
Beberapa bulan kemudian Dara sudah mengalami kontraksi pada masa kehamilannya. Alehandro yang di kamar mandi terkejut mendengar teriakan Kaisar yang menggedor pintu kamarnya. Dia langsung mengambil handuk dan menutupi tubuhnya dengan itu. Melupakan dia sedang keramas dan belum membilasnya.
"Yah, tolong Ibu," teriak Kaisar dari pintu liar kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Alehandro membuka pintu kamar mandi.
"Ibu mau melahirkan," kata Kaisar dengan wajah tegang.
"Melahirkan. Okey aku harus pergi," kata Alehandro langsung pergi ke arah pintu.
"Yah, kau belum memakai baju," ujar Kaisar.
"Kalau begitu keluar dan suruh ibu menahan diri untuk tidak melahirkan di rumah," kata Alehandro.
"Mana bisa orang melahirkan ditunda?" kata Kaisar tetapi sudah didorong oleh Alehandro untuk keluar.
"Yah," panggil Kaisar yang ingin mengatakan bahwa masih banyak busa di kepala ayahnya.
"Sudah, nanti saja bicaranya, sekarang kau keluar dulu." Alehandro menutup pintu kamar lalu mengambil kaos dan celana training, memakainya dengan cepat.
Setelah itu dia pergi ke bawah dengan berlari. Dara sendiri sedang di dudukkan di kursi panjang. Wajahnya sudah kelihatan pucat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alehandro cemas. Dara yang sedang kesakitan jadi ingin tertawa melihat masih banyak busa dikepala suaminya.
"Kau belum menyelesaikan mandimu?" tanya Dara memegang pinggang bagian belakang.
__ADS_1
"Sudah," kata Alehandro.
Dara mengambil bisa di kepala Alehandro dan menyerahkannya.
"Itu yang kau kukatakan tadi," gerutu Kaisar.
"Ya, Tuhan aku lupa membilasnya tadi." Semua orang ikut tertawa.
"Bajumu juga terbalik," kata Dara lemah sembari meringis.
"Tunggu sebentar aku akan membilasnya. Bisakan kau menahannya untuk tidak keluar terlebih dahulu," kata Alehandro lari ke kamar dan lima menit kemudian dia telah kembali dan langsung saja mengangkat tubuh istrinya yang telah naik dua puluh kilo.
"Kau berat sekali sekarang?" kata Alehandro menahan bobot istrinya.
"Kalau begitu turunkan aku," ujar Dara tidak enak.
Dara memutar bola matanya malas. Dia selalu narsis dengan keperkasaannya yang membuat lelah Dara hampir setiap hari.
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana Dara langsung saja mendapat penanganan dan Alehandro menemaninya hingga proses persalinan selesai.
"Anaknya perempuan Pak," kata Dokter yang menolongnya setelah sang jabang bayi keluar dari perut sang ibu. Alehandro dan Dara memang ingin merahasiakan jenis kelamin anak ini sampai dilahirkan ketika di pemeriksaan sehingga berita ini membuat Alehandro bahagia. Dia menyayangi Rose dan menganggapnya sebagai anak sendiri tetapi ini adalah anak perempuannya bersama Dara dan rasanya berbeda.
"Dia mirip seperti ayahnya," kata Dokter itu.
."Tentu saja karena aku rajin mengunjunginya setiap hari," ungkap Alehandro membuat Dara menggelengkan kepalanya. Jiwa mesumnya tetap ada walau umur semakin bertambah.
__ADS_1
Setelah anak itu dibersihkan beserta ibunya. Rose dan Kaisar serta Mom Lusi di perbolehkan masuk ke dalam ruangan itu.
Alehandro sendiri tengah mengadzani anaknya dengan merdunya dan terdengar sepenuh hati. Banyak harapan yang dia panjatkan ketika membisik doa di telinga bayinya setelah melakukan itu.
Kaisar dan Rose lalu mendekati si kecil untuk melihat wajahnya. Mereka bisa melihat jika si kecil kebulean seperti ayahnya.
"Lihat dia mirip denganku. Aku yakin adikku ini akan sangat menyayangiku nantinya."
"Kenapa dia mirip denganmu," kata Rose mencebikkan bibirnya. "Ini tidak adil, dia perempuan harusnya mirip denganku."
"Kau lihat lesung pipinya seperti dirimu," kata Alehandro menengahi pertengkaran kedua anak itu.
"Ayah benar, ada yang mirip denganku."
"Ale, Dara, kalian sudah punya keluarga lengkap sekarang. Mom bahagia melihatnya. Andai saja Mom diambil hari ini oleh Sang Maha Esa Mom ikhlas karena sudah melihat semuanya senang."
"Mom, jangan begitu. Kita berharap Mok bisa menemani kami hingga Kaisar dan Rose besar lalu memberikan cucu untuk, Mom," ucap Dara.
"Ya, Mom hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian saja sekarang. Ingat kebahagiaan itu datangnya dari rasa syukur. Jika tidak pernah mempunyai maka akan merawat ketika diberi, jika pernah kehilangan maka akan bersyukur jika semuanya kembali lebih baik. Tidak ada yang sempurna dalam hidup tetapi akan menjadi sempurna jika kita bisa saling mengisi kekurangan dalam diri kita masing-masing."
Mereka semua mengangguk lalu saling berpelukan.
"Siapa namanya Mom?"
"Melati," kata Kaisar.
__ADS_1
"Lily," ujar Rose tidak mau kalah. Dara dan Alehandro hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Namanya Daisy," beritahu Alehandro membuat kedua anak itu terdiam.