Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Penyesalan Naura


__ADS_3

"Tuan, Nyonya Besar baru saja datang. Mobil beliau baru masuk ke halaman rumah," kata pelayan pria pada David.


"Nenek datang, Yah?" David menganggukkan kepalanya. Cantik bersorak bahagia. Dia lalu berlari untuk menyambut kedatangan neneknya.


David lalu berjalan di belakangnya. Dia lalu menghampiri kamarnya dan membuka pintu kamar pelan. Bella masih tertidur lelap. David menutupnya kembali. Timbul rasa hangat yang menyelingkupi hatinya. Dia tahu hati Bella tidak sekeras itu melihat semua kebenaran. Pada dasarnya takdir jua yang mempermainkan keduanya.


David berjalan turun ke bawah. Di sana ada Naura dan juga Cantik yang sedang bercengkrama. Naura akan menggendong Cantik setiap mereka bertemu.


Naura melihat ke arah David ketika melihat anaknya turun dari tangga. Timbul sebersit penyesalan dalam hatinya yang membuat David harus menderita selama bertahun-tahun.


Nanti dulu ... wajah David terlihat berbinar bahagia. Seperti ada sinar matahari yang melingkupinya.


Sudah terlalu lama Naura tidak melihat hal itu.


"Mom!" sapa David ketika sudah di dekat ibunya. Dia mencium pipi ibunya.


Naura menurunkan gendongannya pada Cantik.


"Lihat Yah, nenek memberikanku banyak mainan baru?" teriak Cantik.


"Apa kau jadi pindah ke London bulan depan?" tanya Naura khawatir. David pernah mengatakan jika urusannya telah selesai dengan Sofi dia ingin kembali ke negara asal ayahnya.


David melihat ke arah ibunya dan tersenyum cerah. Dia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Naura terlihat bingung tetapi untuk sesaat dia mengerti arti senyum cerah yang anaknya perlihatkan.


"Jangan bilang kau telah membawa satu menantuku yang lain pulang kemari sehingga kau bisa terlihat sesenang ini!" seru Naura menutup mulutnya.


"Kau benar Mom, aku telah membawanya pulang kembali!"


"Bagaimana bisa, kapan, dimana dia?" David diberondong pertanyaan oleh ibunya.


"Satu-satu dulu pertanyaannya," ujar David.


"Aku akan membawa mainan ini ke hadapan Ibu," ucap Cantik memegang tas besar berisi banyak mainan.


"Jangan Sayang Ibumu sedang beristirahat," kata David.


"Akh aku lupa!" Cantik lalu menurunkan tas itu lagi dan mendongakkan kepalanya melihat ke arah neneknya.


"Grandma, Ibu sudah pulang ke rumah. Dia itu cantik dan baik. Ehm ... dia suka memasak untukku, membuat makanan yang lezat ehm...," Cantik menyatukan jari telunjuk dan ibunya membentuk huruf O, "dia juga menemaniku bermain kemarin. Dia tidak pernah marah, hanya saja ," Cantik melihat ke arah ayahnya ," ayah membuat Ibu menangis lagi," tutur Cantik.


Perkataan Cantik membuat David harus membuang nafas. Dia itu tukang mengadu pada neneknya.


Naura lalu berjongkok dan merapikan baju cantik yang tidak kusut.

__ADS_1


"Kau menyukainya?" tanyanya.


"Aku sangat menyukainya. Dia seperti yang ayah selalu ceritakan. Nenek pasti akan menyukainya juga," cerita Cantik berapi-api.


Hati Naura sakit mendengarnya. Dia bersedih mengingat perlakuan buruknya pada Bella. Padahal dia belum pernah mengenalnya. Andai saja dia lebih bijak dalam menanggapi suatu masalah hal ini tidak akan terjadi. David anak bungsunya tidak akan menderita selama ini.


"Bisakah Mommy bicara padanya? Ibu ingin meminta maaf," ucap Naura.


"Nanti saja Mom, dia sangat lelah," ucap David dengan seringai nakal. Naura tahu apa artinya itu.


"Anak nakal!" Naura memukul bahu David.


"Kapan dia pulang kemari?" tanya Naura.


"Kemarin malam," jawab David. David lalu membawa ibunya pergi ke ruang kerja.


"Bagaimana kau bisa membujuknya lagi, untuk datang kemari setelah semua yang telah terjadi," tanya Naura.


"Aku menculiknya di hadapan orang tuanya," kata David.


"Kau!" Naura mengerakkan jari telunjuknya ke atas. "Memang bandel dari kecil."


Naura lalu duduk di kursi sofa yang ada memijit kepalanya.


"Aku pergi menemui ayahnya terlebih dahulu dan menceritakan semuanya. Aku meminta maaf dan meminta ijin untuk membawa anak perempuannya. Aku berjanji akan melepaskannya dalam waktu sebulan jika aku tidak bisa membujuknya untuk kembali padaku," jelas David.


"Bagaimana dengan ibunya?" tanya Naura.


"Dia marah besar dan menolakku mentah-mentah tapi Pak Setiawan malah memarahinya karena ibu Bella menyembunyikan masalah ini darinya. Akhirnya Ibu Bella terdiam dan membiarkan aku membawa Bella walau aku tahu dia terlihat sangat membenciku," ungkap David.


"Itu sangat dimasuk akal, dia pasti khawatir anaknya terluka lagi."


Naura menghela nafas dan terdiam untuk sesaat mengingat kejadian pertengkaran dengan besannya beberapa tahun silam.


"Dua hari itu waktu yang singkat untuk membujuknya memaafkanmu," tanya Naura.


"Hingga tadi dia masih marah, Mom. Kami bahkan sampai belum makan karena bertengkar,"


"Pertengkaran itu berlanjut ke ranjang dan kau memaksanya untuk melayanimu begitu! Kau ini kejam David!" Naura memalingkan mukanya. "Contoh ayahmu itu, dia tidak pernah berbuat kasar pada Mommy, malah suka bersikap romantis."


"Aku tidak pernah berbuat kasar padanya. Bella itu orang yang lembut aku bahkan tidak akan tega untuk membentaknya," ungkap David. Dia menekan pangkal hidungnya. "Kecuali sewaktu kesalah pahaman yang dulu pernah terjadi. Aku menghinanya habis-habisan. Aku sangat menyesalinya." David mendesah kasar.


"Kita semua pernah melakukan semua kesalahan itu."


Sejenak mereka terdiam.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kau bisa membujuknya?" tanya Naura lagi.


"Aku menceritakan segalanya untungnya dia mau mendengarkan ku, jika tidak dia sudah pergi dari rumah ini dan aku harus merelakannya," kata David lesu.


"Itu karena dia masih mencintaimu," kata Naura.


"Aku juga sangat mencintainya, Mom."


"Aku bisa melihatnya. Dia pasti sangat mencintaimu jika tidak, dia tidak akan memaafkan semua kesalahanmu itu," imbuh Naura.


"Aku turut bahagia untuk kalian." Naura mendekati David dan memeluknya.


"Mom, kau tahu semua ini terasa sebuah mimpi yang indah untukku. Jika ini mimpi aku tidak mau terbangun," ungkap David menyeka air matanya. Naura menepuk punggung David.


"Lain kali jika kau punya masalah ceritakan lah pada, Mom."


"Aku tidak ingin membuatmu khawatir," kata David. David merenggangkan pelukannya.


"Kau malah mengacaukan hidupmu sendiri. Jika kau mau berbagi masalahmu setidaknya hatimu terasa lega karena ada yang mendengarkan keluh kesahmu. Aku merasa telah menjadi ibu yang buruk karena telah memasukkan mu ke jurang penderitaan selama sepuluh tahun ini. Sepanjang pernikahanmu dengan Sofi," ungkap Naura penuh penyesalan.


"Jika tidak karena itu, aku mungkin tidak bisa menghargai kehadiran Bella dalam jangka waktu sebentar, namun berarti."


Naura mengusap rambut David dengan penuh kasih sayang.


"Aku baru saja menemui Sofi tadi." David melihat ke arah Ibunya terkejut.


"Untuk apalagi, Mom?"


"Agar dia datang ke acara persidangan akhir besok," kata Naura.


"Mom, kau bertengkar dengannya lagi?" tanya David intens.


Naura terdiam.


"Sudahlah, kau tahu aku tidak terima anakku harus menderita bertahun-tahun karena ulahnya."


"Mom, kau tidak harus melakukannya!" ujar David.


"Kau terlalu bersikap lembek terhadap istrimu."


"Aku bukan pria yang suka bersikap kasar pada orang lain apalagi dia istriku. Aku lebih baik diam dan pergi dari pada berbuat kasar."


"Lalu, mengapa kau membentakku atas kesalahan yang tidak kulakukan?" tanya Bella tiba-tiba membuat kedua orang itu terkejut.


***

__ADS_1


__ADS_2