
Setelah tenang Dara lalu menengadahkan wajahnya memandang wajah Alehandro yang ada di hadapannya. Dia memberanikan diri memegang rahang pria itu.
"Kau itu tampan, rupawan, dan mapan. Tidak ada yang kurang darimu. Kau bisa mencari wanita yang lebih baik untukmu yang lebih sempurna dan yang pasti bukan diriku. Jika kau menikahiku kau hanya akan berteman dengan ribuan masalah yang ada."
Dua bola mata mereka saling menatap, tersihir oleh pesona masing-masing.
Tangan Alehandro mengambil surai hitam yang menutupi wajah Dara dan menariknya ke belakang telinga.
"Jika kau merasa aku sudah sempurna maka aku ingin membagi kesempurnaan ku denganmu," kata Alehandro.
"Apa kau tidak malu menikahi wanita miskin tanpa status dan telah mempunyai seorang putri?" ucap Dara. Wajah mereka sangat dekat bahkan hangat nafas mereka menerpa wajah masing-masing.
"Malu adalah sesuatu yang harus kau miliki Dara, seharusnya kau malu dengan hal itu. Aku hanya ingin menjadi pakaian indah untukmu, yang akan menutupi semua kekuranganmu dan membuat hidupmu lebih berwarna."
"Kenapa? Apakah hanya karena anak?"
"Atau kau melihat Maria di diriku?'' ujar Dara menyipitkan matanya dengan sinis.
"Kau bukan Maria, kau adalah Dara, wanita muda yang kuat melewati apapun untuk bertahan hidup. Kau mungkin tidak punya keluarga tetapi kau punya hati untuk selalu berbagi kasih sayang dengan setiap orang. Kau memang tidak punya harta tetapi kau jiwa tulus dan jujur yang tidak semua orang miliki. Aku, bangga mengenalmu dan aku ingin jadi bagian dari dirimu jika kau mengijinkan," ucap Alehandro membelai kedua pipi hangat Dara dengab tangannya.
__ADS_1
"Ale jangan bersikap baik dan hangat padaku!" tolak Dara hendak menarik diri dari tubuh Alehandro tetapi pria itu dengan cepat meraih pinggangnya dan meletakkan bibirnya di atas bibir Dara yang lembut dan tidak terjamah selama ini.
Alehandro tadinya terasa ragu untuk membelai labium merah itu dengan lidahnya yang basah. Namun, sikap Dara yang terdiam dan memejamkan mata membuat dia mantap untuk melakukannya. Dia mulai mengigit pelan bibir Dara mencari sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang juga tidak pernah dia lakukan setelah Maria meninggal dunia.
Lidah mereka saling menggoda dan bertaut. Merasakan aliran darah mereka yang mendesir naik ke atas ubun. Syaraf mereka yang mulai tegang dan tubuh yang mulai memanas.
Kedua tangan mereka saling memegang wajah pasangnya hingga mereka sama-sama menarik diri ketika hampir tidak dapat menguasai emosi.
Ibu jari Alehandro mengusap bekas air liur mereka di bibir merah **** Dara yang berisi.
"Apakah ini artinya kau mau menerimaku?" ucap pria itu dengan dada yang naik turun.
"Jika kau tidak tahu mengapa kau menerimanya?" pandang Alehandro.
"Karena aku ingin tahu seperti apa caramu memandang diriku, apakah kau melakukannya dengan keterpaksaan atau karena kau tergoda," ujar Dara menarik diri. Dia duduk menegakkan tubuhnya. Bibirnya masih terasa kebas dan rasa hangat masih terasa di kulitnya.
"Dasar anak nakal!" ujar Alehandro.
"Sekarang tidurlah sebelum aku memakanmu," ucap Alehandro tersenyum nakal.
"Aku tahu kau pria gentleman yang tidak akan melakukan itu sebelum waktunya."
__ADS_1
Dara lalu bangkit dan merapikan pakaiannya.
"Dara terimakasih," kata Alehandro ketika melihat Dara hendak berjalan meninggalkannya sendiri.
"Untuk apa? Aku belum memberikan jawabanku," ujar Dara.
"Untuk ciuman itu," kata Alehandro sembari mengerlingkan mata genit.
Wanita dan lelaki yang bersama memang rentan untuk melakukan kesalahan dan untungnya kesalahan itu tidaklah besar hanya sebuah kecupan berujung ciuman hangat. Semoga Tuhan menghapus dosa itu. Pikir Alehandro.
Dara lalu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pergi meninggalkan Alehandro.
"Alehandro pesonamu memang tidak pernah habis dilekang oleh waktu," gumam Alehandro pada dirinya sendiri. Dia menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa panas dan manis.
Sepertinya kini dia bisa tertidur nyenyak. Dia pikir dia tidak akan tenang menunggu hari esok nyatanya perlakuan hangat Dara membuat hatinya tenang. Dia belum diberikan jawaban tetapi dia sudah yakin jika Dara akan memilihnya.
"Maria kau memang mempunyai teman yang sangat menarik," ujar Alehandro menatap ke atas. "Terima kasih karena kau telah menunjukkan padaku pada Dara. Jika kau tidak mengenalnya maka kini aku masih merana sendiri."
"Aku memang masih sendiri," ujar Alehandro tersenyum lalu bangkit pergi ke kamarnya. Sebelum dia masuk ke kamar dia melihat kamar Dara yang masih menyala.
"Selamat malam Dara, sebentar lagi kamar kita akan menjadi satu," lirih Alehandro.
__ADS_1