Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Lelah


__ADS_3

''Hallo, Kaisar," sapa seorang pria dari belakang mereka. Nampak, Anwar dengan beberapa pengawalnya datang mendekat ke arah mereka sembari menodongkan pistol.


Alehandro lalu berdiri sedangkan Dara satu tangannya, menarik erat tubuh Rose dan pelukannya dan memeluk bahu Kaisar dengan tangan yang lain.


Wajah Kaisar setelah mendengar suara itu menjadi pusat pasi, dia menoleh dan melihat pria yang membunuh nenek serta menikam dirinya ada di hadapan mereka. Nafasnya mulai terdengar memburu.


Dua pengawal Alehandro mencoba menjadi benteng keluarga itu sedangkan pengawal lainnya terlihat tumbang di kejauhan. Posisi mereka kini terjepit mereka kalah jumlah.


"Akhirnya kau keluar juga dari tempat persembunyian," ejek Alehandro.


"Ya, aku keluar untuk membunuh bocah kecil yang menjadi sumber masalahku itu dan istrimu yang selalu mengacaukan rencanaku, jika perlu aku akan membunuh kau juga." Mata Anwar melihat ke arah Rose. Dia menyeringai sinis.


"Namun, gadis cilik itu sepertinya aset penting. Dia bisa kujual sepuluh tahun lagi, bukan begitu Dara?" Dara lalu melebarkan matanya yang sudah merah. "Menggantikan ibunya dulu." Lalu mulai terdengar tawa keras di tengah tanah pekuburan ini.


"Yakin, kau bisa melakukannya?" tanya Alehandro santai.


"Kau masih saja sombong seperti dahulu padahal posisimu kini sedang dalam keadaan terjepit.


"Aku sengaja menunggu momen ini Anwar, aku lelah dengan semua dramamu kemarin. Aku ingin mengakhirinya," kata Alehandro. Dara menatap bingung ke arah suaminya. Di saat keadaan terdesak bagaimana bisa dia bersikap begitu santai.


"Kalau begitu aku akan mengakhiri hidupmu mulai dari sekarang bersiaplah Alehandro," kata Anwar menarik pelatuk.


Dor!


"Aakh!"


Sebuah tembakan melesat.


"Tidak!" teriak Dara keras. Tubuhnya terpaku, bibirnya gemetar. "Ale," ucapnya lirih dengan pupil bergerak-gerak cepat. Rose dan Kaisar menangis keras.


Pistol di tangan Anwar lalu terjatuh, darah menetes dari tangan pria itu.


"Jangan bergerak!" teriak seseorang dari kejauhan melemparkan tembakan ke udara.


Kini para Polisi mengepung tempat itu. Dada masih tercengang tidak tahu apa yang terjadi. Kaisar dan Rose yang masih terisak melihat kejadian itu dengan seksama sembari mengeratkan pelukan mereka pada Dara.


Para Polisi itu lalu meringkus kawanan penjahat itu.


Alehandro memiringkan kepalanya dan tersenyum mengejek pada Anwar ketika pria itu terlihat kesakitan memegang tangannya yang tertembak.


"Bukankah kebaikan akan selalu menang! Kau selalu menjadi bayangan menakutkan bagi Maria semasa hidupnya, tidak ada yang tahu siapa dirimu pada masa itu. Namun, hidup tidak selalu berpihak pada kita. Kini akal licikmu bisa dikalahkan dengan akal licik pula. Aku memang menjebakmu keluar dari sarang. Aku tahu kau selalu mengintai pergerakan dari keluarga kami sehingga itu menjadikan senjata untukku untuk menarikmu keluar dari persembunyian."

__ADS_1


"Ba ... jingan kau Alehandro," teriak Anwar.


"Gunakan tenagamu untuk menjalani sisa hidupmu di penjara, akan kupastikan kau akan dihukum mati karena perbuatanmu itu. Tetapi sebelum itu terjadi, kau akan memperoleh balasan atas rasa sakit yang anakku dapatkan. Bukan di sini tetapi di dalam bui," bisik Alehandro.


"Tolong bawa dia ke penjara Pak Polisi," kata Alehandro kemudian.


Seorang Letkol maju ke depan Alehandro. "Terimakasih Tuan Alehandro atas bantuannya.Kami jadi bisa meringkus penjahat berbahaya ini."


"Kejahatannya sudah banyak tidak hanya kepadaku tetapi juga terhadap wanita-sanita yang telah dia jual dan di jadikan budak di negara lain. Kita tidak tahu persis berapa korbannya mungkin banyak yang telah mati diantara mereka. Saya harap Anda bisa membuka kasus ini dan membuat pria itu dihukum mati atas semua perbuatannya."


"Pasti, akan kami lakukan," ucap Letkol itu. Mereka lalu membawa Anwar pergi dari tempat itu.


Alehandro lalu melihat keluarga kecilnya sedang menangis lihat ke arahnya. Dia mulai berjalan mendekati mereka semua. Dara lalu berdiri menyambut suaminya. Dia menangis dalam pelukan Alehandro.


"Aku sangat takut tadi kau kenapa?" ucapnya.


"Aku baik-baik saja," kata Alehandro. Dia lalu melihat Rose dan Kaisar yang masih sesenggukan. Mencondongkan tubuhnya ke arah mereka.


"Semua sudah berakhir tidak ada yang perlu ditakutkan lagi."


Kaisar lalu memeluk leher ayahnya. Dan menangis keras.


Alehandro lalu memeluk tubuh putranya. "Ayah berjanji akan menemanimu hingga Ayah tua dan kau sudah punya keluarga kecil yang bahagia."


"Kau itu sudah tua," kata Dara menggoda Alehandro sembari menyeka air matanya.


"Kata siapa, aku masih terlihat seperti berumur 30an dan patut bersanding denganmu yang baru berumur 27 tahun. Benarkan anak-anak Ayah kalian masih tampan." Alehandro lalu berdiri dan memeluk pinggang istrinya.


Mereka lalu tersenyum. Dara mencubit pinggang Alehandro keras.


"Sakit Sayang," kata Alehandro dengan nada genit.


"Ih, Ayah dan Ibu pacaran," celetuk Rose.


"Eh dari mana kau mendapat kosa kata itu?" tanya Dara.


"Di sekolah, kami sering digoda teman seperti itu jika sedang bersama.''


Dara membuka mulutnya lebar lalu menggelengkan kepalanya.


"Kalian itu adik dan kakak tidak seharusnya membicarakan masalah pacaran, Okey!"

__ADS_1


"Sudah, sudah sebaiknya kita berdoa untuk mereka yang ada di dalam alam kubur sana."


Dara lalu terdiam mereka mulai melantunkan doa untuk Maria dan keluarganya. Setelah itu mereka kembali ke rumah dengan perasaan tenang.


Mom Lusi yang sudah khawatir merasa lega ketika melihat mobil Alehandro masuk ke dalam halaman rumah. Mom Lusi menyuruh pelayannya untuk mendorong kursi roda mendekati mobil. Sakit di kakinya bertambah parah setelah terjatuh di rumah sakit tetapi dia tidak menyesali karena bisa menyelamatkan cucunya.


"Ya, Tuhan syukurlah kalian selamat."


Alehandro lalu memeluk ibunya setelah itu dia menggotong tubuh Kaisar ke kamarnya. Rose mulai berceloteh kejadian tadi dengan gayanya. Mok Lusi membuka mulut terkejut.


"Tenanglah Mom semua sudah aman dan kita bisa hidup dengan tenang," ucap Dara sembari mendorong tubuh Mom Lusi ke dalam rumah.


"Tetapi tidak seharusnya Alehandro melakukan itu. Itu bisa membahayakan nyawa kalian," serunya kesal pada anak semata wayangnya


"Buktinya kami baik-baik saja, dia memang sudah merencanakan semua ini dengan sangat rapih."


"Ya, sudah. Yang penting kalian selamat sampai di rumah dan tidak terluka sedikitpun."


"Rose pergi ke kamar dan bersihkan dirimu," kata Dara. Seorang pengasuh lalu mendekat ke arah Rose dan mengajaknya ke kamar.


"Mom, aku akan keatas," pamit Dara. Dia lalu melangkahkan kaki pergi ke kamarnya.


Dara yang lelah setelah melalui hari berat masuk ke kamarnya dengan lesu. Dia lalu melihat Alehandro yang sedang berdiri sedang menghubungi seseorang.


Dara lalu duduk di tepian tempat tidur sembari menatap kosong ke depan. Alehandro yang melihat lalu menutup telepon itu dan duduk di sebelah Dara memijat bahu wanita itu.


"Hmm," kata Dara menikmati pijatan Alehandro.


"Dara, aku lelah," kata Alehandro memeluk leher Dara dari belakang dengan satu tangannya dan meletakan kepala di ceruk leher Dara.


Untuk pertama kalinya Dara mendengar Alehandro mengeluh.


"Semua sudah berakhir," kata Dara.


"Ya, dan aku beruntung memilikimu sebagai tempat bersandar ketika lelah," ucap Alehandro.


"Ketika bersemangat kau malah mengerjaiku," ledek Dara sembari menggigit bibirnya karena geli mengatakan hal itu.


Alehandro yang sedang lesu lalu bangkit. Wanita ini selalu saja pandai menaikkan moodnya.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama untuk menaikkan semangatku," kata Alehandro.

__ADS_1


__ADS_2