Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Karma yang Tertunda


__ADS_3

Datang malam ini atau besok takkan kutanda tangani kerjasama itu!


Sebuah notifikasi pesan yang masuk ke handphonenya. Bella menutup matanya untuk sejenak. Dia merasa seperti sedang menjual harga dirinya, bukannya senang mendapat pesan dari suaminya. Itu berbeda jika David mengajaknya dengan rayuan yang menggoda, mungkin akan membuatnya tersipu malu atau berbahagia.


Dia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya. Pukul lima sore. Sudah waktunya untuk pulang. Dia mulai membereskan kertas-kertas di atas mejanya.


Pintu ruang kerjanya mulai di ketuk dan terbuka. Ibunya melongok dan tersenyum lalu masuk ke dalam ruang kerja Bella.


"Bu," sapa Bella.


"Kau mau pulang?" tanya Riska mendekat ke arah Bella.


"Ya, tapi aku akan mampir ke apartemen temanku sebentar, mungkin malamnya aku pulang," jawab Bella.


"Kau pergi lagi dengan temanmu?" tanya Bella menyatukan alisnya.


Bella gugup dengan nada intimidasi dari Riska.


"Aku hanya ingin melupakan masalahku,, Bu. Berada di rumah mengingatkanku akan rasa pedih itu," ucap Bella memberi alasan.


Riska menghela nafasnya panjang.


"Ibu harap kau tidak salah memilih sahabatmu, ibu tidak ingin kau melakukan hal tidak-tidak" Riska menatapnya dengan tatapan tajam.


ol


Wajah Bella memucat seketika, dia menelan salivanya dalam-dalam.


"Apa maksud ibu?"


"Tidak Ibu hanya khawatir kau melakukan kesalahan yang Akan kau sesali seumur hidupmu," ucap Riska.


"Ya, sudah kau bisa pulang sekarang. Ibu akan pulang nanti bersama ayahmu." Riska mengecup kening Bella. Ibunya lalu pergi keluar dari ruangan Bella. Bella yang melihat kepergian ibunya langsung duduk lesu dia menaruh kepalanya di meja.


Ibunya benar dia telah melakukan kesalahan besar, tapi dia tidak bisa menghentikannya karena nyawa perusahaan ini tergantung padanya saat ini.


***

__ADS_1


Hati Riska berdegub kencang ketika tahu tempat yang dituju oleh Bella adalah sebuah kawasan apartemen mewah. Dia takut jika Bella melakukan hal lebih dengan David. Pria yang statusnya telah menikah.


Dia lalu mengikuti Bella hingga anaknya masuk ke lift dan dilihatnya pintu lift menuju lantai 32, lantai tertinggi di apartemen itu. Dia bergegas ke lift sebelahnya yang terbuka dan masuk menuju lantai yang sama.


Ketika pintu lift terbuka Riska melihat Bella berdiri di depan pintu kamar dan ada tangan seorang pria yang menariknya masuk.


Dia langsung menutup mulutnya seketika. Kakinya melemas, dia berpegangan pada dinding di sebelahnya. Apa yang ditakutkan benar-benar terjadi? Tapi dari kapan mereka bersama? Mungkinkah kerjasama itu terjadi karena Bella mempunyai hubungan lebih dengan David?


Berbagai pertanyaan mampir dalam benaknya. Sebagai seorang ibu hatinya hancur, sebagai seorang wanita dia membenci tindakan Bella dan sebagai atasannya dia menyesali apa yang telah terjadi, anaknya harus berkorban demi perusahaan.


Tangisnya pecah seketika. Dia berbalik tidak kuat untuk tetap meneruskan niatnya.


Apakah ini karmanya karena telah menyia-nyiakan Cinta. Dia selalu menganggap anak itu sebagai anak dari wanita yang merusak kebahagiaannya. Dia selalu menganggap rendah istri kedua suaminya karena telah merebut Setiawan darinya. Tapi kini Bella malah berbuat hal yang sama seperti yang ibu Cinta lakukan.


Apakah ini adil Tuhan? Ataukah ini pembalasan-Mu? Dia memang membenci Cinta, tapi dia berusaha agar tetap menjadi ibu yang baik baginya walau dia tidak bisa memaksakan diri untuk bisa berbagi kasih sayang yang adil untuknya.


Bella sendiri tidak sadar jika dirinya sedang diikuti oleh Ibunya. Bella memencet bel apartemen, tidak lama kemudian pintu apartemen terbuka dan David berdiri di depannya.


"Kau terlambat satu jam," ujar pria itu.


"Ya sudah aku pergi saja lagi!" ucap Bella malas hendak berbalik. Namun tangan David langsung menariknya masuk. Dia menutup pintu dengan salah satu kakinya. Menyambar bibir manis Bella. Memberi sambutan yang membuat Bella melemas kakinya.


"Bersikaplah sopan padaku! Aku itu suamimu!" ujar David.


"Aku lupa aku kira aku hanya wanita panggilanmu!" balas Bella tidak mau kalah.


"Wanita panggilan akan selalu memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggannya!" David menaikkan alisnya dan menggerakkannya. Dia tidak ingin ikut terpancing emosi.


"Aku menunggumu sedari tadi dan kelaparan, bisakah kau membuatkan aku masakan apa saja?"


"Kita bisa memesannya!" ujar Bella. Tapi David mengeratkan pelukannya.


"Aku ingin masakanmu, apapun itu akan kumakan!" bisik David di telinga Bella membuat tubuh wanita itu meremang.


"Bagaimana jika aku memberimu sianida."


"Tetap akan kumakan jika itu membuatmu bahagia," balas David membuat hati Bella menghangat. Kekesalannya tadi perlahan menghilang.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu pandai memasak," kata Bella.


David melepaskannya.


"Aku menunggumu, ayo mulailah masak!" David melepaskan pelukannya dan menarik tangan Bella menuju dapur minimalis yang cantik dan sangat bersih membuat dia enggan untuk mengotorinya.


"Ini cantik sekali," gumam Bella yang terdengar oleh David.


David memeluknya dari belakang dan meletakkan ujung dagunya di bahu Bella.


"Kau suka? Jika tidak kita bisa menggantinya?" Bella menoleh melihat wajah David berada dekat bahkan kulit wajah pria itu menyentuh kulit wajahnya. Hal ini membuat jantungnya berdegub sangat kencang, dia takut dan malu jika David mendengarnya.


"Tidak ini baru kubeli kemarin dan akan kuhadiahkan untukmu, kau bisa mengganti semuanya seperti yang kau inginkan."


"Ini tidak perlu," jawab Bella.


"Ini perlu karena ini kujadikan sebagai rumah kita," jawab David. Jawaban yang membuat hatinya teriris. Rumah tangga apa? Dia bahkan tidak bisa membayangkannya.


Bella sedang tidak ingin memulai pertengkaran dan memancing kemarahan David. Dia harus berlaku layaknya wanita bayaran yang akan selalu bersikap manis. Tapi apakah dia bisa melakukannya? Dia takut dia jatuh cinta dan tidak bisa melepaskan David pada akhirnya.


"Terserah padamu!" Dia lalu menatap keseluruhan ruangan ini. Dia menyukainya.


"Aku tidak akan bisa membuatkanmu makanan jika kau terus menempel seperti lintah," sindir Bella.


"Aku memang lintah yang akan menghisap madumu setiap harinya," jawab David melepaskan pelukannya. Bella lalu mulai melepaskan blazer dan memakai apron.


"Lintah itu menghisap darah bukan madu," katanya tersenyum.


"Sayangnya aku hanya menghisap madumu saja." Pria itu lalu duduk di kursi makan yang menghadap dapur melihat bagaimana Bella bergerak dan mengerjakan semuanya.


"Kau terlihat sangat paham dengan apa yang akan kau lakukan?" David menatap kagum pada Bella. Ini yang dia tunggu dan harapkan dari istrinya dulu dan kini dia dapatkan di diri Bella.


"Aku terbiasa menemani ibuku memasak jika akhir pekan kami biasa masak bersama tapi tidak dengan adikku. Dia lebih suka untuk keluar dan belajar menari," kata Bella memeriksa isi kulkas David yang terlihat penuh.


"Kau yang belanja sendiri?"


"Tidak, aku menyuruh asistenku," jawab David meminum air dalam botol yang ada dihadapannya. Bella melihatnya.

__ADS_1


"Apa kau ingin kopi, biar aku membuatkannya?"


__ADS_2