
"Ale putar balik, aku ingin pulang kembali ke rumah ku saja. Kau jangan khawatir karena aku bisa mengatasinya jika dia datang," ucap Dara. Alehandro meminggirkan kendaraannya.
"Tinggal saja di hotel itu lebih baik untukmu karena di sana akan ada yang mengurusmu jika kau butuh bantuan, selain itu kau bisa bersembunyi di sana dari Kris!" tawar Alehandro lagi
"Tidak! Aku bukan wanita pengecut yang akan lari dari masalah," jawab Dara.
"Aku tahu kau adalah wanita kuat." Alehandro menoleh melihat ke arah Dara lalu pandangannya kembali ke depan. "Namun, kehamilanmu
"Kalau begitu kau ikut saja aku ke rumah," tawar Alehandro.
"Tidak!" tolak Dara cepat.
Alehandro menaikkan kedua alisnya keatas.
"Kenapa!"
"Itu bukan keputusan bijak. Kau baru saja kehilangan istrimu dan membawa wanita hamil masuk ke dalam rumahmu, apa kata orang?"
"Rumahku tertutup Dara, tidak akan ada orang yang melihat atau memberi komentar," ujar Alehandro.
"Bagaimana dengan tanggapan keluarga Maria jika mereka datang menengok Kaisar dan melihat aku ada di sana? Mereka akan mengira aku wanitamu yang lain, secara kau itu mantan 'penjelajah wanita'," tanya Dara memelankan suaranya di kalimat akhir itu.
Alehandro menaikkan satu ke alisnya keatas. Stempel itu tetap ada di tubuhnya walau dia telah berubah.
__ADS_1
"Aku bisa menjelaskannya," jawab Alehandro.
"Alehandro, tinggal serumah dengan seorang duda itu tidak sesimpel perkataanmu," cetus Dara mulai terdengar kesal.
Alehandro terdiam memikirkan baik dan buruknya.
"Lebih mudah tinggal sendiri di rumahku dari pada aku tinggal di rumahmu dan jadi perbincangan orang-orang," ujar Dara.
"Jadi cuma karena itu," ujar Alehandro.
"Hummmm."
"Anggaplah aku bersedekah menolong wanita hamil ke rumah.''
"Maksudmu? Aku ini fakir miskin yang butuh uluran tangan, jika begitu mengapa kau tidak membawa semua jalanan ke rumahmu untuk kau tampung dan kau tolong. Aku baik-baik saja tanpa harus kau bantu, aku juga masih punya simpanan uang untuk hidupku satu tahun lagi walau aku tidak bekerja dan aku wanita mandiri yang bisa hidup dimana pun aku berada."
"Kau mau membawaku kemana, rumahku di belakang sana!" seru Dara. Seketika dia tahu jika Alehandro akan membawanya ke rumah pria itu.
"Hentikan, kau tidak berhak memaksaku tinggal di rumahmu!" teriak Dara. Alehandro tidak memperdulikan teriakan Dara.
"Aku ingin kembali ke rumahku!"
"Ale, kau pria menyebalkan dan keras kepala!" Berbagai sumpah serapah dan kekesalan dia katakan pada Alehandro.
__ADS_1
"Ale aku kutuk kau jadi duda selamanya jika kau memaksaku tinggal di rumahmu ... !" geram Dara namun mereka sudah sampai di pelataran rumah Alehandro.
Dada Dara naik turun, nafasnya memburu dan wajahnya yang putih berubah memerah, dia seperti singa betina yang habis bertarung dan kelelahan. Dara lalu bersandar pada kursi mobil lemas dan memegang dahinya. Ini adalah hari terburuk untuknya.
Alehandro keluar dari mobil membiarkan Dara sendiri di dalam mobil.
"Kunci pintu gerbang jangan biarkan wanita itu keluar dari rumah!" perintah Alehandro pada penjaga rumah. Dara yang mendengar mengerang marah dia lalu keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Kau mau menahanku di rumahmu!" teriak Dara mendekati Alehandro lalu memegang lengan keras pria itu dan membalikkannya.
"Jika itu diperlukan, iya. Kecuali kau mau kembali pada Kris dan dia berjanji akan mengurusmu dan menikahimu. Aku akan melepaskanmu pergi dengan senang hati. Kau boleh keluar dari rumah ini jika sudah melahirkan."
"Kau tidak berhak melakukan ini!" seru Dara dengan wajah merah padam. Nafanya terdengar memburu.
"Aku berhak atas dasar kemanusiaan. Aku tidak tahu apa yang akan menimpamu di luaran sana jika kau hidup sendiri," kata Alehandro melepaskan tangan Dara dari lengannya dan berjalan ke dalam rumah.
"Ale, ini pemaksaan dan penculikan!" ujar Dara.
"Kau boleh lapor polisi," jawab Alehandro.
"Ale ... kau menyebalkan!" ucap Dara kesal.
"Itu ada telephon kau bisa menghubungi Kris untuk menjemputmu, jika kau tidak mempunyai handphone atau tidak punya kuota," tunjuk Alehandro pada telephon yang terpajang di salah satu meja kecil.
__ADS_1
Dara membuka mulutnya lebar mendengar ejekan Alehandro. Dia itu tidak semiskin yang Alehandro katakan.
"Alehandro Cortez kau akan menyesal telah mengurungku disini!" geram Dara. Mok Lusi yang melihat pertengkaran mereka dari lantai hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apa jadinya rumah ini jika mereka bersama mungkin akan terasa ramai, tidak sepi?