Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kenangan Indah


__ADS_3

Alehandro masih menatap foto yang ada di tangannya. Foto Maria yang tersenyum cerah memakai baju putih di acara syukuran kehamilannya. Sudah tiga bulan Maria meninggal dunia dan dia masih saja berduka.


Dia bahkan tidak pernah melihat keluar rumah. Hari-harinya hanya berkisar di dalam kamar dan mengasuh putranya saja jika dia terbangun.


Putra Tanjung memang ingin agar anak Maria di asuh oleh Natalia di rumah mereka namun Alehandro menolaknya. Dia sendiri yang akan merawat anaknya bersama sang ibu.


Secarik kertas yang telah lusuh karena selalu dia baca dia buka kembali. Surat terakhir yang Maria siapkan sebelum kematiannya. Dia juga mempunyai banyak surat lain yang Maria siapkan untuk anaknya kelak. Ternyata Maria telah merencanakan semuanya jauh-jauh hari.


Maaf Sayang, aku sebetulnya ingin membuat video terakhir untukmu namun ketika aku melihat tampilan wajahku sendiri aku tidak menyukainya karena aku terlihat menyedihkan.


Sayang, aku tahu kau pasti merindukan aku tetapi percayalah aku juga sangat merindukanmu. Aku tahu waktuku sudah tidak lama lagi maka kubuat surat ini sebagai ucapan perpisahan ku padamu.


Sayang, aku ingin kau tidak terlarut dalam kesedihan yang dalam ketika aku pergi. Aku pasti bahagia di sana melihat anak kita lahir dengan selamat dan kau bisa menggendongnya serta membesarkannya dengan baik. Jadi, hilangkan kesedihanmu walau tidak mudah. Mulailah bangkit berdiri demi anak dan orang sekitarmu. Tataplah dunia lagi seperti kau menatapnya sebelum bertemu aku dulu. Kau yang dulu penuh senyum dan tawa membuat orang di sekitarmu akan ikut tertawa bersamamu. Tapi telah lama kau meninggalkan senyum dan tawamu. Percayalah aku merindukannya. Kini tersenyumlah untukku!"


Alehandro menerbitkan seulas senyum tipis sembari menyeka air matanya.


"Ale," panggil Mom Lusi sembari menggendong Kaisar, putra Alehandro. Wanita itu terlihat sehat setelah merawat Kaisar.


Ale melipat lagi kertas di tangannya.


"Kaisar sepertinya sedikit demam," ujar Mom Lusi yang terlihat khawatir. Ale langsung bangkit dan menyentuh kening Kaisar.


"Iya Bu dia sedikit demam," kata Alehandro.


"Sebaiknya kita pergi ke dokter anak untuk memeriksakannya."


Alehandro lalu berjalan keluar dari kamarnya.


"Ayo Bu, kita pergi ke Dokter," ujar Alehandro.


"Apa kau yang akan mengantarnya?" tanya Mom Lusi tidak percaya jika anaknya sudah mau keluar dari rumah.


Satu bulan pertama Kaisar masih di rumah sakit karena harus menjalani perawatan khusus setelah itu jika anak itu sakit mereka hanya akan memanggil dokter ke rumah.


"Mom... ," panggil Alehandro menurunkan bahunya.


"Okey, tunggu aku harus menyuruh Mbak untuk menyiapkan barang yang akan dia bawa."


"Baiklah cepat sedikit Mom," kata Alehandro berjalan keluar dari rumah menuju garasi mobilnya.

__ADS_1


"Tuan!" sapa sopir yang sedang mengelap mobil dan memanasinya.


"Aku mau membawa anakku ke rumah sakit dia sedikit demam. Mobil mana yang telah siap!" ujar Alehandro.


"Itu Tuan!" tunjuk sopir itu pada Alehandro pada sebuah mobil yang diparkir di barisan terdekat dengan pintu garasi.


"Mana kuncinya?" tanya Ale. Sopir itu lalu berlari ke pojok ruangan tempat semua kunci mobil dicantolkan.


Tidak lama kemudian sopir itu menyerahkan kunci pada Alehandro. Alehandro mulai membuka pintu mobil.


"Tuan kemarin ada wanita di depan rumah yang menanyakan Almarhum Nyonya Maria," ucap sopir itu.


Alehandro menghentikan gerakannya dan melihat ke arah sopir itu.


"Siapa?"


"Dia tidak mengatakan siapa namun saya pernah melihatnya berbicara dengan Nyonya ketika acara syukuran dahulu. Kelihatannya mereka dekat," jelas sopir itu.


"Apakah itu Dara?" batin Alehandro.


"Bagaimana orangnya?" tanya Alehandro.


"Dia cantik sedikit tinggi dan sedang hamil besar," terang sopir itu.


"Dia tidak mengatakan apa-apa atau menyampaikan pesan?"


"Tidak Pak hanya saja dia terlihat sangat shock dan menangis," ujar sopir itu lagi.


Alehandro lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesin mobil keluar dari garasi mobil.


"Ayo, Mom," panggil Alehandro membuka pintu mobil.


Mom Lusi tersenyum kecil melihat anaknya sudah tidak terpuruk lagi. Tidak seperti hari-hari kemarin yang hanya dihabiskan dengan menatap foto Maria saja.


Kaisar di gendong oleh baby sister duduk di belakang, sedangkan Mom Lusi duduk di sebelah Alehandro.


"Ale, aku senang kau mulai menatap duni lagi," kata Mom Lusi.


"Aku tidak bisa mengabaikan anakku, Mom. Dia satu-satunya peninggalan paling berharga dari Maria," jawab Alehandro. Mom Lusi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka lalu mulai melajukan kendaraannya menuju ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan keadaan Kaisar yang sedang demam. Kaisar mulai menangis keras setelah terbangun dari tidurnya.


"Sabar ya, Sayang," ujar Mom Lusi.


"Mom apakah kau terbebani dengan kehadiran anakku ini," kata Alehandro.


"Justru dia yang membuat tubuhku sehat lagi. Dia membuat semangat hidupku bangkit."


"Terima kasih banyak Mom, tanpamu aku tidak akan bisa mengurus Kaisar sendiri," ucap Alehandro.


Mom Lusi mengusap lengan anaknya itu. "Hidup itu tidak melulu tentang kesenangan belaka kita juga akan sering menemui kepahitan dalam hidup. Bagaimana kita bisa menikmati hidup itu jika yang kita lakukan hanya merutuki nasib dan terpuruk dalam kekurangan dan kesedihan. Yang harus kita lakukan adalah menikmati atau mensyukuri hal kecil yang Tuhan berikan sehingga kita tidak merasa jatuh dan malah bisa bangkit kembali.'


Alehandro melihat ke arah ibunya.


"Bukan aku tidak sedih akan kematian menantuku itu tetapi kau harus lihat Tuhan memberikan Kaisar sebagai pelipur laramu."


"Kematian bisa datang pada siapa aja dan jalan Maria memang seperti itu. Kini, kau harus bisa menatap ke depan sembari memegang tangan Kaisar karena dia butuh kau di sisinya."


Alehandro hanya terdiam mendengarkan nasihat dari ibunya. Walau berat kini dia akan mulai menatap hidupnya ke depan.


Mobil telah sampai di depan latar rumah sakit. Mom Lusi dan pengasuh Kaisar turun terlebih dahulu. Sedangkan Alehandro pergi ke tempat parkiran. Setelah memarkirkan mobilnya Alehandro lalu turun.


"Hati-hati!" ucap seorang wanita dari balik mobil di sebelah mobilnya.


"Kau jangan menyentuhku!" ucap ketus seorang pria. Alehandro seperti mengenal suara itu. Dia lalu berjalan mendekati asal suara.


"Aku hanya ingin membantumu," ujar wanita itu yang berdiri berjaga di belakang seorang pria yang berusaha berjalan dengan bantuan kayu penyangga.


"Kris!" panggil Alehandro.


"Pak!" ucap Kris yang masih menganggap Alehandro sebagai atasannya.


Alehandro begitu terkejut melihat keadaan Kris. Dia lalu memeluk tubuh Kris.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Alehandro.


Kris menundukkan wajahnya dan menghela nafas. "Aku mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu."


"Maaf, aku tidak tahu," kata Alehandro.

__ADS_1


"Kau kemari dengan Bu Maria?" tanya Kris. Air muka Alehandro terlihat berubah.


"Dia .. dia sudah meninggal dunia tiga bulan yang lalu," ucap Alehandro dengan suara getir.


__ADS_2