
Seperti biasanya Maria pergi ke dapur untuk memasak untuk makan malam suaminya. Tetapi kondisi tubuhnya terasa sangat lemah belum lagi rasa sakit yang menyerang perutnya semakin hari semakin terasa. Rasanya seperti kencang dan mulas sekali.
Maria takut untuk mengatakan hal ini pada Alehandro mengingat kondisi ibu mertuanya yang sedang tidak sehat. Mertuanya sedang mengalami sesak nafas karena kerja jantungnya melemah dan sempat di rawat di rumah sakit. Tetapi sekarang keadaan mertuanya mulai membaik.
Maria tidak mau membebani pikiran Alehandro jadi dia memendam rasa sakitnya sendiri. Pikirnya mungkin ini efek dari rasa lelah yang dideritanya atau mungkin juga pikirannya tegang karena semua permasalahan ini.
Maria menghembuskan nafasnya berkali-kali untuk menyingkirkan rasa sakit diperutnya. Seorang pelayan datang menghampirinya.
"Nyonya Besar sudah meminum obat dan berbaring di kamarnya, Nyonya," kata pelayan itu.
"Ya, sudah kalau begitu kau bersihkan kamarnya saja jika sudah kau menunggunya saja sembari istirahat nonton TV atau apa di kamar Mom. Supaya jika Mom membutuhkanmu kau selalu ada di sisinya," ujar Maria.
"Iya, Bu nanti sore saya baru akan bergantian dengan pelayan yang lainnya untuk menjaga Nyonya Besar."
"Bagus!" kata Maria. Rasa kencang di perutnya kembali lagi terasa. Maria memegang sisi meja untuk menahan tubuhnya.
"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" tanya pelayan itu khawatir.
"Perutku hanya merasa sedikit sakit," jawab Maria.
"Apakah saya perlu menghubungi Tuan sekarang?" tanya pelayan itu.
"Tidak perlu! Dia sedang ada rapat penting dengan pemegang saham lainnya," cegah Maria.
"Tetapi Nyonya?"
Seorang pelayan lain masuk ke dalam dapur lagi.
"Nyonya ada tamu seorang wanita, yang artis itu Nyonya," kata pelayan itu.
Maria mengernyitkan dahinya. "Untuk apa lagi dia kemari," batin Maria. Dengan memaksakan diri Maria berjalan ke ruang tamu. Rasa sakit yang menyerang perutnya membuat keringat dingin membasahi tubuh.
"Mau apa kau kemari lagi?" tanya Maria tidak senang ketika melihat Natalia datang membawakannya beberapa tas dengan merk baju terkenal.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Entah mengapa hatiku ingin menemuimu. Aku membawakan beberapa pakaian hamil yang mungkin kau suka, aku harap kau menerimanya. Hanya itu saja." Natalia menatap sendu Maria. Dia lalu menghela nafas.
"Melihat keadaanmu baik-baik saja sudah cukup untukku," ujar Natalia.
__ADS_1
Maria ingin mengatakan sesuatu tetapi rasa sakit diperutnya semakin menjadi.
"Wajahmu terlihat pucat Maria apakah kau dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Natalia khawatir. Perasaannya tidak enak sedari seminggu memikirkan keadaan Maria. Suara hati menarik dirinya agar melihat keadaan Maria saat ini.
Natalia hendak mendekati Maria tapi tangan Maria direnggangkan.
"Jangan dekati aku!" ujar Maria memegang perutnya sembari meringis.
"Maria kau butuh ke Dokter?" ujar Natalia khawatir. "Dimana suamimu apakah diabtahu keadaanmu saat ini!" tanya Natalia.
"Tidak usah sok peduli dengan rasa sakitku pada kenyataannya kau hanya berpura-pura semata," ucap Maria. Dia memejamkan matanya menahan rasa sakit yang malah semakin bertambah. Pandangannya lama-lama memudar akhirnya Maria tidak dapat lagi menahan berat tubuhnya sendiri tubuhnya mulai oleng.
Natalia yang melihat langsung mendekat ke arah Maria dan menangkap tubuhnya. "Siapapun tolong aku!" teriak Natalia khawatir.
Matanya memerah takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada putrinya yang baru dia temukan.
Orang-orang dalam rumah itu segera datang ke ruang tamu mereka sangat panik dan terkejut.
"Tolong angkat dia dan bawa ke mobilku cepat!" perintah Natalia. Mereka lalu mengangkat tubuh Maria dan membawanya ke mobil.
"Sopir, aku butuh seseorang untuk membawa kendaraan ini aku akan berada di belakang saja bersama Putriku," kata Natalia membuat semua orang saling menatap. Mereka baru tahu jika artis itu adalah ibu dari Nyonya mereka.
"Saya yang akan menyetir No eh Nyonya," kata seorang pria tua. Natalia menganggukkan kepalanya. Pria itu lantas masuk ke ruang kemudi.
"Jangan beritahu pada Nyonya kalian karena aku mendengar jika dia sedang sakit
Aku takut akan memperparah penyakitnya. Beritahukan saja pada Alehandro jika aku akan membawanya ke rumah sakit terdekat," perintah Natalia.
Natalia lalu menutup pintu mobil dan mobil mulai melaju keluar rumah. Dia lalu melihat wajah Maria yang ada di pangkuannya.
Tangannya dengan bergetar mengusap lembut wajah ayu putrinya untuk pertama kali setelah sekian lama berpisah.
"Sayang, aku takut terjadi apa-apa denganmu," ucap Natalia memeluk erat kepala Maria. Rasa rindu yang dipendamnya selama ini akhirnya terlupakan. Walau Maria dalam keadaan tidak sadar tetapi dia sangat bersyukur bisa memeluk kembali putrinya. Putri yang telah ditinggalkannya dua puluh tahun yang lalu.
Natalia lalu menciumi wajah Maria dengan penuh kasih sayang. Mengusap keringat yang keluar dari tubuh itu dan menatapnya lagi.
"Ibu tidak akan sesuatu yang buruk akan terjadi padamu. Maafkan Ibu karena telah meninggalkanmu," gumam Natalia dengan suara parau dan serak.
__ADS_1
"Perlu kau ketahui bahwa semua yang kau pikirkan adalah salah karena setiap Ibu pasti menyayangi putrinya," Natalia lalu menangis terisak memeluk Maria erat.
"Ya, Tuhan maafkan kesalahanku dan lindungi putriku selalu. Biar rasa sakitnya aku saja yang merasakan tapi tidak dirinya," batin Natalia.
Air mata Natalia membasahi wajah Maria. Maria lalu membuka matanya, rasa pusing masih menderanya dengan hebat.
Dia bisa melihat wajah Natalia yang basah oleh air mata ada di hadapannya.
"Kau tidurlah terlebih dahulu sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Jangan khawatir aku akan menemanimu," ucap serak Natalia.
Tubuh Maria yang tidak karuan membuat dia tidak bisa mengucapkan apapun. Matanya lalu kembali lagi terpejam.
"Bisakah dipercepat?" tanya Natalia pada sopir itu.
"Jalanan sedikit macet Nyonya, kita harus bersabar," ucap sopir itu.
Natalia melihat ke sekelilingnya. Banyak kendaraan memadati jalan sehingga mobil mereka berjalan sangat lambat.
"Sayang bertahanlah," ucap Natalia lagi.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sedikit lama dari waktu yang ditentukan mobil itu berhasil mencapai sebuah rumah sakit besar terdekat. Mobil langsung berhenti di pintu IGD.
Sopir itu langsung keluar mobil. Satu perawat mulai mendekat.
"Tolong brankarnya kondisi pasien tidak sadarkan diri," kata sopir itu sembari membuka pintu penumpang.
Para perawat dan petugas mulai bergerak cepat mengambil tindakan pertolongan untuk Maria.
Mereka segera membawa Maria ke ruang IDG dengan brankar.
Seorang Dokter muda datang mendekat.
"Dia sedang dalam keadaan hamil Dok," terang Natalia cemas.
"Baiklah, kami akan memulai proses pemeriksaan terhadapnya dan mencari tahu apa penyebab sakitnya," kata Dokter itu.
Dengan hati yang cemas Natalia bolak-balik menunggu di luar ruangan pemeriksaan. Alehandro langsung mendatangi rumah sakit setelah diberi kabar jika Maria pingsan di rumah. Wajahnya terlihat pucat dan berantakan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan sehingga membuatnya pingsan!" geram Alehandro pada Natalia. Dia pikir Natalia membuat Maria pingsan dan terbaring lemah karena stres yang dialaminya.
.