
Bella kira dia akan di bawa pergi ke apartemen mereka. Ternyata tidak jalan ini berbeda. Dia ingin bertanya namun dia enggan. Dia lebih baik diam melihat ke luar jendela. Dia takut jika David akan memeluknya lagi. Dia pernah bersumpah untuk membenci pria ini seumur hidup.
Mobil berhenti di sebuah gerbang tinggi terbuat dari kayu berwarna cokelat. Bangunan itu di tembok tinggi di semua sisinya sehingga orang tidak bisa melihat rumah dari luar. Beberapa detik kemudian pintu terbuka sendiri ketika sopir memencet tombol remot.
Mobil seketika masuk ke dalam halaman rumah. Bella bisa melihat bentuk rumah itu. Rumah itu di desain minimalis modern dengan banyak tembok terbuat dari kaca sangat indah. Bagian depannya hanya berupa rumput dan lantai ubin yang membelah halaman dan melingkar dengan lebar satu meteran mengelilingi rumput. Mirip sebuah lapangan. Beberapa pohon palem di tanam di pinggiran pagar tembok sehingga terlihat rimbun dan hijau. Bagian latar rumah dekat dengan pintu masuk ada beberapa pohon anggrek di tata dalam beberapa pot bertingkat. Warna warni bunga yang ada memikat hati yang melihatnya. Ada juga beberapa pot bunga besar yang berisi Philodendron Micans, Opuntia Monacantha Variegata dan Monstera.
Beberapa pelayan yang berada di depan pintu membentuk barisan lurus bersiap menyambut Nyonya rumah mereka.
David membuka pintu mobil. Bella menatapnya tajam tapi enggan untuk keluar dari dalam mobil.
"Mau ku gendong lagi?" Bella mendengus keras berjalan mendahului David. Dia menghirauman sapaan para pelayan. Sesampainya di ruang tamu dia menghentikan langkahnya.
David yang berada di belakangnya hanya tersenyum senang memandangi wanitanya telah kembali ke rumah mereka. Sejenak dia menebak apa yang akan dilakukan Bella. Perasaan takut dia tidak menyukai tatanan rumah ini mengusik pikirannya sekarang tatkala mata Bella menyelusuri setiap sudut rumah.
"Di mana kamarku?" Dia masih menahan diri untuk tidak membuat keributan di hadapan para pelayan yang berjejer dan pengawal yang berjaga di depan pintu. Dia tahu etika ini dari ibunya. Jika pun ayah dan ibunya bertengkar mereka akan menyelesaikannya di kamar tanpa ada seorang pelayan pun tahu.
"Kau sudah tidak sabar rupanya," ledek David. Dia menarik tangan Bella dan membawanya menaiki satu demi satu anak tangga yang melingkar ke atas terbuat dari kayu.
"Rumah ini dulunya milik Cristian tapi aku merenovasi total. Tidak dengan bagian tangga ini. Ini terlihat astetik. Kau akan menyukai kamarnya," ucap David. Mereka lalu telah berada di lantai dua.
__ADS_1
"Lantai ini terbuat dari kayu ek merah asli sengaja Cristian impor dari Amerika. Aku beruntung membelinya," kata David menerangkan bagian perbagian rumah itu. Lukisan yang di gantung hingga lampu gantung dan semua perabot antik miliknya.
Bella masih terdiam, dia masih sangat marah kali ini tapi pria ini malah membicarakan hal yang tidak penting mengenai rumah ini. Ini indah hanya saja dia ingin pulang saat ini juga. Dari balkon atas dia bisa melihat beberapa orang berjaga di luar pintu utama. Kini dia merasa seperti dikurung di sebuah rumah mewah.
Pintu kamar di buka. Lampu di biarkan menyala temaram. Beberapa foto Bella terlihat ketika dia berdiri di pintu kamar. Dua tangan David berada di bahu Bella.
"Ini ku beli hanya untukmu, semua ini aku rancang hanya untuk menunggu kau datang dan melihatnya. Rumah tak bernyawa tanpa hadirnya pemilik dari rumah ini. Dan kau pemiliknya," bisik David di telinga Bella.
Tubuh Bella menegang, tangannya mengepal keras, dan matanya memerah memandangi foto besar gambar dirinya dan David yang sedang berpelukan di apartemen.
"Kenapa kau menginginkan aku datang kembali lagi. Apakah hanya untuk menghancurkan aku untuk kedua kalinya?" ucap Bella lirih dan dengan suara serak. Bahunya merendah kepalanya tegak memandang lurus ke depan.
Dua tangan David menyelusuri tangan Bella dari atas hingga bawah mengurai kepalan tangan Bella sehingga jari-jari tangan mereka saling bertautan.
"Kau tidak perlu menyangkal, aku tahu kau tidak mau anak ini karena ingin pergi dariku setelah perjanjian kita habis. Ibu benar mengatakan bahwa yang kau inginkan hanya hartaku saja,"
Ingatan Bella kembali ke masa lalu. Saat David serta merta menuduhnya tanpa bertanya terlebih dahulu. Dia lalu melepaskan tangan David dan bergerak maju.
David hanya berdiri mematung menggenggam tangannya. Bella membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak David, aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa, aku bukan wanita yang gila harta yang akan dengan mudah bertekuk lutut di hadapanmu lagi setelah kau menuduhku membunuh calon anak kita dan menuduhku hanya mencintai hartamu saja. Itu tuduhan keji yang tidak bisa kulupakan. Aku membencimu sangat membencimu," teriak Bella dengan mata penuh kebencian yang dilayangkan kepada David, sembari melangkah mundur hingga terantuk tempat tidur.
"Maaf, waktu itu aku terbawa emosi sehingga tidak bisa berfikir dengan akal yang sehat. Setelah hatiku tenang aku menuju ke apartemen kita dan mencek sisi TV yang ada. Aku melihat tukang bersih-bersih rumah kita mencampurkan bubuk obat ke susu milikmu. Beberapa hari kemudian dia datang lagi untuk membersihkan rumah. Tapi dia pergi ke kamar dengan membawa botol obat itu ke arah kamar. Tepat di mana aku menemukan obat itu di laci kamar kita."
"Semua sudah terlambat, walau aku tahu pelakunya aku tetap ingin kita berpisah. Aku jera hidup bersama denganmu!" ucap Bella.
"Aku akan membiarkan kau sendiri di kamar ini terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Aku tidak akan menguncinya. Jika kau mau mencariku aku ada di kamar sebelah. Kita bicarakan masalah ini lagi esok hari ketika kau sudah lebih tenang."
"Kau tidak akan bisa kemana-mana karena aku memasang CCTV di semua sisi dalam rumah."
David lalu membalikkan tubuh berjalan keluar ruangan menutup pintu. Hatinya sakit dan perih melihat kebencian dan penolakan Bella. Dia akan bertahan, toh dia yang telah menyalahi Bella terlebih dahulu.
Bella menatap ke seluruhan ruangan ini. Menatap kain korden yang menutupi jendela kaca yang tinggi mengarah ke bagian balkon kamar David.
"Apakah benar ini David beli untukku. Lalu Sofi mengapa mereka ingin bercerai. Bella harap alasannya bukan karenanya," gumam Bella.
***
Like ...
__ADS_1
Vote .
Komentar