
"Mari duduk," ajak Kris pada Dara dan yang lain.
"Boleh Ayah menggendongmu?" tanya Kris. Rose lalu memeluk leher ayahnya dan tubuh Rose diangkat ke atas.
"Aku punya Ayah sepertimu Kaisar," pamer Rose pada Kaisar dengan bangga. Akan tetapi Kaisar hanya terdiam memeluk tubuh ayahnya dari belakang, wajah anak itu terlihat ditekuk. Sedangkan, Alehandro tersenyum mengangguk pada Rose.
Mereka lalu duduk di meja berbentuk persegi panjang. Dengan enam kursi yang saling berhadapan.
Dara berdiri terpaku, tidak tahu harus duduk di mana? Dekat Alehandro atau di samping Kris. Ini seperti memutuskan pada siapa dirinya akan berlabuh.
"Ibu sini," panggil Rose untuk duduk di sampingnya. Dara tersenyum canggung lalu duduk di sebelah Rose, matanya menatap pada pria itu. Wajah Alehandro terlihat biasa saja namun seburat rasa kecewa tercemin di netra pria itu.
"Siapa namamu, Sayang?" tanya Kris pada Rose , dia sudah tahu nama anaknya hanya saja ingin mendengar langsung darinya.
"Kau ayahku? Seharusnya kau tahu namaku," ujar Rose melipat tangan di dada.
"Aku tahu namamu, Sayang, hanya ingin mendengar kau mengucapkannya saja," kata Kris.
"Namaku Burnett Rose Hafisha, namun semua orang memanggilku Rose," jawab Rose.
"Nama Ayah siapa?" tanya Rose.
"Ibumu tidak memberitahu nama Ayah?" tanya Kris melirik pada Dara. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain tepat di saat itu seorang pelayan datang menghampiri.
"Tuan dan Nyonya ingin pesan makanan dan minuman apa?"
Kris lalu melihat ke arah semuanya," Kau mau makan apa Rose?" tanya Kris.
__ADS_1
"Ehm yang enak apa? Pizza? Spaghetti aku paling suka," teriak Rose.
"Spaghetti ada Nona cantik, mau yang apa?"
"Yang bolognes," jawab Rose.
"Kalau begitu kita memesan makan yang sama saja," kata Kris.
"Kau mau makan apa Dara?" tanya Kris. Dara terdiam hanya menatap mata pria itu.
"Aku tahu kau sangat suka dengan ayam panggang, aku pesan satu ayam panggang untuknya," ucap Kris.
"Aku ingin ayam goreng saja, terkadang waktu merubah segalanya termasuk kesukaan kita," ucap Dara tanpa melihat ke arah Kris.
Kris menatapnya intens, sembari menarik nafas panjang.
"Pak, kau ingin makan apa?" tanya Kris. Dia tetap masih menghormati Alehandro yang pernah menjadi majikannya walau dia sendiri sudah menjadi seorang pengusaha.
"Aku mau makan spaghetti bolognes seperti Rose, bagaimana denganmu, Kai?"
"Aku tidak mau apa-apa?" ucap Kai dengan wajah yang masih di tekuk.
Dara menyatukan alis menatap anak itu, dia lalu tersenyum dan menyentuh tangan Kaisar.
"Tadi kau ingin ikut, masa kau tidak mau ikut makan! Apakah kau ingin makan spaghetti juga seperti Rose?" tawar Dara.
Mata Kaisar menatap ke arah Dara. "Aku, aku ... ."
__ADS_1
"Dia suka makan spaghetti," ucap Alehandro menyelesaikan permasalahan ini.
Mereka lalu memesan makanan dan Kaisar tetap bersikap dingin melihat Rose yang sedang asik bercerita dengan Kris.
"Ibu bilang Ayah sedang berada di luar negeri dan aku menunggu Ayah datang, tetapi Ayah tidak pernah datang," cerita Rose, Kris yang mendengar hanya bisa mengusap lembut rambut Rose.
"Ayah sekarang ada di sini, Rose mau tinggal bersama Ayah?'' tanya Kris. Dara diam seribu bahasa. Alehandro malah terlihat tidak peduli dengan perkataan Kris. Dia lebih asik membujuk Kaisar untuk makan.
Rose lalu menatap ibunya. Dia ingat perkataan ibunya tadi malam seusai mereka selesai makan malam.
"Jika Rose ingin tinggal bersama Ayah maka Rose tidak akan tinggal bersama Ibu! Ibu tidak akan memaksa Rose hanya saja Ibu pasti merasa sedih dan kehilangan jika Rose pergi bersama Ayah."
"Apa Ayah dan Ibu tidak bisa bersama seperti orang tua lainnya?" tanya Rose.
"Ibu dan Ayah punya kehidupan sendiri yang tidak akan Rose mengerti untuk saat ini. Apa Rose tahu minyak dan air?"
Rose mengangguk. Dara menghela nafasnya. "Seperti itulah Ibu dan Ayah yang tidak bersama karena kami berbeda."
"Kenapa harus berbeda bukankah kita itu sama-sama manusia, ayah bukan monster kan? atau hantu?"
"Yang membuat berbeda adalah manusia itu sendiri. Yang penting Rose mengerti jika Rose ingin bersama Ayah maka Rose tidak akan tinggal bersama Ibu," terang Dara.
"Aku ... akan bersama Ibu, kasihan Ibu akan sendiri jika aku tidak ikut bersamanya," ucap Rose.
Kris menatap Dara. Timbul banyak pertanyaan tetapi tidak bisa dia tanyakan ketika ada anak-anak di dekat mereka.
"Kalau Ibu ikut Ayah, apa kau mau tinggal bersama Ayah?" tanya Kris sembari melirik ke arah Dara.
__ADS_1
Alehandro lalu menatap Dara dan Kris. Sedangkan Dara terlihat tenang tetap menyantap makanannya kembali. Padahal jauh di dalam hatinya berkecamuk bara api yang belum padam, bara api yang telah dia pendam selama ini.