Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Terlalu Rapuh


__ADS_3

Kini aku tak tahu lagi mana arah cinta yang kutuju... semua bagai sembilu yang menghantam sanubariku... menghimpit rindu yang telah terbuang oleh karena cinta yang telah merapuh...biarkan aku memaku namamu di ujung rinduku bersamamu aku pernah bahagia.


*** Cinta ***


Langit malam ini terlihat begitu mendung. Menutupi bintang-bintang yang selalu bersinar. Bulan pun enggan untuk keluar dan lebih suka bersembunyi di balik awan.


Ardi dan Cinta duduk di gasebo belakang rumah setelah melalui serangkaian acara widodareni. Acara adat bagi calon mempelai wanita sebelum hari pernikahan.


Pantang bagi calon suami dan isteri bertemu sebelum hari pernikahan, namun tidak bagi Cinta juga Ardi. pembicaraan ini lebih penting dari sekedar soal kepercayaan. Ini soal hidup dan mati Cinta.


"Kau yakin akan menemui ibu Cristian?" tanya Ardi.


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Kau tidak curiga dia merencanakan sesuatu?" tanya Ardi lagi.


"Aku tidak tahu!" jawab Cinta.


"Kau harus berhati-hati Cinta, jangan sampai rencana yang kita susun kemarin gagal total," kata Ardi.


"Atau ... !" ucap mereka berdua bersamaan.


"Tidak mungkin dia curiga, Tante Aura mengatakan jika keadaan Cristian sedang drop dan depresi," terang cinta dengan nada sedih, dia mendesah seketika.


"Kau jangan terlalu mengkhawatirkannya. Kesedihan untuk sesaat saja, mungkin satu dua bulan lagi dia bisa mendapatkan bayi lain, bersama Bella," balas Ardi.


Cinta menatap penuh arti pada Ardi. Namun sedetik kemudian dia menengadahkan wajahnya ke langit melihat awan yang gelap.


"Bagaimana jika di sana Cristian dan ibunya akan membalas dendam padamu?" kata Ardi menakuti Cinta.


"Jika sampai sore aku belum kembali lagi kau hubungi aku. Jika aku tidak bisa di hubungi kau harus mencariku," kata Cinta.


"Bagaimana jika disana ternyata kau sedang tidur lagi dengan Cristian. Aku jadi kambing congek. Jangan korban 'kan aku untuk urusan ini?" Cinta mendorong keras tubuh Ardi hingga hampir jatuh.


"Kalau ngomong kira-kira, huft!" tanggap Cinta.

__ADS_1


"Kau itu sangat polos dan mudah diperdaya pa lagi jika bertemu Cristian, kau akan terhipnotis dan menuruti semua katanya." kata Ardi sembari menepis kotoran di tangannya bekas jatuh tadi.


"Kau benar! Lalu apa yang harus kulakukan?Kau tahu jika aku mencintainya sulit bagiku untuk memalingkan rasa itu walau sejenak,"


jujur Cinta.


"Aku yang tulus mencintaimu malah kau abaikan,'' kesal Ardi.


"Cinta tidak dapat dipaksakan itu datangnya dari hati dan sayangnya kita juga tidak bisa memilih. Jika bisa memilih maka aku lebih baik mencintaimu daripada Cristian," Cinta menundukkan pandangannya.


"Aku pun tidak akan memaksakannya Cinta. Semua keputusan ada di tanganmu. Aku hanya bertindak sebagai teman yang akan selalu menemanimu ketika kau membutuhkan aku," ungkap Ardi menutupi hatinya yang sedih.


"Kau sudah seperti kakakku sendiri, aku berharap kau bisa menemukan wanita yang akan mencintaimu dengan setulus hati," kata Cinta berlalu meninggalkan Ardi sendiri.


Tanpa sadar kedekatan mereka kali ini di abadikan oleh seseorang yang mengambil gambar mereka dan mengirimkannya pada seseorang.


"Cinta begitu mudah kau tersenyum kembali sedangkan kuburan anak kita masih berwarna merah dan basah." Cristian membanting handphone di tangannya dengan sekuat tenaga sehingga menimbulkan suara keras.


"Nak, apa yang kau lakukan?" tanya Aura tiba-tiba masuk ke dalam kamar Cristian yang berantakan.


Cristian duduk di bawah bersandar pada tempat tidur kepalanya dia telungkupkan di antara dua lututnya dan tangannya dia letakkan di atas kepalanya.


"Dua hari pernikahanmu Cristian?" ucap Aura. Cristian mengacak rambutnya sendiri kasar.


"Mom, kau masih bertanya tentang pernikahan itu? Aku bahkan muak jika mengingat hal itu! Jangan memaksaku lagi dengan sesuatu yang malah akan membuatku terluka lebih dalam," ucap Cristian.


"Kau benar tidak mau melakukannya?" tanya Aura.


Cristian hanya menatap Aura dengan tatapan dingin.


"Mommi tidak ingin memaksamu jika kau memang tidak menginginkannya. Cinta pasti sangat cantik jika mengenakan gaun pengantinnya sayangnya Ardi nanti yang kana bersanding dengannya. Dan kau hanya bersembunyi dan menghancurkan diri di kamar ini," ujar Aura membereskan tempat tidur Cristian.


Cristian bangkit dan mengambil botol birnya lalu menenggaknya hingga habis. Aura menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Cristian berjalan menuju balkon kamarnya.

__ADS_1


"Mom bisakah kau membuat Cinta menikah denganku?" tanya Cristian sembari menatap langit.


"Mengapa kau ingin masih bersamanya?" tanya Aura.


"Aku akan membalas rasa sakitku dengan pernikahan itu?" kata Cristian berpegangan pada pagar besi.


"Kau sendiri yang akan masuk ke lubang perangkap yang kau buat. Sebaiknya kau menikahi Bella saja. Dia anak baik dan penurut dia juga tipe wanita penyayang," pancing Aura. Dia mulai memunguti pecahan beling satu persatu dan membersihkan lantai.


Cristian mendesah pelan dan memejamkan matanya. "Jika aku hancur dia pun harus hancur, dia sangat ingin menikahkan aku dengan Bella. Jika pernikahan itu tidak berhasil maka dia sendiri yang akan menderita. Bella akan membencinya. Bukankah itu yang ditakutkan Cinta selama ini? Menyakiti perasaan kakaknya sendiri."


Cristian mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya dan menarik sebatang lalu mematiknya dengan api dari sebuah korek besi.


Sebuah kepulan asap berbentuk lingkaran mulai membumbung tinggi ke angkasa.


"Tinggal kau ucapkan saja nama Cinta dalam ijab kabul itu." jawab Aura santai.


Cristian membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Aura.


"Mom, jika semudah itu?" kata Cristian.


Aura tersenyum berjalan mendekati anaknya.


"Kau terlalu larut dalam perasaannya dan itu bukan tindakan seorang pria. Bukankah seorang pria yang mengendalikan situasinya mengapa jadi dia yang lebih dominan mengatur bagaimana ke depannya hubungan ini. Sedangkan kau hanya menuruti semua kemauan Cinta. Kau seharusnya yang berkuasa atas dirinya sehingga dia tidak bisa berbuat apapun tanpa seijinmu. Bahkan untuk bernafas," jelas Aura.


"Dan kesalahanku terlalu lembut padanya sehingga dia berbuat sesuka hatinya dan anakku yang jadi korban," Cristian menengadahkan wajahnya dadanya seperti di sayat sembilu tajam jika mengingat calon anaknya yang mati.


"Kini apa yang harus kulakukan?" tanya Cristian.


Senyum samar dan misterius terbit dari bibir Aura. Dia menepuk punggung Cristian berkali-kali. Berjalan ke sebelah Cristian dan menghembuskan nafas pelan.


"*Apakah aku harus mengutarakan kecurigaan ku pada Cristian jika Cinta masih hamil anaknya ataukah aku harus membuktikannya dulu baru mengatakannya. Tinggal satu hari lagi waktu yang ku punya, apakah aku bisa membalikkan keadaan? " Diam memandang Cristian." Cinta kau memang harus kuberi pelajaran besok!" geram Aura dalam hati.


***


Like

__ADS_1


Vote


Komennya yah*...


__ADS_2