
"Kau pasti sangat mencintai anakku hingga rela berkorban seperti ini," ujar Savitri.
"Berkorban bagaimana Bi? Aku hanya mengikuti hati nuraniku saja. Selama ini aku tidak pernah mempunyai tempat tinggal tetap, hanya Kris yang mengenalkanku dengan kata 'Pulang'. Kata itu membuat hatiku merasa hangat karena aku seperti menemukan mimpiku," Dara menghela nafasnya.
"Dia juga pernah menolongku dari perdagangan manusia jika tidak aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang. Dia memelukku sehingga aku merasa terlindungi sesuatu yang belum pernah aku rasakan hingga saat ini," cerita Dara dengan suara tercekat. Matanya memanas seketika.
"Ketika Kakek Kris memintaku untuk menjauhi Kris aku melakukannya karena seperti mu, aku juga ingin yang terbaik untuk Kris,"
"Terbaik? Tetapi apakah Kris sadar jika kau melakukan yang terbaik untuknya?" Savitri menyentuh lembut dagu Dara.
"Tidak perlu tahu karena aku sudah mengikhlaskannya," ucap Dara. Savitri mengusap pelan rambut Dara.
"Mungkin aku kehilangan anakku namun aku menemukanmu untuk kujadikan pengganti Kris jika kau bersedia," tawar Savitri. Dara tersenyum terharu menatap Savitri dan memeluknya pelan.
"Kalau begitu boleh kupanggil Ibu? Aku ingin mengerti rasanya memiliki Ibu!"
"Tentu saja boleh." Dari awal bertemu Dara dia sudah merasa cocok ternyata dia memang dikirimkan Tuhan untuknya.
Awal Dara bertemu dengannya ketika dia berkenalan dengan seluruh tetangga di sini. Dia terkadang datang ke rumah dengan membawa makanan atau jajan. Savitri yang memang hanya tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya merasa terhibur dengan kehadirannya. Dara lalu bercerita jika dia membutuhkan pekerjaan dan Savitri mengajak Dara untuk bekerja di cafe dan restoran milik Ray, anak adiknya. Semenjak itu hubungan keduanya yang baru berjalan selama sebulan lebih menjadi lebih akrab.
"Ini sudah malam tidurlah," ucap Savitri.
"Besok ikut kondangan Ibu yuk, ke pernikahan keponakan Ibu."
"Yang tadi Bi eh Ibu bicarakan bersama Ray?" tanya Savitri.
"Ya," jawab Savitri.
"Baiklah," jawab Dara. Savitri berdiri dan menepuk kepala Dara penuh kelembutan.
"Jika kau butuh apa-apa langsung saja masuk ke rumah Ibu," kata Savitri lagi sebelum meninggalkan rumah Dara.
Sepeninggal Ibu Kris Savitri berjalan kembali ke kamarnya dengan gontai. Kerinduannya memang telah terjawabkan tetapi tidak seperti yang dia bayangkan.
Kris memang terlihat bersama seorang wanita yang lebih cantik dan lebih semuanya dari dirinya. Apalah dia jika dibandingkan wanita itu.
Dara membaringkan tubuhnya sembari memandangi bantal guling yang dia pakaikan baju milik Kris. Menganggap bahwa itu adalah diri Kris.
"Aku senang kau telah memiliki penggantiku setidaknya kau telah memiliki kebahagiaanmu yang lain. Selamat Kris semoga kau mendapatkan semua keinginanmu," ucap Dara mencium bantal itu dan mulai pergi tidur.
***
__ADS_1
Acara pernikahan saudara Ray yang bernama Rita berlangsung meriah di sebuah hotel berbintang. Dara, Savitri serta keluarga Ray menjemput mempelai wanitanya dari rumah dan mengantarkan hingga ke hotel.
Di sana, Dara lalu di perkenalkan ke seluruh anggota keluarga. Mereka mengira Dara adalah calon istri dari Ray dan diterima dengan baik oleh seluruh keluarga.
Ibu Ray yang merupakan adik dari Ibu Kris juga terlihat sangat menyukainya.
"Wah kalau Ambu setuju ma pilihanmu yang ini," bisik Ibu Ray, Ella, pada Ray. Ray hanya melirik senang pada Dara.
"Sayangnya dia cuma temanku, Ambu," jawab Ray.
"Masa sih, tapi kalian terlihat sangat dekat. Bibimu juga terlihat sangat dekat dengannya jadi ibu bisa menebak jika Dara itu anak baik-baik. Akh kalian cepat menikah saja biar Ambu cepat menimang cucu," bujuk Ella pada Ray.
"Ambu ... ," panggil Ray keberatan.
"Sok atuh sebelum diambil orang lain. Mana dia cantik pasti banyak pria yang melirik," kata Ella sembari makan kue yang ada ditangannya.
Ray menatap Dara yang sedang tertawa bersama Savitri dan beberapa kerabat mereka.
Dia menghela nafasnya.
Pria semalam tadi apakah masih akan mengejar Dara? Dilihat dari penampilannya dia tahu pria itu bukan orang sembarangan. Dia pasti dari kalangan pengusaha papan atas.
"Dara kau terlihat tidak sehat," ujar Savitri khawatir.
"Entahlah Bu, kepalaku terasa sangat pening,"' jawab Dara memegang kepalanya.
"Ya, sudah kau pulang bersama Ray saja terlebih dahulu. Masih ada beberapa hal yang harus Ibu lakukan di sini," ujar Savitri. Di saat yang sama Ray datang menghampiri.
"Ray, kebetulan kau kemari. Bibi minta tolong agar antarkan Dara pulang kembali ke rumahnya. Dia terlihat tidak sehat," ujar Savitri.
"Tidak usah biar aku menunggu Ibu disini, nanti bagaimana dengan Bibi dan orang tua Ray jika kami pulang terlebih dahulu," ujar Dara.
"Kau jangan khawatir kami bisa mengurus diri kami," ujar Savitri tersenyum.
"Tetapi?"
"Tidak usah pakai tetapi turuti aku jika kau menganggapku sebagai ibumu. Ray antar anakku ini pulang," kata Savitri.
"Ha!" Ray memandangi Dara tidak mengira jika Bibi Savitri menganggap Dara putrinya. "Oh, ya!"
Ray lalu menggandeng Dara pergi berpamitan pada anggota keluarga yang lain. Tanggapan semua orang yang mengira mereka salah pasangan yang serasi membuat Ray bahagia.
__ADS_1
Sedangkan Dara tidak terlalu memperhatikan karena kepalanya seperti mau pecah. Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala pada semua orang.
Sesampainya di luar Ray mengambil mobilnya terlebih dahulu sedangkan Dara menunggu di luar beberapa wanita muda yang mengenal Ray dan Dara langsung menghampiri.
"Wah, jadi ini calonnya Ray," kata seorang wanita muda. Dara hendak menjawab tidak tetapi dia melihat Kris sedang berjalan keluar dari dalam hotel. Langkah kaki menelan seketika ketika melihat Dara. Pandangan mereka saling bertemu.
"Mengapa harus bertemu lagi?" batin Dara.
"Kapan kalian menikah?" tanya wanita yang lain.
"Iya, Teh Rita yang lebih muda saja sudah menikah masa Kak Ray kalah?" ujar yang lain.
Dara hanya tersenyum menanggapi semuanya. Seseorang mulai merangkul pundak Dara.
"Iya, Kak. Kalian terlihat cocok jika bersama, sama-sama tampan dan cantik." Dara melirik ke arah Kris yang membuang muka.Tetapi terlihat jelas jika pria itu marah dari raut wajahnya yang mengeras. Hati Dara mendesir tidak enak.
Mobil Ray lalu mendekat ke arah kerumunan itu. Ray keluar dari mobil dan melihat Kris sedang berdiri tidak jauh dari Dara.
Ray lalu meletakkan tangannya ke pinggang Dara membuat Dara terkejut dan memandang ke arahnya.
"Wah, kalian sangat mesra sekali. Aku dengar Kak Ray akan segera menikah dengan Kak Dara ini ya?" tanya wanita muda tadi. Ray melirik ke arah Kris.
"Doakan saja," jawab Ray.
"Dara ayo kita pulang," ujar Ray menggiring Dara untuk berjalan ke mobilnya.
"Aku pergi dulu ya!" pamit Dara, tersenyum pada semua orang.
"Ye, Kak Ray. Kami masih ingin mengobrol dengan Calon Kakak ipar malah dibawa pergi," ujar para wanita itu dengan muka ditekuk.
"Besok saja jika sudah resmi kalian bisa berbicara dengannya sesuka hati kalian," seru Ray sembari membuka pintu mobil untuk Dara. Dara mencubit pinggang Ray.
"Aww sakit Dara, pelan-pelan cubitnya," ujar Ray sengaja berteriak keras agar Kris mendengarnya.
"Ih, mesranya," tanggap yang lainnya.
Kris hanya bisa mengepalkan tangannya erat. Seharusnya dia bahagia melihat Dara bahagia dengan pria lain. Dia juga terlihat diterima dengan baik di keluarga pria itu. Namun, suara hatinya tidak bisa di bohongi, terasa sakit dan tidak rela jika Dara dimiliki orang lain.
Keinginannya untuk bertemu dengan Dara akhirnya sirna juga. Dia akan sangat egois jika memaksakan diri untuk memiliki wanita itu. Dara lebih baik bersama pria itu dibanding dengan dirinya. Dara akan mempunyai keluarga yang akan mencintai dan menerimanya dengan sepenuh hati.
Level tertinggi dari cinta adalah bisa melihat senyum bahagia dari orang yang kita cintai walau senyum itu bukan ditujukan untuk kita tetapi untuk orang lain. Mencintai tidak harus memiliki.
__ADS_1