
"Kau itu sama seperti ayahmu mengapa harus menyukai wanita dari strata sosial yang lebih rendah dari kita," kata Kakek Wasesa di ruang kerja milik Sheila.
"Kakek, aku menyukainya pada saat itu," jawab jujur Kris.
"Lalu siapa yang akan kau pilih?" tanya Wasesa.
"Aku ingin keduanya tetapi Sheila tidak ingin dimadu," kata Kris.
"Bagus! Bagaimanapun Sheila adalah istri sah mu kau tidak bisa membuangnya begitu saja. Kau tidak menemukan celah kekurangannya kan? Orang tua itu selalu berpikir terlebih dahulu sebelum menjodohkan.
"Melihat bibit, bebet, bobot. Melihat dia berasal dari keluarga baik-baik, tingkah lakunya sopan dan terpuji walau dia tadi marah-marah tapi untuk melindungi ibumu artinya dia tidak memandang dari mana ibumu berasal, trus bobot, dia dari keluarga terpandang, anak salah satu pembesar negeri ini. Kakek tidak sembarang memilihnya untukmu lho!" kata Wasesa dengan logat jawanya yang kental.
"Bandingkan dengan Dara, entah dia dari keluarga mana, entah keturunan mana, apakah dia wanita baik-baik atau bukan? Tetapi waktu membuktikan jika ternyata dia bukan wanita baik-baik karena mau hidup dengan pria tanpa pernikahan, gadis guoblok! Bukan kau yang salah, dia yang salah karena tidak menjaga dirinya sendiri. Kakek pikir mungkin orang tuanya bukan orang baik-baik atau dia anak yang lahir diluar nikah makanya dia tenang saja ketika hamil tanpa suami. Wanita benar pasti akan malu dan terhina. Kau mengerti!" ujar Wasesa.
Kris hanya menunduk. Dia tidak bisa membela Dara semua yang kakeknya katakan benar adanya tetapi Kris tahu jika Dara adalah wanita baik.
"Bukan masalah bobot atau dia dari keluarga miskin tetapi kakek ingin punya keturunan yang baik-baik lahir dari rahim yang terjaga."
__ADS_1
Bagaimana jika kakeknya tahu jika Sheila pun bukan wanita sesempurna yang kakeknya bayangkan? Namun, sampai kapanpun dia tidak akan pernah mengatakan rahasia ini pada siapapun. Sebab dia tahu jika pasangan kita adalah pakaian kita jadi kita harus menjaga kehormatannya juga.
"Lalu mengapa kakek tidak menerima ibu sebagai menantu?'' tanya Kris.
"Karena ego ibu dan ayahmu begitu besar, jika ibumu wanita baik-baik, dia pasti akan mengajak ayahmu untuk meminta maaf. Tetapi tidak ibumu hanya mengambil ayahmu, anak yang telah dibesarkan selama tiga puluh tahun lebih. Dia memilikinya sendiri hingga ketika ayahmu sakit dan wafat ibumu, dengan tega tidak memberitahukan hal ini pada Kakek!" Wasesa menghapus setitik air di pelupuk matanya yang telah keriput.
"Aku dan nenekmu sakit hati karena kehilangan putra kami tetapi lebih sakit lagi ketika kabar kematian datang menghampiri!"
"Mau tahu rasanya mendengar berita kematian anak yang engkau sayangi dan kau banggakan? Sakit, seakan dunia mau runtuh." Wasesa memukul dadanya.
''Haruskah orang tua yang meminta maaf terlebih dahulu?" Wasesa menangis tubuhnya bergetar mengenang ketika Savitri datang membawa Kris dan membawa berita kematian anaknya. Kris menggelengkan kepalanya.
"Andai saja ibumu mau memberitahu keadaan ayahmu ketika sakit dan memberitahuku pasti ayahmu masih hidup hingga saat ini!" ujar Wasesa.
Brak!
Pintu terbuka lebar. Savitri berdiri di pintu dengan berurai air mata.
__ADS_1
"Ayah mertua bukan aku ingin menyela tapi aku ingin menegaskan sesuatu. Aku sudah mengatakan pada suamiku untuk meminta maaf pada kalian, tetapi suamiku mengatakan Bagaimana bisa orang sendiri dijadikan asing oleh keluarganya,' karena itu dia tidak ingin mengunjungi kalian dia merasa sangat bersalah dan katanya kesalahan itu tidak bisa diampuni. Hingga akhir kematiannya dia masih mengatakan, untuk menyampaikan permintaan maaf pada kalian, orang tuanya," tutur Savitri.
"Lalu mengapa kau tidak mengabari pada kami jika dia sedang sakit parah!"
"Dia takut jika karena alasan untuk kesembuhannya, kau membuat permintaan untuk meninggalkan, aku dan Kris jadi dia tidak ingin memberitahumu," Isak Savitri
"Karena rasa bersalah itu dia berwasiat padaku untuk menyerahkan Kris kepadamu sebagai penggantinya," ucap Savitri mengusap air yang keluar dari lubang hidungnya.
"Untuk alasan itu aku menyerahkannya padamu, kau telah kehilangan anakmu maka aku membayar kehilangan itu dengan kedatangan Kris. Aku rela... aku rela ... bukan karena ingin kau menjadi hebat Kris, bukan tetapi ibu ingin kau menjadi pengganti ayahmu untuk bisa meringankan beban kakek dan membuatnya bangga karena telah memilikimu," terang Savitri.
"Aku bangga ketika melihat kau bisa menjadi apa yang ayahmu inginkan. Aku senang ketika melihat senyum di kakekmu setidaknya beliau
bahagia bisa memilikimu. Kini tugasku telah selesai sebaiknya aku pergi dari sini. Kris!"
"Ibu sudah cukup melihatmu dari jauh Kris!" ucap Savitri. Kris mendekati ibunya dan memeluk wanita itu erat.
"Ibu aku tidak ingin kehilanganmu lagi!'' kata Kris.
__ADS_1
"Kakek bisakah aku meminta ikhlasmu untuk merelakan kepergian ayah dan memaafkannya, agar aku bisa hidup bersama Ibu. Aku sangat merindukan dan mencintainya," mohon Kris dengan wajah yang basah dengan air mata.