Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Akibat Keangkuhan


__ADS_3

Kakek Wasesa berjalan ke dalam rumah untuk melihat keadaan cucunya. Dia lalu mulai memencet bel dan menunggu kedatangan cucu menantu untuk membukakan pintu. Namun, apa yang diharapkan tidak menjadi kenyataan. Dia begitu terkejut melihat Savitri, menantunya yang tidak dia harapkan, membukakan pintu.


Tubuh wanita paruh baya itu mundur ke belakang. Wasesa melihat Savitri dengan tatapan tajam. Dia lalu menyuruh dua pengawalnya untuk menunggu di luar sedangkan dia masuk ke dalam penthouse cucunya.


"Kris ... Kris ... Kris ... !" panggil Wasesa dengan marah.


Gips di kaki Kris sudah lepas hanya saja dia masih menggunakan satu kayu penyangga untuk menahan bobot tubuh.


Wajah Kris terlihat tenang. "Ya, Kek."


"Ada apa ini mengapa kau membawa wanita itu datang kemari?" tanya Wasesa sengit menunjuk ke arah Savitri.


Sheila yang sedang berada di dapur langsung keluar dan menyalami Kakek Wasesa.


"Sheila apakah kau memperbolehkan wanita ini tinggal di sini?" tanya Kakek Wasesa.

__ADS_1


"Bukankah dia ibu dari Kris, aku tidak punya alasan untuk menyuruh ibu pergi," kata Sheila.


"Ini salah seharusnya wanita ini tidak boleh tinggal bersama Kris!" ujar Kakek Wasesa marah.


"Apa alasannya?" tanya Sheila.


"Karena ketika dia menyerahkan anaknya dia sudah berjanji untuk tidak menemuinya lagi?"


"Kenapa? Apakah karena dia miskin atau dia tidak sederajat dengan kita? Apakah jika aku wanita miskin kakek juga tidak akan merestui hubunganku dengan Kris seperti kau menentang hubungan Kris dan Dara?"


"Jaga ucapanmu, Sheila?" teriak Kakek Wasesa.


"Aku muak Kek, karena ego seperti kalian, anak-anak harus menderita. Kau berpisah dengan anakmu, Kakek pasti tahu bagaimana sakitnya berpisah dengan anak yang kita sayangi. Lalu kau membalas dendam dengan memisahkan Ibu Savitri dengan anaknya? Kenapa harus ada cerita kedua anak yang terpisah dari orang tuanya?"


Sheila lalu mendekat ke arah Savitri dan Kris, "Ibu baru bertemu anaknya setelah puluhan tahun berpisah haruskah dia dipisahkan lagi? Sampai kapan? Sampai dia meninggal atau Kris yang meninggal atau Kakek yang meninggal?"

__ADS_1


"Sheila!" seru Wasesa dengan wajah merah padam.


"Kenapa? Aku marah, karena kesombongan kakek dan ayahku, kini ada tiga orang yang menderita. Aku, Kris, dan Dara. Jika kakek tidak memandang dari derajat dan kekayaan semua ini tidak akan terjadi!" ucap Sheila tidak mau kalah. Dia muak dengan semua yang terjadi dalam rumah tangganya.


Sheila lalu duduk di kursi dengan lemas.


"Dulu aku berpisah dengan kekasihku hanya karena tidak ada restu dari orang tua, Kris berpisah dari Dara karena tidak ada restu darimu lalu kami dipaksa menjadi satu. Aku karena faktor umur yang mengharuskan untuk segera menikah, sedangkan Kris karena ancaman Kakek. Aku tidak tahu bagaimana pernikahan kami ke depannya! Apalagi kini ada buyut kakek dalam perut Dara yang hendak lahir. Haruskah aku egois untuk memiliki Kris sedangkan anak itu butuh ayahnya?"


Kakek Wasesa melihat ke arah Kris.


"Apa ini Kris, bukankah sudah kuperingatkan sebelumnya!"


Kris lalu maju dengan tertatih. "Dara hamil anakku, apa yang harus kulakukan Kakek apakah aku harus tidak mengakui anak itu sebagai anakku?" tanya Kris sinis.


Kakek Wasesa lalu melihat ke arah tiga orang yang berdiri di hadapannya. Savitri yang duduk sembari menangis, Sheila yang menunduk sembari memegang keningnya dan Kris yang menunggu jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2