Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Tontonan Karyawan


__ADS_3

"Kami hanya membicarakan kontrak kerjasama itu. Namamu disebut karena Tuan Sinclair ingin agar kau bekerja bersamanya di gedung miliknya. Di sana dia akan memberimu petunjuk bagaimana cara memajukan usaha kita ini. Selain itu kau juga bisa belajar banyak di sana?" terang Setiawan.


Bella menatap bingung pada David, namun pria itu tetap duduk tanpa ekspresi seperti tidak mengenalnya saja.


Huft ...


"Kenapa di sana? Kita bisa melakukan itu walau tempat kerjaku di sini. Ada telephon yang bisa dijadikan alat untuk berkomunikasi. Jika mendesak aku bisa ke kantormu jika keadaan mendesak."


David menatap tajam pada Bella membuat wanita itu menunduk dan menggigit lidahnya sendiri.


Apakah aku salah dalam mengatakan sesuatu... .


"Itu jika Nona Bella setuju, saya tidak mungkin menginvestasikan banyak uang tanpa tahu apa yang akan saya dapatkan nantinya. Keadaan perusahaan ini sedang kacau bahkan sedang mengalami masa pailit, orang yang bodoh mau berinvestasi di sini. Tetapi saya punya cara sendiri agar perusahaan bisa maju lagi tanpa kalian harus menutupnya atau menjual semua aset milik kalian. Saya meminta anda yang berada di dekat saya karena hanya anda salah satu petinggi di sini yang muda. Saya tidak mungkin menyuruh Tuan Setiawan untuk melakukan itu? Toh di sana Anda hanya akan mendapat pengawasan dan pengarahan dari saya secara langsung. Anda bisa langsung menerapkannya di perusahaan!" ujar David tenang tapi mematikan.


"Baiklah dia akan bersedia menuruti semua saran anda," ujar Setiawan sembari menatap tajam anaknya sekilas.


Bella menelan salivanya dalam-dalam.


Akhirnya semua disetujui tinggal pembuatan kontrak kerjasama serta penandatanganan kontrak dan jual beli saham.


Setiawan bernafas lega.


"Bella, antar Tuan Sinclair hingga ke mobilnya," perintah ayahnya.


Bella menuruti perintah ayahnya. Dia lalu bertindak seperti tidak mengenal David secara dalam.


"Aku tidak tahu jika kau akan datang kemari hari ini," kata Bella setelah David menyuruh anak buahnya untuk berjalan terlebih dahulu.


"Aku tidak suka melihat wajah pengantinku muram," jawab David tanpa ekspresi. Bella menoleh melihat wajah David, wajahnya sendiri merona merah.


"Pengantin, ya aku baru menikah beberapa jam yang lalu."


"Soal bekerja di kantormu?"


"Aku hanya ingin kau ada di depan mataku setiap saat," jawab David. Mereka lalu masuk ke dalam lift berdua. Tidak ada pegawai lain yang berani masuk.

__ADS_1


Ketika lift sudah tertutup David langsung menarik tubuh Bella dan mencium bibirnya. Tangan satunya menekan tengkuk wanita itu dan tangan satunya berada di belakang tubuh wanita itu dan berhenti di gumpalan daging berisi milik Bella. Mencari kesenangan dan membuai wanita itu dalam. Mengabsen setiap inci dalam mulut wanita itu sembari meremas pantat wanita itu. Lama dan dalam. Bella yang mendapat serangan mendadak melebarkan matanya. Dia ikut terbuai dan membalas perlakuan David. Dia bahkan lupa jika ada CCTV di dalam lift. David selalu tahu bagaimana membuatnya gila dan lupa diri.


Lift berhenti. David langsung melepaskannya dan mengelap bibirnya. Dia lalu bersikap datar dan dingin lagi.


Bella merapikan dirinya dan mengatur nafasnya yang sedang terengah-engah. Lift mulai terbuka. Mereka berjalan seperti biasanya.


Sekretaris David sudah membukakan pintu untuknya.


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Sepulang kerja temui aku di kawasan Mega Kuningan," ujar David lalu masuk ke mobil.


"Aku tidak bisa!" jawab Bella.


Kepala David keluar dari mobil.


"Aku tidak bisa mencari alasan terus menerus pada orang tuaku, mereka pasti akan curiga melihat anak gadisnya selalu menginap di rumah orang," lirih sehingga hanya mereka berdua yang mendengar.


David menghembuskan nafas kesal.


"Kau juga harus membagi waktu dengan istrimu," ujar Bella dengan hati yang terasa sakit dan perih. David lalu menutup mobilnya dengan cepat dan hampir saja mengenai Bella jika wanita itu tidak segera mundur.


Hal yang berbeda terjadi di ruang monitor, pegawai yang melihat heboh dan menggelengkan kepala melihat ulah atasannya.


"Hot!"


"Tak mengira!"


"Cepat hapus sebelum karyawan lain tahu," ujar kepala bagian keamanan yang melihat. Di sana hanya ada empat orang, satu kepala keamanan, dua bagian monitor yang salah satunya wanita dan OB


"Siap Bos!" jawab karyawan lain.


"Itu Bos besar darimana?" tanya Karyawan wanita ingin tahu.


"Aku juga kurang tahu dan baru melihatnya."


"Tapi nggak kalah sama mantan tunangan Nona Bella, sama-sama ganteng dan mobilnya wuih... kayak yang di film- film balapan itu," ucap karyawan wanita itu.

__ADS_1


"Bos sama bos. Lha kita yang cuma orang rendahan ya dapatnya juga setara," ujar OB sambil membawakan kopi untuk karyawan.


"Jangan sampai hal ini bocor keluar!" ujar kepala bagian keamanan.


"Tenang bos kami akan tutup mulut kencang. Kami tidak mau dipecat, cari kerjaan itu sulit."


"Itu kalian mengerti."


"Tapi bukannya itu pengusaha yang sering wara -wiri di televisi itu, yang istrinya juga vice president dari sebuah perusahaan telephon seluler, namanya kayak artis sinetron yang sudah meninggal. Ehm... Sinclair. Coba lihat di google," kata karyawati itu.


Sejenak mereka mulai mencari. Ketika foto David bersama istrinya mulai terlihat mereka semua memekik terkejut.


"Anjir ... ," Kepala keamanan menggelengkan kepalanya.


"Nah, benar kan? Bos kita punya affair sama Bos besar beristri. Bakal heboh ini, Tuan Setiawan tahu masalah ini atau tidak ya?"


"Sepertinya tidak, dilihat dari sikap mereka ketika di depan orang-orang terlihat biasa saja."


"Aku akan memberitahukan masalah ini pada Nyonya Riska," ujar kepala keamanan.


"Hati-hati bisa-bisa kau yang dipecat!"


"Aku harap tidak! Aku akan menyalinnya ke handphone milikku. Setelah itu hapus!"


Setelah menyalin gambar itu kepala keamanan segera berjalan keluar dari ruang monitor. Dia pergi menuju ke ruangan Riska berada.


Sesaat dia bertemu dengan Bella yang sedang berjalan dan menuju ruangan ibunya juga.


"Siang Nona Bella," sapa Kepala Keamanan itu.


"Siang, apa kau mau ke ruang Ibu?" tanya Bella.


"Tidak Nona," kata Kepala Keamanan itu. Bella lalu tersenyum dan masuk ke dalam ruangan ibunya.


Kepala keamanan itu masih terpaku di tempatnya sembari mengusap keringat yang keluar dari dahinya.

__ADS_1


"Untung saja kalau aku tadi masuk duluan pasti Nona Bella akan tahu jika aku yang memberitahukan hal ini pada Bu Riska. Selamat ... selamat .... Ku tunggu Nona Bella pergi terlebih dahulu baru masuk ke dalam.''


__ADS_2