
Satu Minggu telah berlalu. Bella kini tetap berada di apartemen karena tidak diperbolehkan bekerja oleh David. Pria itu akan datang membawakan hasil pekerjaannya untuk di berikan pada ayah Bella sehingga terlihat jika Bella yang mengerjakan.
Hubungan Bella dan ibunya belum membaik. Ibunya bahkan mengultimatum tidak mau berbicara padanya sebelum dia memutuskan hubungan dengan David.
"Dia saja bisa berselingkuh di belakang istrinya apa kau tidak takut jika dia berselingkuh di belakangmu nantinya lalu akan membuangmu layaknya wanita tidak berharga." Perkataan ibunya yang keras sangat menusuk hatinya. Tapi dia tidak bisa untuk mencegah ibunya berpikir buruk mengenai David, memang secara kasap mata pria itu yang bersalah.
Itu terakhir kalinya mereka berbicara, tetapi Bella tidak patah arang dia tetap mendekati ibunya. Hanya ibunya yang selalu ada untuknya setiap saat dan kini walau ada suaminya, bagi Bella ibunya tetap hal terpenting yang harus tetap dia prioritaskan.
Bella sengaja mengikuti ibunya sewaktu jam makan siang. Ternyata ibunya menuju ke rumah makan sea food langganan mereka. Ibu Bella duduk di salah satu sudut ruangan yang bersebelahan dengan tembok kaca yang memperlihatkan pemandangan keluar cafe. Tempat di mana kendaraan dan orang-orang hilir mudik di siang hari.
"Bu, bolehkah aku duduk di sini! Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Bella. Riska mendengus tidak senang. Sebenarnya dia pun sakit hati karena anaknya tidak mau mendengarkan peringatan. Baginya kebahagiaan Bella itu lebih penting dari pada perusahaan.
"Duduklah," jawab Riska. Bella lalu duduk berhadapan dengan ibunya.
"Bu, aku tahu jika ibu sedang marah. Tapi aku punya kabar gembira untuk ibu," kata Bella ruang. Dia menyembunyikan kesedihannya karena sikap acuh ibunya.
"Aku hamil, Bu." Dengan hati berdebar dia melihat ekspresi ibunya mengetahui hal ini. Dia berharap kabar ini akan mencairkan hati ibunya agar mau menerima pernikahannya dengan David. Toh pernikahan itu sudah di resmikan. Jika ditanya bagaimana David bisa melakukannya Bella tidak tahu. Yang pasti itu membuat Bella yakin jika David memang serius dengan kata-katanya ingin membuatnya bagian dalam diri pria itu.
Riska memejamkan matanya. Satu bulir air mat lolos begitu saja tanpa bisa dia cegah. Seharusnya ini kabar yang membahagiakan untuknya. Cucu pertama dalam keluarga sesuatu yang mereka nantikan. Akan tetapi, status Bella sebagai istri kedua dari David membuatnya berat hati untuk menerima anak dalam perut Bella.
Haruskah dia menerimanya atau dia tetap pada keputusan awalnya mendiamkan Bella hingga dia sadar bahwa David bukan hal baik bagi hidupnya.
"Bu," ucap Bella lirih. Menggoyang tangan ibunya di atas meja. Dia khawatir ibunya tidak akan menerima cucu dalam rahimnya.
"Ibu tidak tahu harus bagaimana. Apakah ibu senang atau kecewa. Sangat tidak adil jika ibu memarahimu sedangkan kau sendiri tidak tahu arah yang kau tuju salah. Seharusnya ibu tetap berada di sisimu untuk menunjukkan bahwa ini salah," batin Riska.
Riska menyeka air matanya dan tersenyum pada Bella.
"Selamat, Sayang," kata Riska, " Mulai kini hidupmu bukan lagi hidupmu tapi hidupnya juga. Kau harus menjaga dirimu agar tetap sehat dalam menjalani kehamilan ini," kata Riska.
__ADS_1
"Di tengah kondisi rumah tanggamu yang tidak kondusif kau butuh orang-orang yang siap sedia ketika masalah menghampirimu. Ibu akan tetap berada di sisimu agar kau tahu kemana kau harus pulang ketika kau dalam masalah," batin Riska
"Ibu tidak marah lagi," ucap Bella terkejut. Dia lalu memeluk ibunya dengan bahagia. Dia menangis lega mendengar ucapan ibunya.
Riska menabok putrinya itu pelan.
"Anak nakal, ibu marah padamu tapi ibu tidak mau membiarkan cucu ibu sedih karena neneknya tidak memberi perhatian," ujar Riska.
"Terima kasih, Bu. Tanpamu aku seperti sendiri melewati ini semua," kata Bella keceplosan.
"Lho, bagaimana dengan David?"
"Dia hanya datang ketika pekerjaannya yg telah selesai dan pergi lagi di waktu malam,'' batin Bella.
"Dia selalu ada untukku, Ibu. Bukankah ibu tahu jika aku selalu berada bersamanya setiap saat tidak di kantor tidak di rumah," jawab Bella.
"Lalu kapan dia kerumah istri pertamanya," tanya Riska.
Riska menarik nafasnya panjang. Dia kasihan terhadap nasib anaknya. Dia selalu memberikan yang terbaik untuknya tapi kini dia malah mendapatkan sisa waktu dari wanita lain.
Riska membelai rambut Bella.
"Bumil mau makan apa? Ibu akan pesankan pada pelayan!" kata Riska.
Akhirnya mereka memesan makanan yang Bella inginkan dan mereka mulai bercerita panjang lebar tentang kehamilan Bella.
"Ibu waktu itu muntah-muntah hebat hingga harus di larikan ke rumah sakit ketika mengandungmu dulu," ujar Riska.
"Untung kehamilanku ini aku tidak merasakan apa pun juga," ucap Bella sedikit keras. Dia tidak sadar ada dua wanita yang berdiri di belakangnya memandang tidak senang pada mereka.
__ADS_1
"Kau hamil?'' tanya wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan glamour itu pada Bella.
Bella yang terkejut ada seseorang yang ikut dalam pembicaraan antara dia dan ibunya mulai menoleh.
Tubuh Bella langsung tegang melihat Sofi ada di belakangnya bersama seorang wanita yang sangat mirip dengan David. Apakah dia ibunya?
Bella langsung berdiri dengan berpegang pada sandaran kursi. Kakinya terasa sangat lemas dan tidak bertenaga untuk menopang bobot tubuhnya.
"Kau dengar apa pertanyaanku barusan 'kan?" bentak Naura.
"Siapa anda kenapa kau bertanya dengan nada tidak sopan pada anakku!" tanya Riska berani. Dia tidak suka jika Bella di buat menderita.
"Aku ibu David dan aku berhak bertanya pada wanita yang sedang menggoda anakku!" jawab Naura tidak mau kalah.
"Oh, kau ibu dari David harusnya kau mengajarkan anakmu terlebih dahulu untuk setia dari pada mengejek anakku sebagai penggoda. " balas Riska.
"Kau ...!" geram Naura. Tapi jarinya di turunkan oleh Riska.
"Kau harusnya ajarkan pada menantimu untuk mengurus suaminya agar tidak main serong ke sana kemari. Jika dia bisa memuaskan suaminya tidak mungkin anakmu akan selingkuh darinya. Ini bukan kali pertama anakmu bermain wanita jadi jangan coba salahkan anakku. Dia masih polos mau saja termakan bujuk rayu pria nakal seperti anakmu itu!" hardik Riska.
"Sok polos padahal, dia yang merayu anakku agar menyerahkan hartanya pada kalian!" murka Naura dengan mata membelalak dan memerah.
"Hmmm ... ," Riska menyunggingkan senyum lebar.
"Itu tanda anakmu sangat mencintai anakku hingga dia rela melakukan apapun agar anakku bahagia?" kata Riska dengan nada yang terdengar bangga. Tapi dari dalam hatinya dia perih atas ucapan besannya itu.
Mata Sofi memerah mendengar ucapan yang benar adanya dari ibu Bella. Ya, David rela melakukan apapun untuk Bella, bahkan jika wanita itu meminta suaminya, untuk bercerai darinya pasti David akan melakukannya.
Tenggorokannya bergerak turun naik, menelan kepahitan hidup yang ada dihadapannya. Jangan sampai ibu Bella membuka lagi kenyataan yang akan membuat sakit hatinya. Dia sudah tidak kuat. Matanya mulai berkunang-kunang lalu menggelap.
__ADS_1
"Sofi ... ," teriak David dari belakang lalu meraih tubuh lemah itu.