Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Adik Baru


__ADS_3

Walau mertuanya tetap bersikap acuh tapi tidak membuat David patah arang. Dia memang butuh pendekatan khusus. Bagaimanapun dia adalah seorang ibu yang pernah terluka. David mengerti itu.


Mereka berempat lalu berbincang-bincang tapi David yang masih dalam pengaruh obat menguap karena kantuk yang menderanya. Matanya lama-lama terasa berat. Dia lalu tertidur.


"Jeng sepertinya dia tertidur." Riska menunjuk pada David.


"Sudah, biarkan saja yang penting dia sudah sadar. Kalau begitu sebaiknya saya akan membawa Cantik pulang biar Nak Bella juga bisa istirahat," kata Tuan Robby berdiri.


"Pah, bagaimana kalau Mommy menunggu David di sini menemani Bella biar ibu Riska istirahat dulu di rumahnya," ujar Naura.


''Ya, sudah kalau begitu. Papa akan pulang bersama Cantik saja," kata Tuan Robby.


"Jeng Naura pulang saja tidak apa-apa biar saya yang menemani Bella dan David di sini," tolak Riska.


"Tidak apa-apa, Bu Riska, sekalian biar Mommy nya anak-anak yang menunggu saja. Gantian juga."


"Ya, sudah kalau begitu biar nanti saya suruh sopir menjemput."


Bella yang telah selesai makan bersama Cantik balik lagi ke ruang perawatan David. Riska lalu mendekat ke arah Bella dan memegang bahunya.


"Kebetulan Bella sudah ke sini. Hari ini Ibu David ingin menunggui kalian berdua di sini. Ibu akan pulang dulu ke rumah menemui ayah."


"Ayah akan datang kemari Bu, tadi Ayah menelfon dan aku memberi tahu jika David sudah siuman," ujar Bella.

__ADS_1


"Oh, malah mau kemari kebetulan sekali." Tuan Robby mendekat ke arah Cantik yang sedang digendong oleh Bella. Dia mengulurkan tangannya. Cantik memeluk Bella dan menggelengkan kepalanya.


"Aku mau sama Ibu saja!" pinta Cantik. Memeluk erat leher Bella.


"Tapi kita harus pulang, Sayang?" bujuk Tuan Robby.


"Aku mau sama Ayah dan Ibu di sini!" teriak Cantik tidak mau lepas dari Bella. Tuan Robby lalu mundur.


"Dia merindukanmu beberapa hari ini," kata Naura.


"Sudah, sudah jangan memaksanya. Nanti dia menangis," ujar Bella.


Riska lalu mendekat ke arah Cantik.


"Cantik suka atau tidak kalau punya adik?" tanya Riska lembut. Bella teringat itu yang dikatakan Ibu sebelum membawa pulang adiknya yang masih bayi, dahulu.


"Wah... dia sudah ketakutan terlebih dahulu," seloroh Tuan Robby sembari tertawa.


"Padahal jika Cantik punya adik lagi, Cantik akan punya teman bermain di rumah, tidak sendiri lagi." Cantik terdiam nampak berfikir.


"Cantik punya Ibu yang akan menemani Cantik bermain," jawabnya. Bella yang sudah lelah mengendong Cantik meletakkannya di tempat tidurnya yang bersebelahan dengan David.


"Kalau Ibu sibuk dengan pekerjaannya Cantik bisa bermain bersama adik. Lagian adek bayi itu lucu. Mereka punya wajah yang kecil dan menggemaskan."

__ADS_1


"Apakah Ibu juga akan buat adek seperti Aunty Raina . Ehm...nanti perut Ibu juga akan besar dan mengeluarkan bayi? Tetapi anak Tante menghilang. Sekarang sudah tidak ada lagi!"


''Bukan meninggal tetapi sudah tidak ada Sayang!" ujar Tuan Robby.


"Apa sama seperti Bunda di masukkan ke tanah? Pergi ke surga bersama Tuhan?"


"Ya!" desah Naura. Masalah di rumah datang bertubi-tubi membuat pening kepalanya.


"Ibu mau bikin adik, buat Cantik?" tanya Cantik.


"Memangnya Cantik mau adik dari Ibu?" Bella menatap Cantik yang sedang berfikir.


"Cantik mau hanya Cantik takut Ibu tidak sayang lagi pada Cantik, Ibu nanti main sama adik terus."


Bella memeluk cantik dan mencium pucuk kepalanya. "Kau anak sulung Ibu mana mungkin Ibu akan melupakanmu yang ada kau yang akan menemani adikmu bermain terus."


''Iyakah?" Bella menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku mau punya adik baru."


"Adikmu sudah ada di perut Ibumu, Nak!" terang Riska.


"Ibu sudah buat adik di perut? Kenapa masih kecil?" Cantik memiringkan wajahnya melihat ke arah perut Bella.

__ADS_1


"Betul aku mau punya adik, Bu? Kapan adik besar dan keluar?"


"Adikmu masih butuh makan yang banyak biar cepat besar, selama itu kau tidak boleh meminta gendong Ibumu lagi agar adik kecil tidak terjepit oleh kakaknya!" Cantik meringis mendengar perkataan Tuan Robby.


__ADS_2