
Setelah selesai dari rutinitas hariannya yang melelahkan David baru kembali pukul sembilan malam. Tidak ada yang berbeda dari hari biasa. Dia tetap duduk di tempat tidurnya jarang bergerak jika tidak sangat penting. Bahkan untuk ke kamar mandi saja dia akan memakai kursi roda. Dia sudah berkeinginan kuat untuk memiliki anak dengan David. Hanya ini satu-satunya cara untuk mengikat pria itu terus.
Proses bayi tabung tidak semudah yang orang kira. Mereka mengira hanya membuahkannya diluar lalu hamil seperti layaknya wanita pada umumnya. Kenyataannya sebelum itu dia mengalami berbagai proses yang tidak enak seperti pengambilan sel telur. Penyuntikan di area belakang tubuhnya setiap hari dan diatur jamnya sebelum sel telur yang dibuahi di masukkan ke rahim. Setelah di dalam rahim dia harus bedrest total selama 3 bulan. Untuk berjalan ke kamar mandi saja tidak dianjurkan karena sel telur belum terikat kuat dengan dinding rahim.
"Kau sudah pulang," tanya Sofi sembari tersenyum manis pada David. Dia meletakkan buku bacaan di sampingnya, lalu mencoba bangkit untuk menyambut suaminya.
"Tidak usah, kau tiduran saja," ucap David mencegah gerakan Sofi dengan isyarat tangannya.
"Bukankah kau tidak boleh bergerak selama tiga bulan ini?"
"Ya, kau benar." Sofi kembali membenarkan letak duduknya. Sebenarnya sangat menjenuhkan harus berbaring dan tiduran sepanjang hari selama tiga bulan ini. Jikalau sedang ingin keluar kamar maka dia menggunakan kursi roda.
David membuka dasi lalu jasnya. Dia mengambil baju dan masuk ke
dalam kamar mandi. Pria itu masih bersikap dingin padanya. Tidak pernah menyentuhnya hanya melakukan kewajiban untuk merawatnya dan menemani ketika di rumah. Tidak di sebut menemani karena dia akan pulang pada malam hari dan pergi di waktu pagi.
Sofi tidak pernah mengeluh, dia sudah meminta suaminya untuk datang dan memperbaiki hubungan ini. Walau tidak sepenuh hati setidaknya pria itu kembali ke rumah.
"Dua malam kau tidak pulang?" tanya Sofi hati-hati.
"Aku sedang banyak pekerjaan aku tidur di kantor," jawab David sebelum masuk ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian David keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat segar. Buliran air masih menetes ke handuk yang dia sampirkan di atas bahu.
"Apa kau sudah makan?" tanya Sofi.
__ADS_1
"Sudah tadi di kantor," jawab David berbohong. Dia enggan untuk makan setelah mendengar penolakan istri simpanannya.
David lalu berjalan ke arah balkon kamar dan mengambil rokok.
"Kau bisa pesankan kopi untukku, aku akan mengurus pekerjaan lain," ucap pria itu.
Dia lalu pergi ke balkon dan mulai merokok. Memikirkan semuanya, dia tidak ingin kehilangan Bella namun istrinya sedang hamil dan dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Bella apakah wanita itu telah hamil anaknya? Dia sangat mengharapkannya. Sejenak di melihat cincin nikahnya dengan Bella yang dia sematkan di jari manis sebelah kanan, sedang yang sebelah kiri tersemat cincin nikah dari Sofi. Mempunyai dua istri memang memicu adrenalinnya. Dia harus pandai berbohong dan pandai membagi waktunya ditengah padatnya rutinitas harian yang dia jalani.
Tidak lama kemudian pelayan datang membawakan secangkir kopi untuknya. David lalu meletakkannya di meja depan sofa panjang. Membuka tas dan mengambil laptop miliknya. Dia tidak melirik pada Sofi yang melihatnya sedari tadi.
Mungkin Sofi memiliki pria itu kini. Tapi bahkan dia tidak dapat menyentuh sama sekali. Hujan apa ini? Di saat seorang wanita ingin diperhatikan di masa kehamilannya David malah bersikap cuek dan masa bodoh. Bukan ini yang dia inginkan. Tapi masih pantaskah dia berharap lebih?
Sofi membuka handphonenya membuka galeri foto. Dia melihat lagi David bersama seorang wanita keluar dari hotel. Mungkin dia hanya bermain-main saja seperti biasanya. Batin Sofi berkecamuk.
"Aku hampir lupa mengatakan padamu jika akan ada rapat penting tentang siapa yang akan memproduksi baju-baju dari merk J&J."
"Apa kau akan ke Italia?" tanya Sofi dengan nada keberatan.
"Ya, mungkin selama satu Minggu. Kemungkinan besar jika rapat tidak diundur aku akan berangkat dua Minggu lagi," terang David.
Pundak Sofi melemas dagunya tertunduk ke bawah. Entah kenapa Sofi yang biasanya tegar kini menitikkan air matanya. Mungkin efek dari kehamilan ini yang membuatnya sedikit rapuh.
"Kau kenapa? Ini bukan pertama kalinya kau ku tinggal pergi," ujar David berdiri dan mendekati Sofi. Sofi langsung memeluk pinggang David. Memeluknya erat.
__ADS_1
"Jangan pergi," terdengar jelas nada keputus asaan darinya dia takut dan khawatir David tidak akan kembali ke rumah. Instingnya mengatakan jika pria ini telah berubah walau sebelum ini dia bersama wanita lain tapi ini berbeda.
David mengelus kepala Sofi lembut. Setelah tangis Sofi terdengar mereda David duduk di sebelahnya.
"Maafkan aku ... ," Isak Sofi setengah berbisik.
"Kita sudah membahas hal ini jika kita tidak akan membahasnya lagi," balas David menyentuh dagu Sofi dan menegakkan kepalanya.
Sofi mengalungkan tangan di leher David dan memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu, namun kau terasa jauh bagiku. Jika masalah itu sudah tidak ada lagi maka mengapa kau tidak pernah bersikap hangat padaku," tanya Sofi. Dia terlalu berputus asa untuk mengharapkan David menjadi David yang dulu. Tapi dia harus memberanikan diri untuk lebih agresif dalam menarik lagi cinta pria itu.
Tidak mudah bagi David menerima pengkhianatan Sofi dulu. Walau mereka menikah tanpa cinta setidaknya wanita itu menghormati dengan tetap berada di jalurnya. Jika ingin perceraian tinggal katakan saja, bukannya mengambil keuntungan dari pernikahan ini untuk menaikkan jenjang karir dan status sosialnya karena bersuamikan seorang Sinclair. Walau Sofi terlahir dari keluarga kaya tapi kedudukannya tidak lebih tinggi dari David.
David memang sudah membalasnya dengan bermain wanita sesukanya dan Sofi tidak melarang hal itu. Namun luka di hatinya tidak bisa terobati walau seorang anak sudah ada dalam rahim istrinya.
Untuk menenangkan istrinya akhirnya David menciumnya. Merasakan asin bekas air mata wanita itu. Mulai membuainya, tapi bayangan Bella kembali hadir di depannya. David lalu menghentikan kegiatan mereka.
Dia menangkup lembut pipi Sofi dengan kedua tangannya. Dia melihat pandangan mata yang terluka dan sedih.
"Aku tidak ingin berdekatan denganmu karena itu akan memancing birahiku dan aku tidak ingin menyakiti anakku. Sudahlah jangan berpikir macam-macam, kau tidur saja. Aku akan memelukmu hingga kau tertidur," ucap pria itu.
Sofi tersenyum hatinya menghangat seketika ternyata David masih memperhatikan anaknya. Dia saja yang larut dalam emosi.
Mereka berbaring bersama dan saling berhadapan. Sofi mencium bau harum yang keluar dari dada bidang David. Hatinya merasa nyaman dan tenang melakukannya.
__ADS_1
"Mungin hari esok akan lebih baik," harap Sofi dalam hati.