Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Jodoh


__ADS_3

Cinta berjalan setengah berlari membuat Calesta terkejut. Tanpa sengaja boneka Calesta jatuh ke bawah.


''Mom bonekaku," teriak Calesta namun diabaikan oleh Cinta. Dia berusaha untuk lari secepat mungkin menghindari Cristian.


"Maaf saya ada urusan penting," kata Cristian mengakhiri acara sambutannya. Dia berlari mengejar Cinta.


Namun apa daya, sosok Cinta sudah tidak terlihat lagi.


Brak!


Sebuah tempat sampah dari besi jatuh terkena tendangan keras Cristian. Menimbulkan suara keras, membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Ada apa, Tuan!" tanya para pengawal menghadap atasannya.


"Aku perlu melihat CCTV gedung ini," ucap Cristian. Seseorang mengarahkannya ke sebuah ruangan.


"Nah itu mereka yang aku cari?" kata Cristian. Dia lalu mengecek semua gambar berkaitan dengan Cinta.


Wajah anak yang digendong Cinta tidak terlihat jelas. Tapi mereka keluar dari ruang ganti khusus peserta tari.


Cristian mulai berfikir. Memutar-mutar kembali video yang ada.

__ADS_1


"Mungkinkah anak itu?" Cristian terhenyak menghadapi kemungkinan itu. Dadanya berdegub kencang mengetahui kenyataan ini.


Matanya memanas, ada perasaan mengharu biru dalam hatinya.


"Kau cari semua informasi tentang mereka apalagi informasi tentang anak kecil itu. Jika perlu, kalian dapatkan juga informasi tentang semua kesukaannya dan semua hal yang dibencinya," ujar Cristian.


Dia lalu melangkah pergi dengan perasaan dan semangat baru yang sulit untuk diucapkan.


***


Cinta segera berlari memasuki mobil. Ardi segera melajukannya dengan cepat.


"Dia pasti akan menemukan kita Ardi. Bagaimana jika mau mengambil Calesta?" tanya Cinta panik.


"Mommi bonekaku?" tangis Calesta.


"Mommi akan membelikannya lagi untukmu, tadi ada orang gila yang mengejar Mommi dan mommi harus pergi berlari secepat mungkin jika tidak mommi akan ditangkap dan takkan dilepaskannya lagi," terang Cinta.


"Orang gila Mom?" tanya Calesta menghentikan tangisnya. Cinta menganggukkan kepalanya.


"Aku takut bertemu orang gila." Calesta bergidik ngeri.

__ADS_1


"Mommi juga takut," ujar Cinta mendekap erat Calesta.


Dia sudah nyaman dan aman hidup di Bali. Usaha Catering milik mereka pun sudah berhasil. Suasana di sini juga sangat mendukung. Tempat tinggal yang Cinta temoati tidak mempermasalahkan Calesta yang lahir tanpa nama ayahnya. Mereka tetap bersikap baik dan mereka tahunya Ardi adalah Kakak Cinta. Mungkin karena Mak dan Bapak, sebutan untuk orang tua Ardi selalu mengenalkannya sebagai anak angkat mereka.


"Berapa lama Cristian akan tahu keberadaan kita?" tanya Cinta tiba -tiba.


''Aku yakin nanti malam dia akan datang ke cafe milik kita,'' jawab Ardi.


Cinta membelalakkan matanya dan menelan salivanya keras. Dia mengusap keringat yang membasahi dahinya.


''Catering yang di pesan oleh mereka itu untuk cabang perusahaan milik Cristian. Apa kau tidka menyadarinya? Jika aku tahu akan hal itu, namun tidak mengira jika Cristian akan hadir ke acara yang terbilang kecil."


"Kita sedang tidak beruntung," ujar Cinta.


"Atau kau memang berjodoh dengannya. Jika seperti itu pergi ke ujung dunia pun kalian akan bertemu,'' Ardi menatap Cinta dari kaca spion. Sedangkan Calesta sudah tertidur lelap.


"Tidakkah kau rindu keluargamu Cinta?" tanya Ardi.


"Aku ... ." Cinta hanya bisa menunduk dan terdiam bingung untuk mengatakan apa?


"Kau takut jika melihat kenyataan bahwa Cristian sudah bisa hidup bahagia bersama Bella?" tanya Ardi.

__ADS_1


Bella hanya terdiam menatap ke arah luar jendela.


"Apakah kau masih mencintainya,Cinta?"


__ADS_2