Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pengacau kecil


__ADS_3

Tangan Dara lalu dimasukkan ke dalam sela-sela rambut Alehandro yang tebal dan halus.


"Dan aku tidak akan merebut tempat Maria di hatimu," ucap Dara. "Cukup letakkan aku di sudut hatimu yang lain."


Alehandro menarik tubuh Dara dan meletakkan kepalanya di perutnya yang datar.


"Aku sudah tidak sabar menunggu malam datang," ucapnya sembari menengadah.


"Kau itu," ucap Dara tetapi terhenti ketika Alehandro menciumi perutnya.


"Aku mau membersihkan diri dan menyiapkan makan malam," kata Dara.


Dengan berat hati Alehandro melepaskan Dara lagi. Berkata pada diri sendiri untuk bersabar. Bahkan dia harus menenangkan dirinya ketika melihat tubuh Dara dalam balutan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya yang penting saja. Rambutnya yang basah tergerai cantik hingga menutupi bahunya yang terbuka. Nampak segar dan menggiurkan.


"Sial!" batin Alehandro. Merasakan bukit gairahnya yang telah lama tertidur bangkit kembali.


"Di mana bajuku Ale," tanya Dara.


"Di lemari," jawab pria itu. Dara lalu membuka lemari dan melihat beberapa stel baju wanita bercampur dengan baju Alehandro.


"Ini milikku?" tanya Dara.


"Kalau bukan punyamu, punya siapa?" jawab Alehandro mendekati Dara. Memeluk Dara dari belakang dan menyibak rambut basah yang menutupi lehernya.


"Apa kau ingin menggodaku?" tanya Alehandro.


"Apakah salah menggoda suami sendiri!" balik Dara tersenyum.


"Gadis nakal," bisik Alehandro lalu menyesap kulit Dara yang segar sedangkan tangannya melepaskan lilitan handuk wanita itu. Sehingga terjatuh ke lantai.


"Ale, sebentar lagi waktu makan malam," ujar Dara sembari merasakan tangan pria itu meremas dua aset kembar miliknya.


"Tetapi aku ingin memakanmu terlebih dahulu."


"Sabarlah, aku masih di sini," kata Dara terengah-engah.


"Kau sangat cantik dan seksi," puji Alehandro melepaskan Dara dan lalu membalikkan tubuh wanita, melihat penampilan Dara tanpa sehelai benang pun. Wajah Dara memerah, hendak mengambil handuknya namun Alehandro menggelengkan kepalanya. Satu tangannya di letakkan di tengkuk Dara dan satunya lagi di pinggang wanita itu untuk menariknya mendekat.

__ADS_1


Nafas pria itu telah memburu dan matanya mulai menggelap. Ada gairah membara di sana Tangannya mulai menggenggam rambut Dara dan menariknya sehingga wajah wanita itu menengadah lalu bibirnya diletakkan di bibir wanita itu melahapnya dengan rakus.


Dara merespos melakukan sama seperti yang Alehandro lakukan. Sedangkan tangan pria itu mulai mempermainkan satu tonjolan besar miliknya. Dara hendak mengerang ketika mendengar ketukan pintu.


"Ayah, Ibu, Nenek menunggu dibawah untuk makan," teriak dua malaikat kecil mereka.


Alehandro memukul lemari di belakang Dara dan wanita itu menahan tawa. Dara mulai mengambil lagi handuknya.


"Kau mandi dulu yang cepat," ucap Dara. Alehandro menghembuskan nafas kasar dan pergi ke kamar mandi.


"Ayah, Ibu," teriak Kaisar dan Ello.


"Ibu sedang berpakaian, kalian tunggu saja di bawah," ucap Dara membuka sedikit pintu kamar.


"Okey!" kata mereka berdua lalu pergi meninggalkan kamar itu. Dara menghela nafas panjang dan menutup kembali pintu. Dia menatap kamar mandi dan menggelengkan kepala sembari tersenyum. Pria itu memang tidak bisa mengendalikan dirinya. Entah apa yang terjadi jika mereka tidak segera menikah.


Dara memaklumi hidup tanpa wanita selama empat tahun bukan hal mudah untuk dijalani Alehandro. Kini setelah menemukan tempat pelampiasan dia ingin segera menuntaskan hasratnya yang sudah lama mati suri.


Makan malam kali ini terasa spesial karena dilakukan di ruang makan untuk tamu, dengan meja berukuran panjang dan ada dua puluh kursi di sana.


Dara heran siapa yang mau diundang untuk makan kali ini. Ternyata semua pelayan rumah ikut makan bersama. Mereka masih berdiri di belakang pintu menunggu perintah dari Mom Lusi.


"Ayo," ajak Alehandro.


"Tuan kami sebaiknya makan di belakang saja," kata Pak Slamet sopir yang telah mengabdi selama dua puluh tahun di rumah ini.


"Aku ingin merayakan pernikahanku dan kalian menolaknya?"


"Bukan begitu Tuan hanya saja kami tidak biasa makan ditempat seperti itu, takutnya cara makan kami yang salah membuat kacau acara makan malam ini," ucap wanita tambun yang dikenal sebagai koki rumah.


"Makanlah sesuai kebiasaan kalian, semua yang ada di atas meja ini akan mubasir jika kalian tidak ikut menghabiskannya."


"Tuan," ucap semua pelayan keberatan.


"Kalian juga bagian dari keluarga ini dan sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Maka dari itu ayo kita makan." Mom Lusi mulai berbicara dan semua pelayan akhirnya mulai duduk di kursi masing-masing.


Acara makan malam pun dimulai. Dara membuat suasana yang tadinya tegang terasa natural. Dia mulai mengajak semua pelayan untuk berbicara sehingga tercipta canda tawa di tengah acara makan itu.

__ADS_1


" Den Rose dan Den Kaisar mau punya adek berapa?" celetuk Dika salah seorang pengasuh Kaisar.


Mereka berdua lalu tertawa terkekeh membayangkan adik mungil.


"Dua," ucap Rose.


"Jangan sembilan biar bisa buat kesebelasan sepak bola," cetus Kaisar membuat semua orang tertawa dan Dara membuka mulutnya lebar.


"Kau harus memproduksinya setiap tahun Dara," imbuh Alehandro.


"Aku wanita bukan mesin tukang cetak anak," celetuk Dara lirih.


"Memangnya ayah akan buatkan kami adik kapan?" tanya Rose. Membuat semua karyawan terkikik menahan tawa.


"Nanti malam juga akan dibuat, tidak udah khawatir karena ayah kalian akan membuatkan banyak adik untuk kalian," sambung Mom Lusi tertawa hingga tersedak.


"Berarti besok pagi kita sudah bisa dapat adik kecil?" tanya Kaisar polos.


"Adeknya nanti masuk diperut Ibu dahulu baru dikeluarkan," terang Rose.


"Iya aku pernah lihat Tante Laura mempunyai perut yang besar dan berisi adek bayi. Tapi bagaimana cara mengeluarkannya?"


Mengatasi pertanyaan Rose sudah membuat Dara pusing kini dia punya dua anak yang sama-sama cerdas dan kritis. Dia harus menyiapkan diri mulai sekarang untuk menjawab semua pertanyaan mereka.


"Sudah, sudah dimakan jangan bicara sewaktu makan," kata Alehandro enggan untuk menjawab pertanyaan anaknya.


"Ayah jawab dahulu bagaimana cara adik keluar dari perut Ibu nanti?"


"Sama seperti cara kalian keluar dari perut ibu kalian," jawab Alehandro.


"Kami tidak tahu caranya?"


"Kalau begitu tunggu adek bayi ada di perut ibu nanti lihat bagaimana cara adek itu keluar dari perut Ibu, Okey. Pembicaraan tentang adek bayi ditutup."


"Tetapi Ayah?" ujar Rose keberatan


"Tidak ada tapi-tapian," Alehandro mulai makan makanannya. Moodnya hilang karena hasratnya belum tersalurkan. Apalagi membicarakan tentang membuat anak membuat dia membayangkan tubuh Dara tanpa penutup tadi. Sangat indah dan eksotis.

__ADS_1


"Sayang, nanti malam aku harap dua pengacau kecil itu tidak mengganggu kita," bisik Alehandro di telinga Dara membayangkan dua anak itu akan ikut tidur di kamar mereka nanti malam.


Dara lalu menyubit paha Alehandro. "Pengacau mereka anak kita, ngawur!"


__ADS_2