
"Ayah akan kembali ke kamar." Setiawan hendak berdiri namun kakinya terasa lemas. Dia terjatuh namun tubuhnya segera ditopang oleh Riska dan Bella.
Cinta hanya bisa mengulurkan tangannya tetapi ditarik kembali. Dia melihat tiga orang itu berjalan melewati dirinya. Cinta hanya bisa terdiam melihat itu semua.
"Ayah," gumamnya lirih tidak terdengar.
Kepala Cinta mulai terasa pusing kembali. Dia lalu pingsan. Tapi sebuah tangan merengkuh dan mengangkat tubuhnya.
Ardi membawa Cinta ke rumah para pelayan. Dia tidak ingin membuat masalah lagi dengan membawa Cinta ke kamarnya. Pasti sulit baginya untuk merawat dan menjaga Cinta jika dia berada di kamarnya. Dia akan merasa tidak enak pada ayah Cinta dan keluarganya.
"Mbok, tolong Cinta," teriak Ardi membangunkan orang rumah. Ardi membawa Cinta ke ruang tamu. Ibu Ardi lalu datang setelah mendengar teriakan Ardi. Bapak Ardi dengan mata yang masih sayu juga datang sembari membenarkan sarungnya.
Lalu dua pelayan yang lain ikut keluar dari kamar mereka masing-masing.
"Ya, Alloh kenapa Non Cinta?" tanya Mbok Jum. Memeriksa keadaan Cinta
"Dia pingsan Mbok," jawab Ardi. Mbok Jum menghela nafas. "Pasti karena banyak pikiran. Non Cinta itu terlihatnya saja tegar namun fisiknya sangat lemah. Jika kau jadi suaminya nanti kau harus menjaganya dengan hatimu."
__ADS_1
Ardi menganggukkan kepalanya. Mbok Jum mulai mengambil kayu putih dan mengusapnya sedikit ke hidung Cinta. Cinta mulai sadar.
"Alhamdulillah akhirnya Non Cinta sadar juga," ucap Mbok Jum.
Cinta lalu duduk dan di beri minum oleh Mbok Jum. Ardi terlihat khawatir sekali dengan keadaan Cinta.
"Sebaiknya kamu tidur di sini saja Cinta, di rumah sedang ada masalah tidak akan ada yang merawatmu di sana," pinta Ardi cemas.
"Benar, Non. Sebaiknya Non Cinta di sini saja sama Mbok Jum, cuma ya itu kamar MbokJum kecil dan pakai kasur kapuk, jadi sedikit keras. Takutnya Non Cinta tidak betah."
Cinta tersenyum melihat semua orang yang ada di sana memberi perhatian padanya. Hatinya menghangat tiba-tiba. Sebuah senyuman kembali terukir di wajahnya. Mereka mulai berbincang sedikit. Lalu Cinta berbicara,
"Ya, sudah kalau begitu kami kembali saja ke kamar masing-masing. Non Cinta bisa memanggil kami jika memerlukan bantuan atau ingin tidur di kamar Mbok, asal jangan satu kamar sama Ardi. Bisa-bisa Pak Setiawan marah sama Mbok," kata Mbok Jum. Cinta menganggukkan kepalanya.
"Mbok ki iso wae, aku nggak akan berani berbuat macam macam pada Cinta, wong semacam saja belum pernah kulakukan,"
ledek Ardi membuat tertawa semua orang.
__ADS_1
"Nang, nang tek supiti nek berani macam-macam sama non Cinta," jawab ayah Ardi dengan gaya mau mengambil anunya Ardi. Ardi mengelak.
"Jangan Pak ini aset penting nanti jadi kerdil dan tak garang," jawab Ardi asal.
"Makanya yang baik sama calon mantu bapak ini." Ardi menganggukkan kepalanya sembari bersembunyi di belakang ibunya. Cinta tertawa dengan riang melihat gurauan mereka.
Sepeninggal mereka wajah Cinta kembali murung. Andai dia tidak bertemu Cristian mungkin dia akan bahagia karena bisa hidup bersama mereka nantinya. Tapi Cristian membuat hidupnya hancur dan dia harus mengakhiri hubungan mereka. Pikir Cinta.
Cinta meminta Ardi duduk dekat dengannya. Dia mulai membisikkan sesuatu ke telinga Ardi.
"Aborsi, kegilaan apa lagi ini!" tanggap Ardi seketika. Cinta mencubitnya keras dan menutup mulut Ardi dengan tangannya. Membuat jantung Ardi berdetak keras.
"Dengarkan dulu penjelasanku," Cinta mulai meneruskan cerita tentang rencananya besok. Ardi menganggukkan kepalanya.
"Anak ini yang akan menjadi jalan pada Cristian untuk mendekatiku jadi kita buat dia tidak ada dan membuat Cristian marah serta membenciku karena tindakan aborsi yang ku lakukan,'' ucap Cinta setengah berbisik yang hanya dapay di dengar oleh mereka.
"Itu terlalu berisiko," jawab Ardi.
__ADS_1
"Demi keutuhan keluargaku apa yang tidak akan kulakukan,'' kata Cinta mantap.