
Tak ada yang tahu tentang hidup manusia begitu pun dengan Bella. Di umurnya yang sudah tidak muda lagi, dia hanya ditemani oleh bulan yang malu-malu memperlihatkan dirinya. Mendengar syahdunya cerita angin dan di sentuh oleh udara dingin yang menyapa kulitnya.
Sebagai wanita dia mempunyai semua yang diinginkan oleh setiap wanita, cantik, kaya, berhasil dan sukses.
Cinta, itu hanya tipuan belaka dan dia sudah tidak lagi mempercayainya. Pria, dia bukan menghindari dari mereka namun dia tidak siap untuk sakit lagi.
Sejenak dia mengingat tentang kejadian beberapa tahun lalu saat semua rencana pernikahannya gagal dan keadaan perusahaannya terpuruk.
***
"Sudah kukatakan jika kau pasti akan menemuiku lagi," ucap David.
"Aku sekedar hanya ingin mencari teman saja. Tadi aku berbelanja dan aku pikir akan sedikit menyenangkan jika ada yang bisa kita ajak bicara saat ini dan aku tidak mempunyai teman yang cukup akrab selain adikku sendiri dan kini dia pergi. Kau tahu itu kan?" ucap Bella yang terlihat tegar namun ada getaran kesedihan dari ucapannya.
Sekedar. Sulit sekali di tengah apa yang jadi luapan bermacam-macam emosi untuk tidak terpesona oleh kata sekedar.
"Kau merasa terluka?" tanya David. Mata cokelat itu terlihat jernih dan sedikt berkaca. David merasa dirinya terbelah, antara rasa simpati dan rasa cemburu terhadap pria lain yang ada dalam pikiran wanita itu.
Bibir Bella tersenyum namun garis-garis tipis di wajahnya mengatakan jika dia benar-benar telah terluka. David benci untuk mengakui hal ini bahwa Cristian selalu lebih unggul di depannya dalam soal wanita.
Seorang pelayan datang membawakan dua gelas kopi dan dua piring cake red Velvet berukuran yang tadi di pesannya sebelum David tiba.
"Aku tidak tahu kopi apa kesukaanmu? Jadi aku pesan sama sepertiku, kopi hitam Aceh asli."
"Tak apa-apa!" jawab David mulai menyesap kopinya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi?"tanyanya setelah pelayan itu pergi.
"Terluka, apakah perlu mengatakannya?" ujar Bella. Jelas dia sangat terluka karena adiknya sendiri yang merebut calon suaminya. Tapi adiknya juga pasti terluka makanya dia pergi mengalah.
"Katakan saja jangan dipendam dalam hati," kata David tenang. Pria matang sepertinya memang pandai menebak hati wanita. Pikir Bella.
__ADS_1
"Aku bahkan tidak bisa menangisi hal ini," kata Bella dengan dada yang sesak.
"Apa kau butuh dadaku untuk tempat bersandar," goda David.
Bella menghembuskan nafas kesal dan memutar bola matanya malas.
David terkekeh memperlihatkan dua lesung pipinya yang nampak menonjol jelas. Sejenak Bella terpana akan ketampanannya. Secara keseluruhan David terlihat lebih manusiawi dan humble dibandingkan dengan Cristian yang terkesan dingin.
"Aku kira kau menghubungi karena kau menerima tawaran yang kuberikan padamu?" ucap David.
Bulu mata Bella yang hitam dan lebat itu bergerak menimbulkan bayangan berwarna ungu di sekitar pipinya yang putih seperti porselen.
"Aku bahkan sudah melupakannya," jawab Bella.
David tersenyum kecut. "Sayang sekali aku padahal berharap banyak, setidaknya hal itu mungkin bisa menjadi pelipur laramu."
Kali ini perkataan David seolah benar adanya di pikiran Bella. Namun menjadi simpanan itu adalah hal hina yang tidak akan pernah di lakukan.
Karena ibunya pernah merasakan betapa sakitnya itu.
"Sesuatu yang dilarang malah mempunyai daya tarik tersendiri, jika kau tidak percaya datanglah ke hotel sebelah malam ini, aku menunggumu hingga esok hari," ujar David.
"Kau gila!" ucap Bella.
"Perlu sedikit kegilaan untuk keluar dari masalah yang menjeratmu dalam jurang kehampaan," balas pria itu.
"Sudahlah kita bicarakan hal lain saja!" ucap Bella.
"Bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya David lagi.
"Memburuk, para penagih hutang sudah mulai mengeluarkan seringai mereka," jawab Bella santai.
__ADS_1
"Aku akan membantumu ji ... ," ucapan David di sela oleh Bella.
"Jika aku melakukannya karena uang apa bedaku dengan wanita murahan yang menjual harga dirimu pada seorang pria?" kata Bella.
"Baiklah apapun itu aku akan menunggumu malam nanti, di hotel sebelah. Telephon aku jika kau sudah sampai," ujar David.
"Maaf aku harus pergi dari sini, ada klien penting yang harus kutemui," ucap pria itu.
"Apakah orang yang akan menandatangi kontrak kerja itu denganmu?" tanya Bella.
David tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya di sebelah kanan Bella, dia membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Kau adalah klien spesialku, aku tetap akan menunggumu," bisik David di telinga Bella lalu mengecup pipi wanita itu dan berdiri membiarkan wanita itu terkejut dan bingung.
Udara malam mulai terasa lebih dingin sejak David melontarkan tawaran 'dadanya' pada Bella. Mungkin kata itu akan membuatnya marah jika dikemukakan di waktu yang tidak tepat, tapi kini dia mengakui jika dia sangat membutuhkan tempat untuknya bersandar dan mengeluarkan semua keluh kesahnya. Dia merasa bodoh karena merasa hanya pria itu yang mau mendengarnya.
Dengan membuang semua adat dan prinsip hidup yang dia pegang selama dua puluh lima tahun ini, Bella mulai mengambil mantelnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Nampaknya semua orang sudah tertidur pulas dan dia sendiri terjaga di malam yang dingin ini.
Dia enggan untuk membawa mobilnya, Bella telah memesan sebuah taksi yang sudah menunggu di depan rumahnya. Dia lalu pergi ke hotel itu.
Sesampainya di hotel dia bertanya pada resepsionis dimana letak kamar David. Resepsionis mulai mengatakan jika Tuan David telah menunggunya sedari tadi dan menyuruh salah seorang pegawai untuk mengantarkan Bella hingga lantai yang dituju.
Tidak ada alasan lain selain mengetuk pintu kamar hotel David seperti orang bodoh ketika dia telah tiba di sana. Tapi ada yang lebih buruk dari terlihat bodoh, dia bisa saja mati mendadak karena menahan semua masalah yang menderanya.
Menyadari kemungkinan itu Bella mulai memberanikan diri mengetuk pintu kamar David. Hal gila apa ini? Batin Bella yang mulai tidak mengenali dirinya sendiri karena telah keluar dari batasan yang dia dan masyarakat buat.
Sedangkan di kamar hotel David sedang asik menyesap Brandy dari gelas di tangannya. Sesekali dia melihat jam yang nampaknya berjalan dengan sangat lambat. Ini hampir pukul satu malam dan kemungkinan wanita itu datang sangatlah sedikit.
Ketika dia tadi meninggalkan Bella di cafe, dia yakin jika Bella akan menerima tawarannya. Seorang wanita terluka terkadang selalu melakukan hal gila untuk menyembuhkan lukanya. Tapi kini dia sama sekali tidak yakin jika wanita itu akan datang ke dalam pelukannya.
Pintu mulai di ketuk oleh Bella, David yang mendengarnya merasa itu mungkin hanya halusi saja efek dari minuman itu. Tapi ketukan kedua membuat dia tersadar jika itu salah sebuah ketukan dipintu kamarnya. Dengan langkah tergesa David mulai membuka pintu kamar.
__ADS_1