
"Kita jadi teman saja itu lebih baik untuk perkembangan Rose, kita bisa merawatnya bersama dengan penuh kasih sayang. Nantinya terserah Rose mau tinggal di mana? Itu sama saja bagi kita karena kita tidak akan saling membatasi waktu untuk bertemu. Semua untuk kebahagiaan Rose."
Kris menatap Dara. Lalu, tangannya menepuk lembut rambut Dara.
"Kau berubah sangat berubah. Dan aku suka perubahan itu. Terima kasih karena pernah menjadi bagian terbaik dalam hidupku dan terima kasih karena kau telah membiarkan Rose hadir dalam hidupku."
"Aku lahir tanpa ayah dan ibu, jadi aku paling tahu betapa sedihnya itu. Makanya, aku tidak ingin Rose merasakan apa yang kurasakan. Hidup tanpa orang tua lengkap, tetapi aku juga tidak bisa hidup bersamamu. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita saling berdamai dan menjadi orang tua yang baik buat Rose walau kita tak kan pernah menjadi satu."
"Aku sangat ingin bersamamu tetapi jika kau sudah menemukan pria baik maka aku tidak ingin merusak mimpimu itu," ucap Kris.
"Kalau begitu antar aku kembali ke rumah, Kris!"
"Apakah kau sudah menganggap rumah Alehandro sebagai rumahmu?'' tanya Kris membuat wajah Dara merebak merah.
"Tidak seperti itu," jawab Dara gugup. "Hingga saat ini kami belum mempunyai hubungan apapun."
"Alehandro memang pria yang beruntung selalu mendapat wanita yang baik seperti kau dan Maria," kata Kris. "Aku turut bahagia jika itu terjadi."
"Bu," panggil Rose dari kursi penumpang bagian depan.
"Ya, Sayang!" jawab Dara.
"Di mana kita," ucap Rose sembari mengucek kedua matanya.
"Kita masih di jalan, Sayang," jawab Kris lalu berpindah tempat ke kursi pengemudi.
"Apakah kita jadi ke rumah Ayah!" kata Rose.
__ADS_1
"Setelah mengantarkan ibumu ke rumah Om Ale," jawab Kris mulai menyalakan kendaraannya.
"Baiklah!" kata Rose antusias. Mereka bertiga lalu mulai berbicara dengan santai dan saling bercanda. Tidak kaku seperti tadi.
Mereka akhirnya sampai di depan rumah Alehandro. Dara mulai keluar dari mobil. Lalu, menunduk di depan jendela bagian depan.
"Kau benar ingin ke rumah Ayah?" tanya Dara sedikit khawatir ini adalah kali pertama dia akan berpisah dari Rose untuk pertama kalinya.
"Aku akan baik-baik saja karena ada Ayah," jawab Rose.
"Aku titip dia padamu Kris," kata Dara. Kris lalu memberikan tanda O dengan menyatukan dua jarinya.
"Ibu aku mencintaimu," kata Rose.
"Aku juga mencintaimu."
"Aku kira kau tidak akan kembali kemari," ujar pria itu membuka kalimat.
"Jika kau inginkan hal itu baiklah aku akan pergi," jawab Dara melewati pria itu sembari tersenyum. Alehandro lalu mengejarnya.
"Rose, dia?"
"Dia bersama ayahnya."
"Dan kau?"
"Aku di sini," jawab Dara mulai berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
"Dara, aku tidak mengerti," kata Alehandro.
"Kalau begitu tidak usah dimengerti!" Dara lalu berjalan cepat hendak meninggalkan Alehandro tetapi tangan pria itu memegang tangannya ketika di ujung tangga sehingga membuatnya hampir terjatuh. Namun, tubuh Alehandro yang berada di belakangnya menahan tubuh Dara dan satu tangan pria itu berada di pinggang Dara.
"Kenapa tidak boleh dimengerti," tanya Alehandro menatap Dara.
"Ale kita akan jatuh jika kau tidak melepaskan aku!" kata Dara melihat ke arah anak bawah tangga.
Alehandro lalu melepaskan Dara dan wanita itu berdiri sembari merapikan bajunya. Alehandro berdiri di sampingnya.
"Kau belum menerangkan padaku mengapa Rose tidak pulang?" tanya Alehandro.
"Dia bersama ayahnya!" jawab Dara kembali berjalan ke arah kamar.
Kaisar yang melihat Dara dari kejauhan ingin mendekati tetapi tangan Mom Lusi memegangnya.
"Biarkan Ayahmu berbicara dengan Tante Dara," kata Mom Lusi.
"Tetapi Rose?" tanya Kaisar yang bingung mengapa Rose tidak ikut kembali.
"Dia mempunyai Ayah, jadi sedang pulang ke rumah Ayahnya."
"Apakah dia akan kembali lagi kemari?" tanya Kaisar khawatir.
"Kita tanyakan hal itu nanti pada Tante Dara, sekarang sebaiknya antar nenek ke kamar," pinta Mom Lusi. Kaisar lalu menuruti ya sembari melihat Ayahnya berbicara dengan Ibu Rose.
Wajahnya terlihat gelisah dan cemas, takut jika kawannya itu tidak kembali ke rumah.
__ADS_1