mau hidup bersamaku selama tiga bulan, setelah itu kau boleh berbuat semamumu, aku tidak peduli!"


Mata Maria terlihat bingung untuk menjawabnya. Dia mulai gelisah.


"Pergilah! Biarkan aku memikirkan apa yang kau katakan terlebih dahulu!"


"Kemana aku harus pergi sedangkan ini adalah kamar istriku?"


Maria membelalakkkan mata dan menurunkan dagu ke bawah. Dia frustasi dengan cara Alehandro memojokkan dirinya.


"Aku sudah menurutimu kemauanmu untuk pergi Maria, kini gantian kau harus menurutiku untuk kembali ke rumahku!"


"Aku, aku tidak bisa!"


"Demi Mom, dia pernah mengalami komplikasi, aku mengkhawatirkan keadaannya. sedangkan dia mengusir ku dari rumah karena kau pergi. Bisa kau bayangkan jika penyakitnya kambuh sedangkan aku tidak boleh mendekatinya sama sekali. Tolong aku, hanya kau yang bisa melakukannya. Hanya dia keluargaku orang yang terpenting dari hidupku," ujar Alehandro tulus tidak terlihat ada kebohongan sama sekali.


"Mom mengusirmu?" tanya Maria.


"Dia bahkan tidak mau menganggapku anaknya lagi jika tidak membawamu pulang!"


"Aku, tidak bisa Ale, kau tahu, hidup bersamamu membuat nafasku sesak!" ujar Maria.


"Apakah aku begitu buruk di matamu!" tanya Alehandro menatap manik mata Maria.


"Ya, kau pria terakhir yang ingin ku nikahi. Aku ingin menikahi pria yang hanya mencintaiku saja selamanya. Dia menyerahkan dirinya untuk diriku bukan berlutut dengan wanita lain ketika istrinya tidak terlihat lagi. Pria seperti ayahku yang tetap setia dengan ibuku walau ibu berkhianat padanya, seperti Om Erick yang setia dengan tante Aura walau Tante menderita sakit, atau pria seperti Kak Cristian yang tidak pernah mencintai wanita lain selain kak Cinta, walau mereka telah berpisah selama bertahun-tahun," terang Maria menatap Alehandro dalam.


Bibir Alehandro terkatup rapat mendengarnya. Pernyataan Maria seperti sebuah tamparan keras untuknya. Dia memang bukan pria yang diinginkan Maria untuk menjalani hidup bersamanya. Dia memang sangat buruk untuknya dan dia memang layak mendapatkan pria yang baik seperti yang Maria impikan. Dan yang pasti itu bukan dirinya. Karena dia adalah pria brengsek yang suka berganti pasangan.


"Aku memang tidak layak untuk kau cintai Maria, kau benar jika aku tidak sebaik ayahmu, paman Erick dan Cristian. Tetapi aku akan belajar untuk menjadi seperti mereka jika kau mengijinkan," ungkap Alehandro.

__ADS_1


__ADS_2