
"A-Aku tidak mau aset berhargaku sia-sia dimakan rayap sepertimu lalu menjadi janda tanpa ada yang bisa dibanggakan lagi," ucap Maria.
"Kalau begitu kita jangan bercerai agar kau tidak menjadi janda," jawab Alehandro sembari tersenyum lucu.
"Aku tidak mau, aku mau menikah dengan orang yang aku cintai dan dia juga mencintaiku. Menikah denganmu, seorang playboy cap kadrul akan membuatku cepat tua dan naik darah setiap harinya," ujar Maria kesal.
"Playboy cap Kadrul ... ," ulang Alehandro dia menautkan kedua alisnya.
"Atas dasar apa kau menyebutku seperti itu?"
"Karena kau sering berganti pasangan, bahkan aku tahu kau pernah bermalam bersama salah satu sahabatku, Priya. Aku juga beberapa kali melihatmu bersama wanita yang berbeda. Bagiku pria sepertimu sangat ehm ... ," Maria tidak sampai hati untuk mengatakan kata 'Menjijikkkan'.
"Teruskan ... ," mata Alehandro asik memandangi wajah Maria yang jujur. Jika para wanita lain tanpa segan-segan melebarkan paha demi bisa disentuh olehnya. Wanita ini malah mengatakan hal berbeda. Padahal dia wanita muda yang belum berpengalaman. Alehandro tahu dari caranya mencium masih terlihat sangat kaku. Dia tahu jika Maria masih bersih dari polusi pria.
"Intinya pantang bagiku menikahi pria sepertimu. Pernikahan itu bukan hal main-main bagiku. Harus ada komitmen penuh, cinta dan kesetiaan." Maria lalu berdiri dan melangkah pergi hendak menarik engsel pintu.
"Aku kira kau hanya seorang gadis muda yang labil namun ternyata pemikiranmu jauh lebih dewasa dari umurmu," puji Alehandro.
"Kau belum tahu aku, jadi jangan terburu-buru menilaiku," ucap Maria keluar dari ruangan Alehandro. Sesampainya di luar Maria menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia lalu menendang udara dengan kesal.
Dia berjalan menuju meja kerjanya mengambil kembali barang yang dia bawa tadi dan keluar dari tempat itu secepatnya. Dia tidak ingin lagi melihat pria itu.
__ADS_1
Dia lalu mengambil handphonenya. Dia mengirimkan sebuah chat pada salah satu sahabatnya Priya jika ingin menemuinya hari ini.
***
Malam harinya dia baru pulang kembali ke rumah. Seperti biasa dia memarkirkan motor matic miliknya di luar rumah. Dia heran dengan keberadaan tiga unit mobil mewah dengan merk yang berbeda terparkir di depan kediaman Slim.
Mungkin tamu kak Cristian atau juga tamu paman Erick. Pikir Maria. Dia lalu masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur karena tidak ingin mengganggu para tamu yang ada.
Pintu dapur masih terbuka lebar yang mengartikan ada kegiatan penting yang dilakukan oleh para pelayan rumah. Mereka tidak akan masuk ke dalam rumah utama pada malam hari jika tidak dipanggil atau ada pekerjaan penting yang tidak bisa menunggu hingga esok hari.
Aroma masakan langsung tercium jelas ketika Maria masuk ke dalam dapur. Dia melihat banyak sekali makanan yang mereka persiapkan malam ini. Dia menaikkan kedua alisnya tatkala berpapasan dengan salah satu pelayan rumah. Seolah sedang bertanya ada apa ini?
"Ada acara lamaran, Nona Maria," jawab pelayan itu. Maria berpikir ini pasti lamaran kakaknya Cristian dan Cinta. Mereka itu memang terlihat serasi walau dia baru bersama wanita itu kemarin.
"Maria, kau dari mana saja? Seluruh anggota keluarga menunggumu di ruang tamu. Dan kau masih belum bersiap sedikit pun," ujar Cinta hangat. "Ikut aku biar aku mempersiapkan mu agar bisa tampil secantik mungkin."
Maria hanya terdiam lalu dia melihat ke arah Cinta yang sudah tampil cantik dan elegan. Dia menurut saja karena tidak ingin membuat malu keluarga Slim.
"Kak, kau sudah berbaikan dengan Kak Cristian?" tanya Maria pada Cinta sewaktu wanita itu sedang menghias rambutnya.
Cinta menengadah melihat Maria dari pantulan cermin.
__ADS_1
"Kami memang punya masalah tapi kami akan mengatasinya. Hanya butuh sedikit waktu," jawab Cinta.
"Satu Minggu kemarin Kak Cristian terlihat begitu membencimu, tapi tadi malam aku tidak sengaja melihat kalian bermesraan di dapur. Oh, aku tidak tahu bagaimana kehidupan orang dewasa," ujar Maria.
Cinta menutup mulutnya ketika tahu jika Maria memergoki kegiatan mereka tadi malam.
"Kami itu saling mencintai hanya saja, kami saling menyakiti tadinya hingga timbul berbagai masalah. Tapi jika takdir sudah menentukan jodohmu sebesar apapun kau menolak dia tetap akan bersamamu," ujar Cinta. "Cristian dulu sering mengatakannya, kini aku baru sadar bahwa sesungguhnya kami memang berjodoh."
"Mom! Aunty Maria sudah siapkah? Mereka semua sudah menunggu di bawah," teriak Calesta dari pintu kamar.
"Ayo cepat Maria, kita harus turun ke bawah!" ajak Cinta menarik tangan Maria. Maria lalu mengikuti Cinta. Kali ini mereka turun melewati tangga tidak melalui pintu lift seperti biasanya.
Langkah Maria terhenti tatkala melihat Alehandro dan ibunya sedang duduk di bawah bersama paman Erick dan Cristian juga beberapa orang di bawah. Maria bisa menghitung total ada 15 orang yang sedang duduk bersama. Perasaan Maria sudah merasa tidak enak.
Cinta yang merasakan langkah Maria terhenti membalikkan tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Cinta.
"Mengapa mereka semua berkumpul di sini?"
"Kau itu lucu, bukankah kau sudah tahu jika mereka datang untuk melamarmu?"
__ADS_1
Maria terkejut bukan main mendengar hal ini. Dia ingin menghilang dari tempat ini secepatnya, namun semua mata sudah menatapnya saat ini.
"Kak, aku tidak mau menikah dengannya!" ucap Maria.