
"Bu, jika kau lelah sebaiknya istirahat saja, biar warung kita aku yang menunggu," kata Dara.
"Kau sedang hamil besar sayang, tidak baik jika terlalu lelah,'' ucap Savitri.
"Aku tidak ingin melihatmu sakit," ucap Dara sembari mencuci bekas gelas para pelanggan.
"Aku baik-baik saja jangan khawatir," kata Savitri. Dara lalu melongok ke arah luar dapur.
"Bu, apakah kau kemarin melihat Kris?" tanya Dara.
"Tidak, sepertinya dia tidak ada di rumah Danuraja. Aku juga sempat mampir dan bertanya pada penjaga di apartemen Kris, katanya sudah lama mereka tidak melihatnya."
Dara mendesah dan menunduk, "Mungkin dia sudah pindah ke rumah baru bersama istrinya."
Savitri mengelus punggung Dara. Tidak tega melihat calon menantunya ini kecewa.
"Kau sabar Dara, jika kalian berjodoh pasti akan bersama lagi."
"Harapan apa yang harus aku tunggu, menunggu Kris bercerai itu terasa jahat dan tidak adil bagi istri pertamanya atau harapan menjadi istri kedua, terasa sangat memalukan.''
"Warung sedang sedikit sebaiknya ibu beristirahat sejenak biar aku yang melayani pelanggan yang baru datang," cetus Dara.
"Ini jam empat sore, jadi sudah sepi, kita hanya perlu menghabiskan masakan yang masih ada," Savitri menuangkan sayur dari wajan ke sebuah piring untuk mengisi kembali wadah sayur di etalase makanan luar.
"Karena itu biar aku saja yang menyelesaikan ini. Toh aku bisa sudah beristirahat tadi. Ibu malah sudah memasak dan melayani pembeli dari pagi buta," kata Dara.
"Kau juga sudah membantuku dari jam tiga pagi. Apakah kau tidak lelah?"
"Jika aku lebih banyak duduk sedangkan ibu dari tadi bergerak terus."
"Kau itu sangat keras kepala," kata Savitri tersenyum sambil meletakkan kembali piring di tangannya.
"Aku akan istirahat sebentar di atas jika banyak orang datang kau bisa memanggilku."
Dara menganggukkan kepalanya. Dia lalu keluar ke arah etalase makanan. Jalan di depan warungnya sudah macet dari sejam yang lalu. Deretan kendaraan memenuhi badan jalan. Banyak motor yang naik ke trotoar jalan agar bisa melewati kemacetan itu.
"Macet lagi," ucap Dara.
"Iya Neng, ada truk kontainer membawa gula terguling melintang di badan jalan," kata seorang pelanggan pria yang sedang duduk bersama dua orang lainnya.
"Karungan gula itu tumpah di badan jalan."
"Elu nggak ikut ngambil gula yang tumpah itu, lumayan di bawa pulang buat istri."
"Hooh banyak
"Oh, aku tidak tahu," kata Dara melongok ke luar. Dia masuk kembali ke warungnya ketika tidak melihat badan truk itu.
__ADS_1
"Melintang di sebelah mana?" tanya Dara.
"Di perempatan sana, sepertinya mau membelok hanya saja kehilangan kendali jadi terguling," ujar pria lainnya.
"Untung saja tidak ada korban meninggal," timpal yang lainnya.
"Ya, tapi terjadi tabrakan beruntun."
"Neng, aku kopinya tambah lagi," kata pria pertama yang menjawab Dara.
Dara lalu masuk ke dalam dapur untuk membuat segelas kopi.
Kaisar menangis keras di dalam mobil. Pengasuh dan Mom Lusi tidak bisa menenangkannya.
"Mungkin dia gerah di dalam mobil," kata Mom Lusi.
"Suhu mobil ini sudah dingin Mom," ujar Alehandro.
"Mungkin suasana di dalam mobil ini pengap," kata Mom Lusi lagi.
"Kaisar sedang sakit lagi," rutuknya lagi.
Alehandro melihat sekitar tempat itu.
"Itu ada rumah makan sederhana kelihatannya sepi," tunjuk Alehandro pada rumah makan yang ada di depannya.
"Belokkan saja mobil itu di rumah makan itu Ale," pinta Mom Lusi.
Mom Lusi dan pengasuh segera keluar dari mobil terlebih dahulu sedangkan Alehandro mulai membelokkkan kendaraannya ke samping dekat dengan rumah makan itu.
Mom Lusi segera menuju ke rumah makan itu berharap mendapatkan sedikit ketenangan di antara hiruk pikuk suara bising kendaraan yang membunyikan klakson.
"Tenang Sayang, kau akan baik-baik saja. Andai saja ada hotel dekat sini agar Kaisar bisa beristirahat dengan tenang," gumam Mom Lusi.
"Tidak ada Nyonya," kata pengasuh di sebelah Mom Lusi.
Alehandro yang telah memarkirkan kendaraannya lalu berlari mendekati ibu dan anaknya.
"Biar aku saja yang menggendongnya," pinta Alehandro cemas melihat anaknya menangis kejer. Wajahnya yang putih nampak memerah.
Mereka lalu mulai masuk ke dalam warung.
"Neng ada pelanggan masuk," teriak pria yang sedari tadi duduk di warung.
"Masuk saja, orangnya sedang di belakang."
Dara yang sedang membawa kopi pesanan pria tadi lalu keluar dari dapur.
__ADS_1
"Silahkan duduk," kata Dara menengadah lihat ke arah depan.
Tubuhnya terpaku ketika melihat mertua Maria sedang ada di depannya.
"Ibu, ada di sini?" tanya Dara terkejut.
"Kau?!" ucap Mom Lusi sama-sama terkejut. Netranya lalu tertuju ke arah perut Dara yang buncit.
"Bukankah kau itu teman baik Maria," Alehandro yang sedang membelakangi mereka lalu membalikkan tubuhnya.
"Dara?!" seru Alehandro terkejut sembari menenangkan Kaisar. Dara lalu melangkah memberikan kopi untuk pelanggannya.
"Ternyata betul," kata Mom Lusi.
"Itu anak Maria?" tanya Dara melihat bayi kecil dalam gendongan Alehandro.
Mereka menganggukkan kepalanya.
"Dia ... ," Mom Lusi lalu menyeka setetes air matanya mengenang Maria. Dia menghela nafas karena dadanya terasa sedikit sesak.
"Aku turut berduka cita, aku kemarin mencarinya, aku kira dia sudah melahirkan nyatanya dia pergi," ucap Maria mengusap pipinya yang mulai basah. Bagaimana pun Maria adalah sahabat Dara yang sudah seperti saudaranya. Dia bisa membuka warung ini dan hidup lebih baik itu semua atas bantuan tangan Maria.
Mom Lusi yang mengetahui jika Maria dan Dara bersahabat karib lalu memeluknya.
"Kita semua kehilangan. Dia anak yang baik makanya Tuhan mengambilnya begitu cepat. Dia ingin Maria berada di sisiNya," kata Mom Lusi yang sudah mulai tabah menerima kenyataan itu.
Dara lalu melihat Kaisar yang menangis keras.
Dia mendekat ke arahnya. Menyentuh pipi Kaisar yang kemerahan.
"Kenapa dia menangis terus?"
Tangannya langsung ditarik begitu tahu tubuh Kaisar sedikit hangat.
"Dia demam?" tanya Maria.
"Iya kami baru saja membawanya ke rumah sakit. Dokter mengatakan jika itu hanya demam biasa bisa dirawat di rumah. Namun, jalanan macet parah dan dia menangis terus dalam mobil.
Dara menghela nafasnya.
"Biar dia istirahat dulu di kamarku di atas," ucap Dara.
Mom Lusi melihat ke arah Alehandro.
"Di sini bising, di atas suasana lebih tenang, kalian bisa membawanya lagi ketika jalan sudah kembali normal," kata Dara.
"Dara benar mungkin dia bisa istirahat dengan tenang di atas."
__ADS_1
"Apa suamimu ada di atas Dara?" tanya Alehandro tidak enak jika ada suami Dara.
Wajah Dara langsung memucat seketika. Dia tidak bisa mengatakan jika ayah dari bayi ini adalah Kris.