
Dara menidurkan Rose dan Kaisar di kamar Rose, mereka berdua ingin mencoba tidur di sana bersama-sama. Dara bersyukur dua anak itu terlihat rukun dan akur serta saling mengasihi. Tidak terbayang jika mereka berdua saling membenci. Kehidupan ke depannya pasti akan sulit.
Setelah merapikan bekas mainan anaknya dan membenarkan selimut keduanya, Dara bangkit hendak kembali ke kamar mereka. Namun, baru saja dia membalikkan tubuhnya Alehandro nampak berdiri di sampingnya.
"Kau mengejutkan ku saja," ucap Dara memegang dadanya.
"Aku kira kau bersembunyi di sini untuk menghindari malam pertama kita," kata Alehandro sembari mengusap tengkuknya.
Dara tersenyum lalu berjalan keluar. "Bagaimana dihindari kau terus saja mendekat," jawab Dara. Alehandro terus mengikutinya hingga mereka sampai di kamar.
"Dara apakah sebaiknya kita menyekolahkan Kaisar dan Rose secepatnya?"
Dara membalikkan tubuh dan menatap Alehandro. "Ide yang bagus."
"Kau tahu aku bahagia dengan pernikahan ini," ucap Alehandro lalu mengambil beberapa helai rambut Dara yang tergerai dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Seharusnya aku melakukan ini bertahun-tahun yang lalu."
Dara menatap wajah pria itu tidak mengerti sedangkan telapak tangan Alehandro bergerak menyapu wajah Dara dengan lembut, menelusuri bibir bawahnya dengan Ibu hari.
Dara bisa merasakan debar jantungnya yang keras, merasakan dirinya tengah nikmat akibat sentuhan pria itu. Kemudian, bibir Alehandro menggantikan ibu jarinya, panas, dan berat di bibir Dara. Lidah lelaki itu membelai lidahnya sementara tangan lelaki itu menarik tubuhnya agar semakin merapat. Pikiran Dara semakin berkabut, sedangkan tangan Alehandro yang besar itu mengusap punggungnya.
Kemudian Alehandro merebahkan diri ke sofa di dekat mereka menarik tubuh Dara bersamanya sehingga kepala pria itu berada di lengan sofa sedangkan bibirnya masih bergerak di bibir Dara dan lengan lelaki itu masih memeluknya.
Mereka terengah-engah saat menarik nafas. Tubuh Dara sudah terbujur di atas tubuh Alehandro. Kaki mereka bertautan dan pinggulnya rapat dengan punggung lelaki itu.
Panas yang memancar dari tubuh Alehandro dan mengingat jika lelaki itu terlihat menginginkannya membuat gairah Dara meningkat.
__ADS_1
Kemudian Alehandro mencium Dara lagi, sementara tangan pria itu merapatkan pinggul mereka. Meskipun masih berpakaian lengkap tetapi sensasi yang ditimbulkan begitu erostis dan merangsang hingga Dara mengerang dan menggigit kecil leher lelaki itu. Menggeliat, berusaha merapatkan dirinya dengan tubuh lelaki itu.
Alehandro berusaha untuk meraba-raba punggung wanita itu mencari resleting gaun Dara, akhirnya mengangkat kepala berusaha melihat apa yang sedang dilakukannya.
"Kenapa ini terasa sulit," omelnya. Dara tersenyum kecil, geli. Embusan nafas Alehandro serta pengetahuan jika lelaki itu sangat bergairah membuat Dara semakin malu.
Akhirnya Alehandro bisa membuka resleting itu, lalu mendudukkan Dara agar dia bisa menurunkan gaun itu dari bahunya dan menurunkan sampai ke pinggang. Dara menggigit bibirnya karena tegang. Ini pengalaman keduanya dan rasanya sangat berbeda ketika dia merasakan jika pasangannya mendambakannya.
Tangan Alehandro bergetar, tetapi ketika dia telah melepaskan penutup bagian atas Dara. Matanya melebar dan bibirnya melengkung perlahan membentuk suatu senyuman sensual.
"Kau bukan hanya cantik secara luar saja Dara tetapi tubuhmu sangat indah," bisiknya sembari menangkup dua bukit kembar itu dan memainkannya.
Dara terkesiap karena kenikmatan yang dirasakannya, membuat mata lelaki itu menggelap. "Kau menyukainya?" tanya Alehandro.
"Ya," lirih Dara canggung.
Tubuh Dara merasakan sensasi yang luar biasa sehingga tidak menyadari jika Alehandro sedang melepaskan semua pakaiannya.
Sesudah itu dia kembali mengagumi Dara lewat pancaran sinar matanya. Dia menatap tubuh wanita itu yang terbaring tanpa sehelai benang pun tanpa berkedip. Dara bagaikan seorang Dewi dari langit yang bercahaya. Kulitnya yang putih seperti pualam bersinar terkena pantulan cahaya lampu. Semua yang ada dalam diri wanita itu terlihat sempurna dan Alehandro tidak menemukan suatu kekurangan sedikitpun.
"Jangan memandangiku seperti itu," ucap Dara dengan wajah yang memerah. Dia lalu meringkuk mencoba menutupi tubuhnya tetapi Alehandro mencegahnya. Dia lalu duduk di sebelah Dara dan mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya.
Sebuah alat kontrasepsi. "Sekadar persiapan yang matang," katanya saat melihat ekspresi terkejut dari Dara.
"Aku sudah memikirkan ini dari kemarin," lanjutnya jujur. "Aku akan mengenakannya jika kau tidak ingin menambah anak terlebih dahulu."
__ADS_1
Dara lalu bangkit dan duduk di depan Alehandro. "Apa yang kau inginkan saja, aku akan menuruti. Jika kau ingin menambah satu lagi dengan senang hati aku akan menerimanya jika pun tidak kita telah mempunyai dua orang anak yang akan menemani hari kita."
"Aku tidak mempunyai saudara dan tahu bagaimana rasanya. Sehingga aku mempunyai cita-cita membuat banyak anak, itupun jika kau tidak keberatan."
"Satu saja lagi," kata Dara.
"Terlalu sedikit. Bagaimana kalau tiga," katanya mulai membaringkan Dara dan membuang alat kontrasepsi itu.
"Dua dan itu sudah repot karena nanti kita punya empat anak," kata Dara.
"Aku akan membantumu dan kita akan memperkejakan banyak pengasuh," tawar Alehandro.
"Ale," ujar Dara geli.
"Aku ingin rumah besar ini ramai oleh suara anak," katanya menatap Dara.
"Jika membuat anak terus kapan waktu untuk kita?" tanya Dara.
"Kita lihat nanti saja, tetapi saat ini aku ingin membuatnya denganmu dan kita hentikan pembicaraan ini."
Alehandro lalu mulai membuka celananya.
***
Mampir ke Affair ya...
__ADS_1
Ada juga novel tamat lain yang g kalah bagusnya, Billionary Married Scandal, One night With My CEO, dan Cinta yang Dewasa.