
"Tetapi bagaimana cara kita bertemu dengannya Dara, aku bahkan tidak tahu di mana dia menginap dan di mana kantornya?" kata Maria.
"Kita kembali ke Jakarta!" ujar Dara.
"Lalu bagaimana denganmu dan pekerjaanmu!" tanya Maria pada Dara.
Dara tersenyum kecut, lalu dia memegang tangan Maria. "Pekerjaan bisa dicari tapi kesempatan hanya datang satu kali, kejar kebahagiaanmu makan aku akan ikut bahagia."
Mata Maria berembun, dia lalu memeluk Dara erat. "Aku mencintaimu layaknya saudara sekandung," ucapnya.
***
Esok harinya ketika mereka tengah bersiap untuk kembali ke Jakarta, Krish datang untuk mengunjungi Maria.
"Nyonya, saya diperintahkan untuk menemui anda dan menyerahkan ini," kata Krish di depan pintu kamar kos Maria. Dia membawa satu tas hitam entah apa isinya.
"Masuklah tidak enak di lihat penghuni kos lainnya," ucap Maria. Mereka lalu duduk di dalam kamar kos dengan pintu yang di biarkan sedikit terbuka agar tidak ada fitnah yang terjadi.
"Di mana Tuanmu?"
"Dia langsung kembali ke Jakarta kemarin malam," jawab Krish membuat lemas Maria.
"Dia menyuruh saya membawakan ini untuk Anda, Nyonya?" kata Kris menyerahkan tas hitam yang dipegangnya sedari tadi.
"Apa ini?" tanya Maria pada Krish.
"Anda bisa membuka dan tahu apa isinya," ucap Krish. Maria memandangi Krish dan mulai membuka tas hitam itu perlahan. Dia membelalakkan matanya lebar dan menelan salivanya yang tiba-tiba tercekat. Dia lalu menatap Kris dengan pandangan mata nanar.
"Apa maksudnya ini?'' tanya Maria sok.
"Anda selalu menolak uang yang ditransfer Tuan Alehandro, jadi dia berinisiatif untuk memberikan uang cash kepada Anda."
"Hanya ini?" tanya Maria mulai kesal.
"Jika kurang dia akan memberikannya lagi," jawab Krish bingung. Maria lalu melemparkan tas itu ke hadapan Krish. Membuat pria itu terkejut.
"Bawa aku padanya biar aku maki dia, seenaknya saja mempermainkan hidupku!"
"Nyonya dia tidak berniat seperti itu, dia hanya tidak ingin melihat Anda kesusahan dan menderita," ujar Krish. Dia melihat Alehandro sangat sedih dan putus asa kemarin. Sesuatu yang belum pernah di lihat selama ini.
"Jika dia inginkan aku bahagia seharusnya dia tanya apa yang kumau bukannya memberi uang dan pergi begitu saja!" bentak Maria.
"Dasar domba jelek, masih saja tidak peka terhadap perasaan seseorang! Padahal dia sudah tua tetapi pikirannya sangat dangkal!'' maki Maria kesal, marah, karena ditinggal sendiri tanpa pamit. Dia enggan untuk menangis dihadapan Krish jadi dia luapkan dengan kemarahan saja.
__ADS_1
"Nona, maksud Tuan adalah...." Krish berhenti ketika melihat Maria menarik koper dan meletakkan di depan Krish.
"Apa maksudnya Nyonya?" tanya Krish bingung.
"Antarkan aku ke rumah Mom Lusi aku akan mengadukan semua keburukan anaknya padaku!" seru Maria.
Wajah Krish langsung memucat seketika. Bagaimana jika Nyonya Lusi tahu keburukan anaknya, dia pasti akan dicoret dari bagian keluarga Sancez. Ini gawat. Tebakannya memang benar jika istri Tuan Alehandro lebih menyeramkan dari Tuan Alehandro sendiri.
"Nyonya jangan katakan apapun pada Nyonya Lusi, Tuan Alehandro sudah di usir oleh beliau, jangan menambah lagi masalahnya," bujuk Krish.
"Aku akan menambah penderitaannya nanti. Jika kau menolak untuk mengantarkan aku, aku bisa pastikan jika kau akan dipecat hari ini!"
Krish bingung harus melakukan apa, dia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku akan mengantarkan Anda ke rumah Nyonya Lusi tapi ku mohon jangan buat Nyonya bertambah marah pada Tuan Alehandro sehingga dia akan dicoret dari nama keluarga Sancez."
Perkataan Krish membuat Maria membelalakkan matanya. Matanya mulai memanas, dia ingin sekali memukul suaminya itu. Bagaimana bisa Alehandro memilih untuk melepaskannya padahal jika dia lakukan itu Alehandro akan kehilangan semua yang dimilikinya termasuk ibu yang paling dia sayangi. Dia ingin agar Maria bahagia dan melepaskan kebahagiaannya sendiri.
"Kau tidak perlu mengajariku apapun! Aku tahu apa yang akan kulakukan!" kata Maria membuat Krish menutup rapat mulutnya.
"Kita akan pergi sekarang!" ujar Maria.
"Baiklah sesuai perintah Anda, Nyonya."
"Dara, yang tinggal di kamar sebelah?" tanya Krish.
Maria menatapnya tajam. "Apa kau keberatan?"
"Tidak Nyonya, perintah Anda sama pentingnya dengan perintah Tuan."
"Nyonya, ada masalah lain lagi," kata Krish.
"Apa itu?" desak Maria.
"Aku belum pesan tiket pesawat buat kita."
"Kau itu assisten Bos besar masa mengurus masalah seperti ini tidak bisa."
"Apakah saya harus pesanan pesawat jet untuk kita pulang kembali ke ibukota?"
"Kita pakai mobil saja kembali ke ibukota," ujar Maria.
"Mobil? Apa Anda tidak akan lelah Nyonya?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kereta api?" ujar Maria lagi.
"Pesawat saja lebih baik," ujar Krish. Pekerjaannya di Surabaya belum selesai tetapi dia harus mengantarkan istri Tuannya kembali. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dua-duanya sama penting dan dua-duanya jika tidak dikerjakan bisa membuatnya dipecat. Dia akan menunda jadwalnya di Surabaya dan akan mengantarkan Nyonya nya ini kembali ke rumah setelah itu dia akan kembali ke Surabaya.
"Terserah kau saja!" kata Maria. Dia senang karena uangnya dan Dara tidak akan habis untuk membeli tiket pulang. Krish datang di saat yang tepat.
Dara yang tidak tahu kedatangan Krish langsung masuk saja ke dalam kamar dengan membawa kopernya.
"Kita jadi pulang hari ini?" tanya Dara. Maria menajamkan mata pada Dara agar diam. Krish hanya bisa memandang pada dua orang wanita cantik dihadapannya.
Mengapa mereka berdua telah siap pergi? Batinnya.
"Dia mengapa ada di sini?" tanya Dara nervous.
"Dia akan mengantarkan kita ke Jakarta," jelas Maria.
"Baguslah," ujar Dara tersenyum. Dia ada waktu untuk melihat wajah Krish yang tampan. Bagai punguk merindukan bulan itu istilah yang tepat baginya saat ini.
"Kita berangkat!" ajak Maria bersemangat.
"Sebentar Nyonya saya pesanan tiket terlebih dahulu agar kita tidak lelah menunggu di sana. Aku juga lapar belum sarapan Nyonya, Tuan menyuruhku mengantarkan tas ini sepagi mungkin hingga aku tidak sempat untuk mencari makanan," ujar Krish.
"Biar aku yang membelikannya. Kau ingin makan apa?" tanya Dara.
"Aku ingin makan Sandwich keju dan kopi mocachinno," kata Krish.
Bahu Dara seketika jatuh. Itu bukan makanan yang bisa dia beli di pinggir jalan. Maria melihat halnya. Dia tidak bisa membiarkan temannya itu kecewa karena tidak bisa memberikan hal baik untuk Krish.
"Aku akan memesan makanan itu kemari. Kalian juga mau makan apa biar aku pesanan sekalian?''
"Kita akan makan nasi kuning, biar Dara yang membelikan," perintah Maria.
"Apa kalian akan membelinya di warung pinggir jalan?" tanya Krish khawatir, walau dia hanya bekerja sebagai asisten tetapi seumur hidupnya dia tidak pernah makan di pinggir jalan. Dia khawatir makanan itu tidak higienis dan akan membuat pencernaannya sakit.
"Dara, tolong belikan, biar dia tahu bagaimana nikmatnya makanan asli negara sendiri! Beserta tiga cup kopi hitam!" kata Maria. Dia lalu membuka tas hitam itu dan mengambil seikat uang berjumlah sepuluh juta.
"Ini ambillah, lebihannya untukmu saja!" kata Maria. Dara membelalakkan matanya lebar.
"Untukku Maria? Kau tidak salah?"
"Tidak! Ini semua untukmu Dara!" kata Maria memberikan tas itu pada Dara.
"Ini uang Maria?" pekik Dara.
__ADS_1