Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Rencana Mom Lusi


__ADS_3

Pagi harinya Maria terbangun karena sebuah suara yang mengganggunya. Dia lalu mengerjapkan mata dan melihat sinar matahari sudah menerangi kamar yang dia tempati. Maria melonjak kaget karena ini bukan kamarnya. Dia lalu menyapu pandangannya ke semua arah dan menemukan Alehandro sedang berolahraga di ruang khusus sebelah kamarnya. Dia baru ingat jika dia sudah menikah dengannya kemarin.


Namun tunggu dia teringat akan peristiwa malam tadi. Maria membuka selimutnya.


"Akh!" teriakan Maria membuat kaget Alehandro yang sedang fokus dengan peralatan gym-nya. Dia langsung bergerak cepat mendekati Maria.


"Ada apa Maria?"


"Apa yang terjadi?" isak tangis Maria mulai terdengar.


"Yang seharusnya terjadi ya memang harus terjadi!" jawab Alehandro sembari tersenyum. Dia lalu meraih botol minumnya dan meminumnya. Dia terlihat cuek saja pada Maria setelah apa yang dilakukannya semalam.


"Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan dan kau mengambil keuntungan dalam ketidak berdayaanku," ujar Maria kesal di sela Isak tangisnya.


Alehandro duduk di sebelah Maria. Dia lalu membuka kaos yang dipakainya. Melihat hal itu Maria jadi panik.


"Apa yang akan kau lakukan! Tidakkah cukup perbuatanmu semalam!" ujar Maria menggeser tubuhnya ke belakang hingga ke sudut tempat tidur.


"Kau lihat ini," tunjuk Alehandro pada banyaknya tanda merah di dada dan lehernya. "Dan ini," kata Alehandro memperlihatkan bekas kuku di lengannya yang berotot.


Maria menelan air liurnya, wajahnya pucat pasi melihat hal itu. Kedua bibirnya mengatup rapat tanda jika dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seketika rasa malunya menghancurkan kesedihannya.


"Kau yang menyerangku dan kau sangat ganas sekali tadi malam, untungnya aku masih bisa mengendalikanmu," ujar Alehandro sembari tertawa kecil. Pagi ini menjadi indah melihat muka polos Maria. Tidak rugi dia menikahi gadis itu.


"Bersihkanlah tubuhmu dan turun ke bawah, aku sangat lapar karena harus menunggumu bangun untuk sarapan." Alehandro berdiri memakai kembali pakaiannya dan Maria menutup separuh wajahnya dengan selimut.

__ADS_1


"Aku tidak ingin sarapan!" ucap Maria. Alehandro membungkukkan badannya condong ke depan wajah Maria membuat wanita itu takut jika pria itu akan macam-macam padanya.


"Menurut atau aku akan menggendong tubuhmu dan membawa ke ruang makan!"


"A-Aku tidak punya baju untuk kugunakan nanti," cicit Maria.


"Itu tasmu sudah ada di dalam kamar," jawab Alehandro. Dia lalu menegakkan tubuhnya lagi dan melangkah keluar dari kamar.


"Ingat jangan terlampau lama!" ucap Alehandro.


Pria itu lalu membuka pintu dan keluar dari kamar itu.


Maria merasa lega setelah pria itu keluar dari kamar. Dia lalu mencoba untuk duduk. Tapi dia tidak merasakan kesakitan di sekitar pangkal pahanya. Kata temannya yang sudah terbiasa dengan dunia **** bebas mengatakan jika awalnya akan terasa sangat sakit.


Maria lalu mencari baju yang cocok dia gunakan di hari pertama dia berada di rumah ini. Dia membongkar isi tasnya dan dia hanya menemukan dress pesta dan pakaian rumah berupa celana hot pants serta kaos yang dia pakai. Perasaan dia tidak memasukkan barang ini ke dalam tas kopernya kemarin.


Dia meneliti koper berwarna hitam itu, kini dia baru ingat jika ini adalah koper satunya yang dia tinggal dan dipersiapkan untuk membawanya nanti setelah dia resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Sedangkan koper yang seharusnya dia bawa mungkin tertinggal di rumah Keluarga Slim.


Akhirnya Maria memilih menggunakan celana hotpants yang selalu dia pakai dalam keseharian di padu padankan dengan kaos putih bertuliskan merk sebuah brand baju terkenal. Cristian memang tidak pernah pelit padanya. Semua kebutuhan hidup Maria, dia yang menanggung selama ini.


Maria keluar dari kamar. Dia lalu berjalan menyusuri rumah yang besar itu walau tidak sebesar milik kediaman keluarga Slim. Beberapa pelayan berseragam hitam dengan renda putih mulai menyapanya, dia membalas dengan santun dan sopan lalu bertanya di mana letak ruang makan di rumah itu.


Para pelayan menunjuk ke sebuah lift dalam rumah itu.


"Di lantai pertama, Nyonya muda, setelah itu anda berjalan ke arah Barat di sana ada ruang makan untuk makan pagi dan siang."

__ADS_1


"Memang ada ruang makan yang lain?" tanya Maria heran.


"Ya Nyonya, di sisi sampingnya ada ruang makan dengan meja panjang, ruangan itu digunakan jika ada tamu yang datang dalam jumlah banyak dan lebih indah jika digunakan pada malam hari. Sedangkan ruang makan yang saya tunjuk tadi berhadapan langsung dengan kolam renang dan taman bunga anggrek milik Nyonya Besar," jelas pelayan itu.


Maria menganggukkan kepalanya.


"Mari saya antarkan, Nyonya!" ujar pelayan itu. Maria mulai mengikutinya.


Dia memasuki lift. Dia baru tahu


dia kini berada di lantai empat rumah ini yang diperuntukkan khusus untuk Alehandro. Semuanya di tata untuk memenuhi kebutuhan pria itu. Ruang kerja, ruang fitnes, ruang baca dan ruang baju serta perlengkapannya. Terang pelayan itu.


"Lantai satu untuk ruang basemen berisi mobil dan kendaraan lain juga ruang bilyard serta ruang khusus yang hanya boleh dimasuki oleh orang kepercayaan Tuan saja. Lantai dua berisi ruang tamu yang besar , ruang makan juga dapur serta di belakang terdapat kamar pelayan. Lantai tiga berisi kamar tidur nyonya Besar. Ruang santai milik keluarga," kata pelayan itu mengakhiri pembicaraan. Dia lalu menunjuk pada Alehandro yang sedang duduk di salah satu kursi makan.


Melihat kedatangan Maria Alehandro langsung berdiri dan menyeret kursi untuk duduk istrinya. Maria menengok ke kanan dan ke kiri mencari satu sosok yang memberinya minuman susu coklat bercampur obat perangsang.


"Kau mencari Mommie, dia sudah pergi tadi pagi sekali!" kata Alehandro seperti bisa membaca pikiran Maria.


"Kemana?" tanya Maria lagi.


"Ke Bali bersama kawan-kawannya untuk berlibur sekaligus memberi waktu kita berdua selama satu Minggu dan Mom juga akan meliburkan semua pelayan rumah ini selama satu Minggu ini untuk kembali ke kampung halamannya."


"Kenapa?" tanya Maria. Bukankah akan repot merapikan rumah ini sendirian. Atau Mom Lusi sengaja melakukan ini semua karena hendak menjadikannya seorang pembantu?


"Karena dia tidak ingin ada yang mengganggu kebersamaan kita walau itu seorang pelayan. Dia ingin mendengar kabar baik dari kita, satu bulan lagi!"

__ADS_1


__ADS_2