
Dara tertawa lebar ketika mendengar pengakuan Alehandro.
"Kau itu.. ." Dara lalu mendorong tubuh Alehandro dan mundur untuk menutup pintu.
"Menikah tidak bisa semudah itu, harus banyak persiapan yang harus di lakukan," ujar Dara. Namun tangannya diraih oleh Alehandro dan ditarik hingga mendekat ke arahnya. Pria itu lalu melingkarkan satu tangan di pinggang wanita itu. Satu tangan lain untuk menyentuh bibir Dara yang selalu menggodanya.
"Kita sahkan dulu hubungan ini, lalu langsung di daftarkan ke KUA oleh petugas setempat."
"Ale, aku masih sedikit ragu. Segalanya terlalu cepat bagiku," ujar Dara.
"Cepat bagimu karena kau tidak pernah memikirkan aku," kata Alehandro.
"Lagi pula untuk apa aku memikirkanmu kalau aku tidak punya hubungan apa-apa denganmu?"
"Aku curiga kau masih mencintai Kris!" ujar Alehandro.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
"Aku melihat kau memasukkan baju dan kemeja seorang pria ke lemari, apakah itu baju Kris?" tanya Alehandro.
Dara menurunkan bahu dan menunduk. Dia lalu membawa Alehandro masuk untuk melihat lemarinya. Dia mulai membukanya. Di dalam sana memang ada setelan pakaian pria. Pikiran Alehandro berarti benar.
"Jangan menatapku seperti itu." Dara melihat ke arah Alehandro yang menatapnya dengan tajam.
"Jika kau masih mencintai dia mengapa kau tidak melanjutkan hubungan kalian saja. Jangan memberi harapan palsu padaku!" Alehandro hendak berbalik dan pergi namun Dara memeluk dari belakang dan menyandarkan kepala di punggungnya.
"Jangan marah dulu, kau belum mendengar penjelasanku," ucap Dara.
Alehandro memejamkan matanya dan terdiam di tempat.
"Penjelasan apa? Bukankah bukti itu sudah cukup, kau jangan berbohong lagi."
"Kita berbicara dulu jangan mengambil kesimpulan sebelum kau mendapatkan kebenarannya."
"Kalau begitu katakan."
__ADS_1
"Kita bisa bicara sambil duduk," ucap Dara.
"Baiklah, sekarang lepaskan pelukanmu itu," ucap Alehandro yang masih kesal.
"Kita duduk di mana?" tawar Dara setelah melepaskan pelukannya.
Alehandro lalu melangkah ke sofa besar di bawah jendela kamar. Dia duduk di sana. Dara lalu mengikuti dan duduk di sebelahnya.
"Katakan apa alasanmu masih menyimpan baju Kris!"
"Sabar," ucap wanita itu sembari menyempol rambutnya ke atas membuat leher jenjang Dara terlihat dengan jelas. Apakah wanita itu tidak menyadari bahayanya. Batin Alehandro.
Alehandro menghadap ke arahnya dengan satu kaki di lipat ke depan. Sedangkan Dara duduk dengan kaki di lipat ke belakang menghadap pria itu.
"Aku memang membawa baju itu kemanapun aku pergi dari awal aku meninggalkan Kris."
"Jika seperti itu bukankah itu bukti jika kau masih mencintainya.
Alehandro memalingkan wajah lalu hendak berdiri namun tangan Dara memegang pundaknya.
"Mau bicara apalagi Dara," kata Alehandro dengan kesabaran yang hampir habis.
"Pergilah jika kau tidak mau mendengarnya. Untuk apa kita menikah jika kau saja tidak percaya padaku!"
Alehandro lalu menatap Dara.
Dia lalu duduk bersila menghadap wanita itu.
"Sekarang katakan apa alasanmu, beri aku sebuah alasan yang kuat agar aku mempercayaimu!"
"Jika kau mau menikah denganku kau harus percaya jika tidak kita batalkan saja semuanya anggap pembicaraan tadi tidak terjadi."
Alehandro terkejut dengan perkataan Dara. Namun, dia tahu jika wanita itu tidak akan goyah setelah menentukan keinginannya. Haruskah dia menyerah secepat itu?
"Aku membawa baju itu sebagai bentuk Kris yang lain. Memakaikannya di bantal. Terlihat menggelikan memang tetapi itulah cinta. Namun, lama-kelamaan aku bosan harus memiliki sesuatu yang tidak nyata. Sebelum itu, Rose kecil jika rewel akan tenang jika berada di dekat baju Kris. Ketika aku hendak membuangnya ke tempat sampah Rose terlihat rewel dan terus menangis jadi aku coba mengambil baju itu lagi meletakkannya di sisi Rose. Rose terdiam hingga akhir dia terbiasa tidur dengan mendekap baju ayahnya dari kecil. Jadi aku ikut membawa baju itu jika Rose membutuhkannya sewaktu mau tidur. Namun, Rose terlihat baik-baik saja ketika tidur bersama Kaisar jadi aku tidak menggunakannya dan memasukkan ke dalam lemari."
__ADS_1
"Kau tidak bohong?" tanya Alehandro mencari kebenaran dalam kata-kata Dara menatap matanya.
Satu tangan Dara bersandar di sandaran sofa dan tangan yang lain menyentuh ujung rambut Alehandro yang ada di dahi.
"Untuk apa aku berbohong, jika kau tidak percaya pun tidak apa-apa," ujar Dara tersenyum membuat Alehandro gemas.
"Kau cantik," kata Alehandro lagi.
"Semua wanita itu cantik," ucap Dara. Tubuh Alehandro condong maju mengecup bibir Dara saja tidak lebih. Membuat Dara yang sudah memejamkan mata terkejut.
"Aku menghormatimu dan aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah. Cinta itu memang butuh penyatuan tetapi tidak melulu soal hubungan badan."
Dara tersenyum mengagumi pengendalian diri Alehandro yang tinggi padahal dia sudah lama hidup sendiri.
"Kita menikah besok?" tanya Alehandro mengusap bibir Dara sebuah kebiasaan yang mulai di sukanya.
"Aku belum yakin!"
"Yakinlah kita akan menjadi pasangan yang hebat, untuk kita dan anak-anak kita."
"Rose!"
"Aku akan menjemputnya besok atau Kris bisa datang ke acara pernikahan kita."
"Kita rahasiakan dulu ini dari orang luar," pikir Dara lagi.
"Kenapa?"
"Kita melakukannya untuk mensahkan hubungan kita tetapi aku belum siap dengan tanggapan orang luar," ujar Dara.
"Ada aku," ucap Alehandro.
"Aku tahu hanya saja aku masih takut menikahi seorang milyarder negeri ini," ucap Dara.
"Orang-orang pasti akan mengejekku dan akan menghinaku, mereka akan mengatakan padaku jika kau menikahi wanita tidak punya asal usul dan ... ," ucap Dara terhenti ketika mulutnya dibekap oleh bibir Alehandro membuat matanya membulat seketika. Tangan pria itu di letakkan di belakang tengkuknya menambah tekanan. Lidahnya menggoda menggelitik dan melilit di lidahnya membuat darah Dara naik seketika, tubuhnya meremang, dan menuntut lebih.
__ADS_1