Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Kau tahu jika aku merasa depresi setelah itu. Mimpiku selalu berisi tentang bayiku yang diambil dan dibunuh oleh beberapa orang, kau begitu kejam. Menuduhku sekejam itu," teriak Bella. Dua tangan David hendak menangkup pipi Bella namun di tepis kasar olehnya.


"Jangan sentuh aku!" tolak Bella dengan mata berwarna merah yang basah dan menatapnya tajam.


David menarik lagi tangannya dan memejamkan matanya untuk sejenak. Mengatur perasaannya sendiri.


"Lalu untuk apa kau datang kemari?" tanya David.


"Untuk menegaskan perasaanku sendiri bahwa hubungan kita tidak berarti lagi untukku," jawab Bella.


"Maaf ... ," ujar David.


"Untuk apa? Semua sudah berakhir, kenyataannya memang aku yang membunuh anakku sendiri, aku yang membuat sendiri susu yang bercampur zat mematikan itu. Entah siapa yang tega melakukan ini padaku!" ucap Bella penuh emosi, Bella menoleh ke samping. Uneg-unegnya rasa marahnya selama ini yang dia pendam akhirnya keluar juga.


David hanya diam. Bella lalu kembali menatap tajam pada David.


"Atau kau yang melakukannya? Karena di rumah itu hanya kau dan aku yang berada di sana?" tanya Bella.


"Mungkinkah aku melakukan itu? Akulah yang paling berharap dia datang ke dunia ini," ucap David.


"Lalu kenapa kau terlihat tidak terkejut atau kau masih mengira jika aku yang melakukannya!" Bella menutup matanya. Dadanya terasa panas dan sesak.


"Sial! Harusnya aku berpikir seperti itu dari tadi." Bella hendak berdiri dan melangkah pergi namun tangannya ditarik keras oleh David sehingga tubuhnya jatuh dalam pangkuan David.


Pria itu lalu memeluk erat Bella.


"Maaf, semua salahku dari awal. Aku tahu semuanya. Jika aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak akan mencarimu dan menunggumu datang selama ini. Aku ingin meminta maaf dan meminta kau berbaik hati menerimaku kembali. Aku juga sangat tersiksa dengan semua masalah yang ada," ucap David.


"Kau memang pandai bersilat lidah lepaskan aku," kata Bella marah berusaha untuk memberontak.


David tetap memeluknya erat dan menghirup sampho beraroma mawar dari rambut Bella. Hingga dia terkejut tatkala Bella menggigit keras bahu David.


"Akh!" pekik David Bella langsung loncat dari pelukan David dan melangkah keluar apartemen itu.


"Bella aku tidak akan berhenti hingga kau memaafkanku!" teriak David yang masih terdengar oleh Bella. Bella berlari masuk ke dalam lift. Tubuhnya jatuh luruh ke bawah ketika pintu lift mulai tertutup.


"Ada apa denganmu, Miss?" tanya seorang pria bule di sampingnya. Bella terkejut dia langsung mendongak dan melihat pria itu ikut duduk jongkok di sampingnya.


"Aku baru saja di sekap pria jahat dan aku berhasil melarikan diri," ujar Bella.


"Adakah yang bisa ku bantu?" tanya pria itu salah. Mungkin pertanyaannya adalah apa yang bisa kubantu. Batin Bella.


"No mister, aku baik-baik saja hanya saja aku perlu pergi dari tempat ini secepatnya." Pria tampan itu memperhatikan Bella. Wajahnya cantik hanya terlihat matanya terlihat sembab dan penampilannya sedikit berantakan. Mungkin benar jika seseorang telah menyekapnya.


Pria itu lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. Bella langsung meraihnya dan ikut berdiri.

__ADS_1


"Namaku Mark," ucap pria itu.


"Bella mereka biasa memanggilku seperti itu."


"Sesuai dengan namanya. Cantik, di negaraku, kami biasa memanggil wanita cantik dengan sebutan Bella," ucap pria itu tersenyum.


Bella memasukkan sebagian rembutnya ke belakang telinga. Pria ini bisa membuatnya lupa dengan kejadian yang baru dia alami.


"Kau sangat pandai merayu," balas Bella. Lift mulai berhenti di basemen tempat parkir.


"Aku harus segera pulang," kata Bella.


"Biar aku antar hingga ke mobil. Untuk keamanan mu," ucap Mark.


"Itu mobilku," tunjuk Bella pada sebuah mobil sedan berwarna merah.


"Aku sangat senang andaikan tinggal di sini tapi ternyata kau tidak menghuni apartemen di sini," kata Mark.


"Dulu aku tinggal di sini namun sekarang tidak lagi," jawab Bella. Bella lalu membuka pintu mobilnya. Pria itu lalu mengambil dompet dan menyerahkan sebuah kartu pada Bella.


"Ini kartu namaku, aku akan sangat senang jika kau mau menghubungiku. Well, aku baru saja berada di sini satu bulan. Dan aku tidak mempunyai teman yang bisa ku ajak bicara," kata Mark.


Bella lalu mengambil kartu itu menimang dan tersenyum.


"Baiklah! Aku harus pergi terlebih dahulu!" kata Bella duduk di kursi kemudi lalu menutup pintunya.


"Bajingan pria baru!" gumam Bella tidak senang. Baginya semua pria adalah seorang pencundang yang wajib hukumnya dia hindari.


***


Setelah menempuh perjalanan yang lebih dari tiga puluh menit akhirnya Bella telah sampai di rumah orang tuanya. Dia lalu keluar dari mobil dengan lesu. Berjalan melewati setiap ruangan dengan bahu membungkuk. Dia bahkan tidak sadar jika Setiawan dan Riska sedang memandanginya.


"Kenapa dengan dia?" tanya Setiawan sembari menyesap kopinya. Riska mengangkat bahunya.


"Coba kau lihat. Aku khawatir dia merasa sedih setelah melihat kebersamaan Cinta dan Cristian," kata Riska. Jika Riska lebih khawatir Bella merasa sedih ketika melihat Calesta. Itu pasti akan mengingatkannya pada kejadian lalu. Sudah lama mimpi buruk Bella tidak terjadi kini beberapa hari ini dia sering bermimpi buruk lagi.


Riska meletakkan kopinya di meja. Dia lalu berjalan naik ke atas kamar Bella. Sesampainya di pintu dia mendekatkan telinga di pintu kamar. Terdengar suara Isak tangis. Riska mendesah pelan. Sampai kapan anaknya akan menderita seperti itu?


Riska mengetuk pintu kamar Bella.


"Siapa?"


"Ini aku ibumu," jawab Riska.


Tidak lama kemudian Bella membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Hei kenapa penampilanmu kacau seperti ini?" tanya Riska menutup kembali pintu itu.


Bella memeluk ibunya erat.


"Aku tadi bertemu dengannya,Bu!" kata Bella.


"Siapa?" Riska berpikir. "David?"


Bella menganggukkan kepalanya. Riska lalu menuntun Bella duduk di pinggiran ranjang.


"Hal itu membuatmu kacau?"


Bella menganggukkan kepalanya.


"Kapan? Di mall?" tanya Riska beruntun tidak sabar.


"Aku menemukan seorang anak yang sedang tersesat, aku menggendongnya dan menidurkannya. Ayah datang dan aku terkejut ternyata dia anak David. Orang yang paling aku hindari selama ini," terang Bella. Dia selalu berkata jujur pada ibunya yang selalu bisa menjadi seorang sahabat.


"Lalu?" tanya Riska berdegub kencang.


"Dia mengatakan sedang mengurus proses perceraiannya dan ingin aku kembali!" terang Bella.


Riska berkacak pinggang nafasnya memburu dan wajahnya di tengadahkan ke atas.


"Apa jawabanmu."


"Aku menolak mentah-mentah."


"Lalu?"


"Hanya itu saja, Bu," Bella tidak mungkin bercerita jika dia pergi ke apartemennya dulu dan bertemu David di sana.


"Ibu merasa ada yang kau sembunyikan," desak Riska.


Bella menelan air liurnya sulit. Berbohong di depan ibunya itu lebih sulit dari pada soal fisika yang sangat di bencinya dahulu.


"Dia mengatakan jika dia sudah tahu semuanya," imbuh Bella.


"Lalu siapa yang menaruh obat itu?"


"Aku lupa tidak menanyakannya, Bu!"


****


like dan komen wajib...

__ADS_1


besok Senin Vote yah....


__ADS_2