Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Membuat Cucu


__ADS_3

Maria tertidur dalam pelukan Alehandro. Pria itu terlihat puas. Dia mencium kening Maria, lalu mengusap lembut pipi Maria.


Alehandro teringat permintaan Maria sebelum mereka menyatukan tubuh.


"Jangan pernah tinggalkan aku karena mulai hari ini aku akan mencintaimu hingga akhir nafasku."


Sebuah permintaan yang tulus dan membuat Alehandro terharu. Tidak pernah ada wanita yang mengatakan hal itu padanya.


"Aku berjanji akan melindungimu dan mencintaimu hingga akhir nafasku," bisik Alehandro di telinga Maria. Dia lalu ikut memejamkan matanya.


Maria bangun ketika merasakan sesuatu mengganggunya. Sesuatu yang basah bergerak di punggungnya. Dia merasa geli tetapi darah dalam tubuhnya mengalir lebih cepat.


"Ale ... ," desah Maria.


"Kau sudah terbangun, Sayang," kata Alehandro lalu meletakkan dagunya di bahu Maria yang terbuka.


"Kau mengganggu tidurku," sungut Maria.


"Ini sudah siang," jawab Alehandro.


Maria langsung membuka matanya dan terkejut. "Akh! Kenapa kau tidak membangunkan dari tadi," kata Maria kesal.


"Kau terlihat lelap tidurnya jadi aku tidak tega membangunkanmu."


"Bagaimana dengan Mom? Apa dia tidak akan mencari kita?" tanya Maria.


"Dia akan mengerti," jawab Alehandro sembari mengecup tulang punggung wanita itu.

__ADS_1


"Ale, apakah semalam masih belum cukup?" tubuhnya menggeliat mendapat serangan bertubi dari suaminya.


"Tidak akan pernah," jawab Ale.


"Aku masih sakit," kata Maria merajuk. Alehandro mengerang kecil dan menghentikan kegiatannya.


"Ya sudah, hingga kau baikan," ujarnya.


Maria tersenyum tetapi senyum itu hilang ketika bibirnya di sambar oleh Alehandro. Mereka saling memagut hingga nafas mereka terengah-engah. Setelah itu bibir Maria terasa kebas dan bengkak.


Ibu jari Alehandro mengusap bekas Saliva mereka di sekitar mulut Maria.


"Sekarang kita mandi," kata Alehandro menyibak selimut Maria membuat wanita itu memekik malu dan menutupi bagian inti tubuhnya.


"Ale!" katanya keberatan.


"Aku bisa sendiri!" kata Maria hendak bangkit tetapi dia merasa seluruh tubuhnya sakit terutama bagian inti.


"Kau itu wanita yang keras kepala. Biarkan aku membantumu." Dia lalu langsung meletakkan tangannya di bawah tengkuk dan lutut Maria dan mengangkatnya.


"Tanpa pakaian," tanya Maria dengan wajah memerah.


"Istri adalah pakaian suaminya dan suami adalah pakaian istri," ucap Alehandro tersenyum lebar.


"Itu hanya perumpamaan," jawab Maria.


"Tetapi itu juga sebuah kebenaran."

__ADS_1


***


Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar pukul sepuluh pagi. Dengan malu Maria memegang lengan baju Alehandro menuju ruang makan.


Sebenarnya Alehandro ingin menggendongnya ke ruang makan tetapi Maria bersikeras bahwa dia bisa berjalan sendiri. Akhirnya, walau sedikit merasa tidak nyaman dengan bagian pangkal pahanya Maria tetap berjalan dengan pelan.


"Ehmm ... ." Terdengar suara deheman ketika mereka melewati ruang keluarga.


"Mom!" panggil Alehandro. "Kami mau makan pagi," kata Alehandro canggung. Maria berdiri membeku.


Lusi menganggukkan kepalanya. "Apa kau tidak pergi bekerja?"


Alehandro melihat ke arah Maria, lalu mereka saling menatap. "Dia sedang sakit, Mom?"


"Sakit? Jika sakit kenapa kau tidak membawanya ke dokter dan mengapa kau malah membiarkannya makan pagi hingga hampir masuk waktu makan siang," cetus Lusi khawatir.


"Mom, kau tahu itu... ." Alehandro menghentikan kata-katanya dan berharap ibunya mengerti apa yang dikatakannya.


Lusi menaikkan dua alisnya keatas dan menggerakkannya bersama-sama.


Alehandro menghembuskan nafas keras.


"Mom, ini malam pertama kami dan kami dalam proses membuatkan mu cucu, jadi berhentilah bersikap tidak tahu!"


Lusi menutup mulutnya lalu membalikkan tubuh tertawa.


"Kalian boleh makan kapan saja asal berikan aku cucu secepatnya, jika perlu hubungi Mom untuk mengantarkan makanan ke kamar kalian!"

__ADS_1


Wajah Maria memerah dia langsung mencubit pinggang Alehandro keras. "Kenapa harus jujur?" sungutnya kesal dan malu.


__ADS_2