Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Melahirkan


__ADS_3

Cinta menarik nafas panjangnya. Kakinya sudah mulai merasa sakit. Perutnya juga sudah merasa sedikit kencang semenjak kemarin.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Cristian khawatir melihat istrinya meringis dan wajahnya kembali memucat. Dia menanyakan hal itu setiap lima menit sekali membuat Cinta bosan untuk menjawabnya.


"Bagaimana jika kita ke rumah sakit sekarang?" tawar Cristian pada istrinya. Cinta mengusap wajah Cristian lembut setelah rasa sakit itu sedikit memudar.


"Aku bodoh karena pergi darimu dulu, jika tidak aku tidak perlu melalui persalinan sendirian." Cinta tersenyum mengingat kejadian persalinannya dahulu yang disertai oleh berbagai masalah.


"Aku yang tidak langsung mengikatmu pada malam itu. Jika tidak kau pasti sudah bersamaku semenjak dahulu. Maafkan aku yang tidak menemanimu di waktu kau menemui kesulitan," kata Cristian.


"Semua sudah takdir," ujar Cinta.


"Apa kau mau makan? Semenjak semalam kau belum juga makan sebutir nasi atau secuil roti," tawar Cristian.


"Bagaimana aku bisa makan jika perutku terasa tidak enak seperti ini." Cinta terlihat menggigit bibirnya lagi keras.


Dia memegang tangan Cristian kuat lebih kuat dari sebelumnya. Erangan kecil keluar dari bibirnya.


Lalu


Pyak!


Sesuatu mulai terdengar suaranya, seperti bunyi air yang pecah. Tempat tidur dan baju Cinta mulai basah.


"Sayang apa itu?" tanya Cristian gugup wajahnya memucat seketika terlihat panik.


"Air ketubanku pecah kita harus segera ke rumah sakit," kata Cinta.


"Kau harus ganti baju terlebih dahulu," seru Cristian berlari ke arah lemari.


"Tidak ada waktu lagi sekarang kita harus ke rumah sakit," teriak Cinta.


Cristian lalu terdiam membeku seketika.

__ADS_1


"Cristian!" teriak Cinta menyadarkan dia kembali. Cristian lalu berdiri dan menggendong tubuh Cinta yang terasa semakin berat.


"Akh!" kata Cristian ketika tubuh Cinta sudah diangkat. Tubuhnya naik dua kali lipat setelah hamil.


"Kalau kau merasa berat turunkan aku aku bisa jalan atau kau bisa memakai kursi roda Mom," tawar Cinta melihat wajah Cristian yang tegang karena menahan berat tubuhnya. Dia merasa tidak nyaman berada dalam gendongan suaminya.


"Kau sudah menggendong anakku selama sembilan bulan ini maka aku harus kuat menahan tubuhmu. Kau jangan meragukan kemampuanku!" ujar Cristian. Dia mulai membawa Cinta berjalan keluar kamar.


"Sayang, buka kamarnya!" Cinta lalu memutar knop pintu kamar.


Pintu mulai terbuka. Cinta memegang erat leher. Cristian membuat leher pria itu terasa seperti tercekik. Namun, dia menahan diri untuk mengucapkan keberatan.


"Ada apa ini? Apa kau sudah mau melahirkan Cinta?" tanya Papa Erick pada mereka. Dia memakai stelan baju tidur karena ini masih jam tiga pagi.


"Sepertinya karena ketuban Cinta sudah pecah," kata Cristian tanpa menghentikan langkahnya.


"Kalau begitu cepat sebelum lahir di jalan!" ujar Erick. Cristian lalu masuk ke dalam lift untuk sampai ke lantai satu lebih cepat.


"Slamet!" teriak Erick memanggil sopirnya dari atas balkon.


"Kau sudah berada di situ rupanya. Antar Cinta dan Cristian ke rumah sakit dengan selamat dan cepat. Mungkin satu jam lagi dia akan melahirkan," perintah Erick. Dia lalu melihat Cristian sudah berada di bawah hendak pergi bersama sopirnya.


"Aku akan menjaga Calesta di rumah semoga kalian berdua baik-baik saja," ujar Erick. "Dan semoga persalinannya lancar,'' gumam pria itu melihat kepergian anak dan menantunya. Di akhir hidupnya dia sudah merasa tenang melihat rumah tangga anak dan menantunya baik-baik saja.


Dia sempat marah dan membenci pada Cinta namun kesabaran Cinta dalam mengurus semua kebutuhan keluarganya dan mengurus istrinya membuat pikirannya berubah. Cinta memang wanita yang tepat untuk Cristian. Dia bisa mengiringi setiap langkah Cristian dengan baik dan dia juga bisa mengimbangi sifat Cristian yang kaku juga mau menang sendiri.


"Ada apa, Pah?" teriak Aura dalam kamarnya.


Erick lalu masuk kembali ke dalam kamar.


"Sepertinya menantu kita bakal melahirkan ketubannya sudah pecah," kata Erick dengan wajah yang khawatir.


"Jika aku sehat aku ingin sekali menemani persalinanannya," ucap Aura.

__ADS_1


Erick mendekat mengusap lembut kepala isterinya. "Tidak perlu, aku percaya anak kita akan bisa mengatasinya dengan baik. Kau tetap saja di rumah kita akan kesana untuk menengok cucu kita besok.''


"Ya, hanya saja Cinta pasti butuh dukungan seorang ibu sedangkan kau tahu sendiri ibunya Riska tidak terlalu memperdulikannya," ucap Aura sedikit kesal.


"Mungkin saja dia sedikit berubah kini," kata Erick.


"Tetap saja berbeda perlakuannya ke pada Bella anak kandungnya dengan Cinta yang jelas-jelas anak selingkuhan suaminya," imbuh Aura.


"Dia butuh seorang ibu untuk menenangkannya di saat sakit," lanjut Aura lagi.


"Kalau begitu besok pagi kita akan kesana bersama Calesta. Sekarang masih pukul tiga dini hari tidak baik jika kita membangunkan Callesta sepagi ini," terang Erick. Dia memahami perhatian Aura. Dari awal istrinya sangat menyayangi Cinta. Apalagi kedatangan Cinta membuatnya kembali lagi bisa berbicara dengan lancar dan bisa berjalan walau masih butuh alat untuk menopang bobot tubuhnya.


"Baiklah, tetapi hatiku cemas menunggu esok," kata Aura lagi.


Sedangkan di dalam mobil Cinta mengerang keras setiap kali rasa mulas dan kencang menghampiri dirinya. Dia memegang erat sabuk pengaman di sebelahnya dan tangan kanannya mencengkeram erat tangan Cristian sehingga kuku itu menusuk dalam ke daging Cristian. Cristian meringis kesakitan tetapi tidak mengeluarkan suara. Baginya sakit Istrinya lebih parah.


"Sakit .... ,akh... ," teriak Cinta membuat Cristian semakin panik begitu juga pak Selamet sebagai sopirnya. Mata Cinta memerah dan membesar wajahnya sudah pucat pasi dan nafasnya sudah tidak beraturan.


"Tahan yang, Sayang, Pak, lebih cepat bisa? bagaimana jika anakku nanti lahir di dalam mobil!" teriak Cristian tidak sabar. Dia me


"Iya, Tuan. Lagian kalau lahir di dalam mobil nanti bisa dinamakan Jaguar sesuai nama mobil ini," lelucon Pak Slamet mencairkan suasana yang tegang.


"Pak Slamet ini bukan waktunya bercanda," timpal Cristian.


"Kalian jangan bersuara, biar aku saja yang berteriak!" seru Cinta risih dengan perdebatan suami dan Pak Slamet.


"Tarik nafas keluarkan huft!" kata Cristian mempraktikkan apa yang dia pelajari di google tentang cara mengatasi kelahiran istri.


"Ayo tarik nafas! Huft...!" ulang Cristian yang berkali-kali menarik nafas.


Cinta memukul lengan suaminya yang terlihat cemas dan tegang. Dia tidak sadar jika masih memakai kaos dalam dan celana boxer saja.


"Sepertinya kau yang lebih butuh pengaturan nafas itu," kata Cinta geli diantara rasa sakitnya.

__ADS_1


"Ayolah Cinta kau harus melakukannya agar persalinanmu mudah," kata Cristian yang terlihat lebih tegang dan panik dari Cinta. Ini yang pertama untuknya melihat istrinya melahirkan. Dia bahkan sudah libur bekerja selama seminggu takut jika di saat Cinta membutuhkannya dia tidak ada.


__ADS_2