
Pagi harinya seperti biasa Maria mengantarkan Alehandro ke depan rumah untuk berangkat bekerja. Tetapi sebuah mobil mewah dengan logo cincin empat yang saling berkaitan memasuki halaman rumah. Alehandro dan Maria memandangi mobil itu hingga berhenti di depan mobil mereka.
Seorang pria berseragam putih dengan warna topi senada keluar dari ruang pengemudi. Dia berjalan memutari bagian depan mobil lalu membuka pintu penumpang di belakangnya.
Seorang pria dengan rambut setengah botak berwarna putih kemerahan keluar dari mobil itu. Pria itu berbadan tegap walau kerutan diwajahnya sudah terlihat. Jas hitam lengkap melekat di tubuhnya dan satu tongkat berada di tangannya bukan membantunya berjalan tetapi hanya seperti tongkat kebesaran saja.
Sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya, sehingga kerutan di sekitar wajahnya ikut terangkat ke atas. Dia lalu melonggarkan jas di bagian perutnya yang sedikit buncit.
"Tuan Alehandro Cortez," sapa pria itu dengan suara besar dan berwibawa. Alhandro lalu mendatangi pria itu dan bersalaman dengannya.
"Hallo, Tuan Tanjung, kau nampak terlihat sehat tidak seperti yang kabar yang beredar jika kau sudah berada di rumah sakit beberapa bulan ini!" sapa Alehandro. Dia mengulurkan tangan dan di sambut oleh pria tua itu.
"Itu karena aku sedang bahagia, jadi kesehatanku kembali lagi," ujar Putra Tanjung.
"Perihal apa yang menyebabkan Orang sibuk seperti Anda mampir ke kediaman saya di pagi hari!" kata Alehandro.
Putra Tanjung terlihat menarik napas, dia lalu melihat ke arah Maria dan beralih kembali ke arah Alehandro lagi.
__ADS_1
"Apakah kau tidak ingin mengajak masuk pria yang sudah tua ini untuk duduk di istanamu yang megah," kata Putra Tanjung.
"Anda bisa saja mari kita masuk terlebih dahulu dan membicarakan hal apa yang membawamu datang kemari karena setahuku bisnis kita tidak saling berkaitan."
Putra Tanjung tertawa lalu mereka masuk ke dalam rumah itu.
"Maria bisakah kau buatkan kami minuman teh," kata Alehandro sembari mempersilahkan Putra Tanjung duduk di sebuah kursi besar.
"Jangan memakai gula aku terkena diabetes."
"Kita punya gula rendah kalori yang bisa Anda gunakan, Tuan Tanjung," tawar Maria.
"Oh itu ide yang sangat bagus, kau memang anak manis yang pengertian." Maria lalu masuk ke dalam untuk membuatkan teh.
Sepeninggal Maria Alehandro mulai mempertanyakan tujuan kedatangan Tuan Tanjung. Pria ini adalah mantan menteri kelautan yang sangat disegani pada masanya.
Selain itulah Alehandro mulai bisa menebak tujuan kedatangan pria itu kemari.
__ADS_1
"Mungkin kau sudah tahu tujuanku kemari Alehandro," kata Putra Tanjung. Alehandro menghela napas dalam.
"Aku kira kau punya tujuan lain, mungkin mau berinvestasi di perusahan milikku?'' cetus Alehandro santai.
"Aku hanya ingin bertemu cucuku, satu-satunya cucu kandung yang kumiliki," kata Putra Tanjung tegas.
"Cucu yang mana?" tanya Alehandro pura-pura tidak mengerti.
"Maria adalah cucuku," kata Putra Tanjung.
"Natalia sudah membuangnya dan Anda pun tidak berniat untuk merawatnya ketika masih kecil, sekarang Anda ingin bertemu dengannya. Sebenarnya apa tujuan Anda?" tanya Alehandro.
Wajah Putra Tanjung memerah mendengar kata-kata Alehandro.
"Jadi kau sudah tahu semua ceritanya," kata Putra Tanjung.
"Dia adalah istriku dalam tanggunganku dan aku ingin melindungi dia dari kalian orang-orang yang tidak mengakuinya selama ini," imbuh Alehandro.
__ADS_1