Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Masih Sama


__ADS_3

"Hai Ale," sapa Dara tersenyum.


"Kau!" ucap Alehandro terkejut. Dia menghela nafas panjang dan membuat simpul di bibirnya.


Melihat ke arah gadis cilik yang berdiri di belakang Dara.


"Apakah dia Rose?" tanya Alehandro. Dara menggerakkan alisnya.


Melihat ayahnya menyapa Dara dan mengenal anak itu membuat nyali Kaisar menciut dia lalu memegang ujung jas ayahnya. Matilah nasibnya kini, pikir anak itu.


Rose menatap wajah Alehandro dari belakang tubuh Dara.


"Hai," sapa Alehandro menunduk ke arah Rose.


"Kita bertemu lagi gadis cantik," lanjutnya tersenyum lalu menyentuh pipi Rose.


"Aku tidak melakukan apapun anak Bapak yang nakal pada dia," ujar Rose memegang baju ibunya dengan erat. Bola matanya yang jernih bergerak-gerak ketakutan.


"Oh, ya! Betulkah begitu Kaisar?" tanya Alehandro pada Kaisar.


"Aku hanya tidak suka pada bentuk ice-cream itu," jawab Kaisar membela diri.


"Pak, Anda masih harus memberikan sambutan," bisik assisten Alehandro.


"Kalau begitu kau urus kekacauan ini, Dara tetap tinggal di sini karena aku ingin berbicara denganmu," kata Alehandro.


"Kau jaga Kaisar!" perintah Alehandro pada asistennya.


"Baik, Pak."


Dara lalu menghela nafas panjang. Dia memegang Rose."Jangan buat kekacauan lagi."


"Bu," Rajuk Rose memegang pakaian ibunya sembari menatap ke arah Kaisar.

__ADS_1


Anak itu sekarang dikawal oleh tiga orang pria berjas rapi. Dia lalu merapikan jasnya dengan angkuh sembari menatap Rose dengan angkuh.


Rose tidak mau kalah dia berdiri tegap dan menjulurkan lidah menatap ke arah anak itu. Sedangkan Dara lebih asik melihat ke arah panggung. Dia tidak menyangka pria yang menjadi perbincangan banyak orang itu adalah Alehandro.


Dara lalu dibawa oleh petugas untuk duduk di bagian depan panggung bersama dengan Kaisar dan pejabat tinggi perusahaan. Rasa malu dan kurangnya percaya diri membuat dia kikuk dan tegang berada di tempat itu. Sedangkan pegawai yang tadi dibawanya membuka mulutnya lebar ketika melihat Dara bersama orang-orang besar.


Rose dan Kaisar duduk berdampingan, mereka saling memunggungi dan menampilkan air muka tidak senang. Dara sudah membujuk keduanya untuk berbaikan namun ternyata itu lebih sulit dari yang dia bayangkan.


"Hai," sapa Alehandro ketika telah menyelesaikan acara sambutan itu. Dia lalu duduk di sebelah Kaisar.


Dara tersenyum lebar. "Aku tidak tahu jika kau pemilik dari hotel ini," ujarnya menatap Alehandro. Pria itu hanya tersenyum.


"Aku tidak menyangka jika kita akan bertemu di sini," ucap Alehandro.


Dara menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kabarmu!" tanya Alehandro pada Dara.


"Sangat baik," jawab Dara mengambil surai hitam di kepala dan menariknya ke belakang telinga.


"Oh, toko makanan ringan itu milikmu?"


"Ya, anak Om ini sangat sombong mengejek makanan di tokoku!" ucap Rose berapi-api. Kaisar mengerang memandang tajam ke arah Rose. Sedangkan gadis cilik itu memeluk ibunya sembari menjulurkan lidah lagi.


"Ayah kau lihat!" geram Kaisar pada Alehandro.


"Kaisar!" panggil Alehandro lirih sembari menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kalian saling memaafkan karena ibu Rose dan ibumu itu bersaudara," ucap Alehandro. Dara menatap ke arah Alehandro dan menghela nafas.


"Jadi dia saudaraku!" tanya Kaisar.


"Aku tidak mau mempunyai saudara seperti dirinya, Bu," ujar Rose.

__ADS_1


"Rose ... ," panggil Dara mengerang, Rose lalu tersenyum ketakutan dan segera mengulurkan tangan pada Kaisar. Dia tidak mau dikurung di kamar seharian jika tidak memenuhi perintah ibunya.


"Hai saudara, maaf!" panggilnya pada Kaisar. Kaisar melihat ukuran tangan Rose langsung melipat tangan di dada sembari memalingkan wajahnya.


"Kaisar... ."


"Yah ... ," ucap Kaisar keberatan.


"Ingat apa yang ayah selalu katakan, pria sejati adalah pria yang tidak takut untuk meminta maaf dan memberi maaf," ucap Alehandro. Kaisar menghela nafas panjang dan menyambut uluran tangan Rose tanpa mau melihat ke arahnya.


"Anak-anak," ujar Dara.


"Aku sampai kewalahan menjaga Kaisar," ucap Alehandro. "Dia sangat keras kepala jika diajari."


"Jika kau tahu ulah Rose kau akan menggelengkan kepalanya, tadi pagi dia membuat masalah dengan menaiki genteng rumah hanya demi menolong seekor anak kucing."


Alehandro membuka mulutnya lebar.


"Mungkin dia sama sepertimu, terlalu aktif," ujar Alehandro.


"Aku rasa itu sebuah sindiran daripada sebuah pujian," ujar Dara. Mereka lalu tertawa kecil membuat dua anak itu memandang orang tua mereka yang asik berbincang.


Satu jam kemudian Dara dan Alehandro sudah asik berbicara sendiri sembari mengitari stand menyicipi makanan, sedangkan Rose dan Kaisar sudah bermain bersama dengan akrab mereka kejar mengejar mengelilingi aula itu.


"Gampang sekali anak-anak itu saling mengakrabkan diri," ujar Alehandro duduk di salah satu kursi menghadap Dara sembari memegang semangkuk soto. Dara sendiri memilih salad sayur untuk dimakannya.


"Tidak seperti orang dewasa jika sudah bertengkar susah benar untuk kembali bersama."


"Kita selalu bertengkar dulu," ujar Alehandro.


"Yah, kau yang memulai terlebih dahulu, sepertinya Kaisar menuruni sifatmu itu."


"Aku rasa Rose juga menuruni sifat ibunya yang pemarah dan sok tahu," ujar Alehandro. Dara membuka mulutnya dan mencubit paha Alehandro keras.

__ADS_1


"Kau masih menyebalkan seperti dulu!" ucap Dara


"Cubitan mu kurang ke atas," goda Alehandro tertawa terkekeh. Dara membuka mulut lebar Wajahnya memerah seketika. Dia memukul keras lengan Alehandro.


__ADS_2