Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kenyataan Menyakitkan


__ADS_3

"Bisakah kami bertemu dengannya?" pinta Kris.


Sheila hanya melirik suaminya dengan mendesah kecil.


"Jika kalian bertemu dengannya, apa yang akan kalian lakukan?"


Sheila dan Kris saling memandang. Dada Sheila terasa penuh dan sesak, dia ingin marah dan menolak hanya saja tidak sanggup.


"Okey kalian pun tidak bisa memutuskan. Jika boleh aku ingin menjadi wasit bagi kalian bertiga," kata Alehandro menahan tawa.


"Aku pasrah, Pak," kata Kris lemah. Dia tidak bisa berkutik jika berhadapan dengan atasannya itu. Walau terlihat santai di saat serius maka pria itu akan terlihat tegas dan berwibawa.


"Sebentar akan kupanggilkan Dara, kalian bisa berbicara ingin menentukan sikap bagaimana selanjutnya. Sebelum semuanya terlambat," kata Alehandro, bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam. Dia lalu berhenti ketika melihat Dara berdiri di balik tembok.


"Apa kau ingin menemui mereka?'' tanya Alehandro. Dara menggelengkan kepalanya.


"Jika boleh aku meminta maka aku ingin kau usir mereka dari hadapanku," kata Dara.


"Di hadapanmu itu aku, bukan mereka."


Dara mengerucutkan bibirnya kesal pada lelucon Alehandro yang garing.


"Bersembunyi seperti pengecut, hanya akan menimbulkan penyesalan yang berkepanjangan. Hidup tidak berhenti setelah kehilangan seseorang, tetapi berjalan tanpa mereka secara berbeda. Cobalah renungi itu dan maju lawan ketakutanmu," ujar Alehandro.


Bola mata Dara menatap manik mata cokelat Alehandro. Pria itu seperti tahu jika dia takut, takut kehilangan Kris tetapi takdir tidak mendukung untuk mereka bersama.


"Aku akan membantumu," bisik Alehandro. Dara lalu merasa yakin untuk maju ke depan.


"Tegakkan kepalamu jangan pernah kau tundukkan!" lanjut Alehandro lagi pelan. Dara menelan Salivanya yang tercekat dan mengepalkan tangannya. Ini hari terberat dalam hidupnya karena ini saat dimana dia harus menentukan sikap.


Dara lalu berjalan di depan Alehandro. Dia kemudian duduk dengan tenang walau kakinya terasa lemah dan lemas. Alehandro duduk di sebelah Dara tapi dengan jarak yang lebar.


"Dara," panggil Kris.


Dara tersenyum hanya saja tidak sampai mata. Sebuah senyum basa basi yang hambar.


"Katakan apa alasan kalian mencari Dara?" tanya Alehandro menyilangkan kedua tangan di perut.


"Dara kami ingin membawamu kembali ke rumah," kata Kris.


"Untuk apa?" tanya Dara.

__ADS_1


"Agar aku bisa merawatmu dan anak kita," jawab Kris.


Dara tertawa mengejek lalu melihat ke arah Sheila. "Apakah suamimu sedang melawak Sheila?"


Sheila menatap Dara dengan pikiran penuh tanda tanya. Dia pikir Dara akan menangis dan menerima tawaran Kris.


"Dia saja tidak bisa berdiri kok mau menjagaku. Dia saja dirawat olehmu kok mau merawatku


Memangnya aku wanita pesakitan yang butuh perawatan lebih!" tanya Dara menusuk.


"Bukan maksudku seperti itu," kata Kris meredam egonya.


"Kau tahu artinya jika aku ke rumahmu Tuan Kris yang Sempurna, kau mau menambah beban fisik dan mental istrimu itu. Apa kau memikirkannya?" seru Dara geram.


Wajah Kris memucat.


"Untuk apa membelaku yang bukan apa-apamu kau punya dia yang lebih dariku. Lebih cantik, elegan, membanggakan dan yang terpenting selevel denganmu. Sedangkan aku? Siapa aku? Dari mana aku? Bagaimana jika nanti aku menikahimu, apakah keluarga Danuraja akan menerimaku dan menerima anak kita? Pikirkan dengan otak bukan dengan nafsu!" Nafas Dara terengah-engah setelah menyelesaikan ucapannya.


Lidah Kris kelu seketika. "Semuanya akan baik-baik saja jika Sheila mendukung keputusanku untuk menerima pernikahan ini," kata Kris.


Dara membuka mulutnya lebar.


"Apa kau rela di madu Sheila?" tanya Dara.


Rahang Dara bergerak, tangannya dikepalkan dengan kencang. Warna kulitnya putih berubah memerah seketika.


"Aku tahu kau tidak pernah mencintaiku dari dulu Kris. Ketika kau mengatakan jika kau mencintaiku mungkin kau hanya merasa kehilangan diriku yang selalu melakukan apapun. Merindukan bukan berarti mencintai dan itu dua hal yang berbeda." Dara memiringkan kepalanya menatap ke arah Kris.


"Ketika Sheila memperlihatkan kepeduliannya padamu maka kau pun mulai merasa nyaman dan posisiku tergantikan olehnya dengan cepat. Oleh karena itu, kau ragu pada dirimu sendiri, siapa sebenarnya yang kau butuhkan, aku atau Sheila," ucap Dara rendah. Sheila lalu memandangi Kris, mencoba untuk menebak perasaan Kris.


"Di satu sisi kau berat padaku karena anak dalam kandunganku ini. Di sisi yang lain kau berat pada Sheila karena dengan dukungan Sheila kau bisa membawa pulang Ibu tanpa takut ditentang oleh Tuan Wasesa."


Perkataan Dara bagai suatu tamparan keras bagi Kris. Wajahnya pucat karena malu apa yang ada dihatinya dengan mudah ditebak oleh Dara.


''Aku tidak butuh pria di sampingku jika dia hanya menginginkan anakku saja tanpa mencintaiku dengan sepenuh hati,'' ujar Dara.


"Aku mencintaimu Dara," kata Kris cepat tetapi kemudian dia melihat ke arah Sheila.


"Tetapi aku juga menyukai sifat Sheila dan kebaikan hatinya."


Dara menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti."

__ADS_1


"Biarkan anak ini lahir tanpa nama ayahnya, tetapi jangan khawatir karena aku akan tetap membuat dia mengenal siapa ayahnya," kata Dara dengan tubuh yang ditegakkan.


Alehandro melihat bangga pada diri Dara yang tegar. Sikapnya yang tenang dan teratur membuat dia terlihat seperti Superwoman.


''Apakah ada yang ingin kalian katakan?" tanya Dara.


"Tidak semua sudah jelas," kata Sheila berdiri.


Kris ingin mengatakan sesuatu namun dia melihat Sheila sudah berjalan meninggalkannya.


"Sheila tunggu!'' panggil Kris.


Sheila berhenti menghela nafas panjang lalu membalikkan tubuhnya, berjalan kembali ke arah Kris. Dia lalu membantu Kris berdiri. Dia tidak mungkin bersikap tega pada suaminya.


"Ayo kita pulang!" ucap Sheila. Mereka lalu keluar dari rumah itu setelah berpamitan pada Dara dan Alehandro.


Dara lalu menatap kepergian Kris dengan wajah lega. Alehandro benar jika dia hanya menunda masalah ini maka yang ada hanya rasa sesak di dada. Bukankah dia telah kehilangan Kris lama dan dia masih bertahan maka jika kali ini dia kehilangan pria itu lagi, itu bukanlah suatu masalah besar bagi Dara.


Dara menatap Alehandro. "Terima kasih."


Alehandro menaikkan kedua bahunya dan menganggukkan kepala.


"Apakah begitu mudah bagi seorang pria melupakan kekasihnya?" tanya Dara.


"Bukan melupakan tetapi berusaha menerima kehadiran wanita lain yang ada dihadapannya."


"Bagaimana cara agar bisa melihat kesetiaan seorang pria?" tanya Dara tiba-tiba.


Alehandro terkejut mendengar pertanyaan Dara.


"Bunuh dia, lalu peluk dia. Pria lebih setia saat mati," kata Alehandro pada Dara.


"Maksudmu? Jangan pakai kiasan aku tidak mengerti."


"Pikirkan terlebih dahulu maknanya. Kau itu masih terlalu muda untuk mengenal dunia yang kejam ini. Mencari pria yang setia pada istrinya itu bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Sangat sulit, apalagi jika pria itu kaya dan tampan," ujar Alehandro narsis.


Bibir Dara ditekuk sebelah.


"Kenapa kau tidak senang dengan kenyataan yang ada dihadapanmu!"


"Katakan itu pada wanita lain, wahai duda hangat, karena itu tidak akan mempan untukku," ujar Dara meninggalkan Alehandro.

__ADS_1


"Aku tidak sedang merayuku," teriak Alehandro.


"Namun, aku sudah mual terlebih dahulu," jawab Dara melambaikan tangan ke belakang.


__ADS_2