Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Bawalah Aku ke Surga


__ADS_3

Sudah beberapa hari Alehandro dan Maria bersama tetapi belum pernah Alehandro berani berbuat lebih padanya. Bukan karena takut tetapi karena dia menghormatinya.


Mereka lebih terlihat seperti teman yang mesra sehari-hari hanya diisi dengan bercerita tentang keseharian, bercanda dan tidur bersama. Walau Alehandro terkadang mencuri cium pipi Maria.


"Kenapa kau pulang malam?" tanya Maria mengambilkan piyama tidur untuk Alehandro setelah dia mandi. Dia hanya memakai boxer tetapi Maria sudah terbiasa dan tidak menganggap itu hal memalukan lagi.


"Aku tidak akan menggunakan piyama itu, malam ini udara terasa panas," kilah Alehandro.


"Kau tidak sedang berpikir aneh kan?" tanya Maria curiga sembari menyipitkan mata menatap tajam Alehandro.


"Andaikata iya, itu pun sudah kewajiban mu melayani aku," ujar Alehandro. Maria lalu melempar piyama itu pada Alehandro.


"Pakai atau aku akan tidur di kamar tamu," ancam Maria dia lalu berjalan ke tempat tidur dan duduk di pinggirannya.


"Oh ayolah Maria, sudah seminggu lebih kita bersama," rajuk Alehandro.


"Aku sudah sangat sabar terhadapmu," kata Alehandro mendekati Maria dan berjongkok di hadapannya.


"Aku belum yakin padamu," ucap Maria terus terang.


"Kenapa?" tanya Alehandro memegang tangan Maria yang ada di pangkuan.


"Karena satu Minggu bukan waktu yang lama untuk bersabar," kata Maria mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Alehandro.

__ADS_1


Dia lalu berbaring dan menarik selimutnya. Alehandro lalu ikut naik ke ranjang dan duduk bersandar pada headboard.


"Pakailah dulu piyamamu!" pinta Maria.


"Tidak hingga kau katakan alasannya," cetus Alehandro.


"Wanita itu sangat sulit melupakan. Aku masih teringat caramu yang bermesraan dengan wanita lain. Aku selalu membayangkannya jika kau sedang berusaha menyentuhku."


"Maria aku hanya bermain-main waktu itu tidak sampai pada hubungan intim. Aku bersumpah padamu," kata Alehandro memegang jakunnya. Maria bangkit.


"Oke, kau katakan jika kau hanya bermain-main. Aku percaya itu. Akan tetapi, jika suatu hari aku ditindih oleh pria lain dan dia menciumiku, aku pun akan mengatakan hal yang sama padamu kalau aku hanya bermain-main. Kau harus percaya padaku suamiku?" balas Maria. Mata Alehandro menggelap.


"Kau tidak boleh melakukan itu!" larang Alehandro. Dia menatap tajam Maria.


"Kenapa? Bukankah kau juga melakukan hal itu!" tantang Maria. Tangan Alehandro menyentuh tengkuk Maria lembut. Dan mereka saling bertatapan.


"Lalu kau sendiri milik berjamaah?"


"Jika kau mau aku akan menjadi milikmu selamanya," bisik Alehandro di telinga Maria lalu menggigit pelan daun telinganya membuat darah Maria mendesir cepat.


"Bagaimana jika suatu hari aku sakit, apakah kau akan tetap setia padaku atau mencari wanita lain?" tanya Maria.


Alehandro menyatukan dahi dan hidung mereka. "Apa yang akan kau lakukan jika aku yang sakit terbaring dan tidak bisa berbuat apa-apa."

__ADS_1


"Aku akan tetap berada di sisimu," jawab Maria.


"Kalau begitu aku pun akan melakukan hal yang sama padamu, aku akan tetap berada di sisimu. Mungkin kau mengenalku sebagai pria yang tidak baik tetapi pria ini ingin menjadi suami yang sempurna untukmu," ucap Alehandro terdengar tulus. Dia mencium pipi Maria pelan dan menghirup aroma bunga melekat di kulitnya.


"Aku tidak mencari pria yang sempurna, aku hanya ingin memiliki pria yang setia padaku hingga akhir hayatnya," kata Maria lirih. Bibir Alehandro menyentuh pipinya hingga ke bibir Maria, lalu mengusapnya pelan. Lalu lidah lelaki itu membelai lidahnya dan meluncur masuk ke dalam mulutnya. Bibir Alehandro terasa panas dan berat di bibir Maria. Tangan lelaki itu menariknya tubuhnya hingga semakin rapat. Ini adalah ciuman ketiga dari awal mereka bertemu.


Lalu tubuh Maria dia baringkan ke tempat tidur, tetapi bibirnya masih mengulum bibir Maria dan lengan pria itu masih memeluknya. Tubuh Alehandro yang keras menindih tubuh Maria yang lunak, dada pria itu menekan kuat dada Maria hingga membuatnya tidak bisa berpikir apa-apa kecuali merasakan keindahan sensasi ciuman Alehandro yang sensual.


Akhirnya mereka berdua terengah-engah sedangkan tubuh Alehandro sudah berada di atas tubuhnya, kaki mereka saling bertautan dan pinggulnya begitu rapat dengan pinggul Alehandro. Panas memancar dari tubuh Alehandro dan fakta bahwa bukit gairah Alehandro sudah mengeras yang memberi arti bahwa Alehandro saat ini sedang menginginkannya membuat gairah pada diri Maria meningkat.


Maria mendongak, wajah Alehandro yang putih sudah kemerahan dan matanya setengah terpejam memandang ke arahnya.


"Apakah akan sakit?" tanya Maria tiba-tiba.


"Aku tidak melakukannya dengan seorang wanita yang masih virgin, tapi kita akan melakukannya dengan hati-hati. Jika kau tidak nyaman katakan saja padaku," kata Alehandro.


"Atau kita melakukan pemanasan saja, tidak sampai melakukannya jika kau merasa takut dan belum siap," tawar Alehandro.


Maria teringat perkataan Dara yang mengatakan jika jangan menyalahkan lelaki itu jika dia berselingkuh karena kau menolaknya.


"Jangan! Lakukan yang kau inginkan," kata Maria. Alehandro terkejut melihat kesungguhan di mata Maria.


"Kau yakin?" tanya Alehandro.

__ADS_1


"Buatlah aku melayang dan bawalah aku dalam surgamu," ucap Maria.


"Aku akan membawamu ke surga yang tidak pernah kau rasakan," bisik Alehandro.


__ADS_2