Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Rasa Memadu


__ADS_3

"Ku mohon," pinta Kris.


"Dan kau, aku bertanya apakah kau mau dimadu? Tentu tidak bukan?" tanya Sheila.


Savitri yang memang sangat menyayangi Dara tidak rela jika harus berpisah darinya. Dia menatap Dara dan menggelengkan kepalanya.


"Sudah kukatakan aku tidak ingin menjadi duri diantara kalian berdua," kata Dara tegas. Mata Dara sudah terasa memanas dan berkedut.


"You see, kau harus memilih diantara kami!" jawab Sheila. Kris terdiam. Dara menengadahkan wajah dan mengerjapkan mata agar air mata tidak keluar.


"Setidaknya biarkan dia sini hingga melahirkan," pinta Kris menyerah.


"Apa artinya kau memilih istrimu dan akan membuang Dara begitu saja!" ujar Savitri kesal dan marah.


"Bu, maaf, tetapi beri aku sedikit waktu untuk berpikir, semua berarti bagiku," ucap Kris.


"Hanya beberapa Minggu Sheila, setelah itu aku akan menentukan sikapku," pinta Kris penuh harap.


"Kau tidak perlu memilih karena aku akan pergi!" ucap Dara berdiri.


Kris akan bangkit namun kakinya yang masih digips terasa sakit ketika dia salah mengambil posisi.


"Akh!" desis Kris memegang kakinya. Sheila memeriksa keadaan Kris.


Dara menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Dia hendak berjalan namun Savitri memegang tangannya dan bersimpuh di hadapan Dara.


"Dara Ibu mohon padamu, agar kau mau mendengarkan kata-kata Kris. Kau sedang hamil besar, bagaimana jika kau tiba-tiba melahirkan ketika hidup sendiri."


"Sebenarnya semua baik-baik saja ketika kita hidup bersama tetapi ini sudah terasa berbeda Ibu. Jika Ibu masih ingin bersamaku ayo kita pulang kembali jika tidak tinggallah bersama anak dan menantumu itu.''


"Anakmu juga butuh mengenal ayahnya," cetus Savitri lagi.


"Dia akan mengenal ayahnya karena aku tidak melarang Kris untuk menengoknya tetapi untuk menjadi yang kedua aku tidak bisa," jawab Dara.


"Menantuku walau kita baru mengenal tetapi aku bisa menilai mu sebagai wanita yang baik. Ibu mohon dengan sangat agar kau mau membiarkan Dara tinggal bersama Kris hingga anak ini lahir."

__ADS_1


"Umur kandungannya sudah memasuki 37 Minggu sebentar lagi dia akan melahirkan. Kau juga seorang wanita dan juga akan mempunyai anak setidaknya jangan biarkan Dara hidup sendiri di luar."


Sheila terdiam. Ini penentuan kelangsungan biduk rumah tangganya. Dia akan menguji Kris kali ini. Apakah dia lebih memilih wanita atau dirinya? Dia tidak mau dipermainkan dan waktu satu bulan tidak lama. Setelah itu dia akan pergi ke luar negeri jika Kris lebih nyaman bersama kekasihnya.


"Jika kau tidak keberatan biar Dara tinggal di apartemen milikku bersama ibu," sela Kris. Mata Sheila melebar seketika.


Jika Dara di letakkan di kediaman Kris bersama sang mertua maka yang ada Kris akan terus di sana dengan dalih menemui ibunya, dia akan dibodohi.


"Tidak biar Dara tinggal di sini bersama kita agar aku bisa mengawasi mu!" ucap Sheila tajam. Dia lalu pergi meninggalkan ruangan itu menuju ke kamarnya.


Kris mencoba berdiri di bantu oleh ibunya. Di lalu berjalan mendekati Dara yang masih terpaku.


"Ku mohon tinggallah disini!" kata Kris.


"Untuk apa? Untuk melihat kebersamaan mu dengannya? Kau kejam Kris!"


"Kau boleh memakai atau mengatakan aku kejam pada dasarnya aku juga mencintaimu dan tidak bisa berpisah denganmu. Namun," ucap Kris terhenti.


"Namun, kau juga memiliki rasa pada istrimu! Kris aku bisa melihatnya," ujar Dara.


"Dara aku juga tidak ingin bila melihat kalian berpisah!" bujuk lirih Savitri tidak ingin menantunya mendengar dan sakit hati. Dia mengatakan itu sembari melihat ke arah pintu kamar Sheila.


"Hingga sampai anak ini lahir setelah itu biarkan kami pergi!" tegas Dara.


"Baiklah hingga anak ini berumur dua bulan dan kau bisa melakukan aktivitas sendiri," ujar Kris lega. Waktu itu dia akan gunakan untuk membujuk Sheila agar menerima Dara dan membujuk Dara agar mau menjadi yang kedua.


"Tunggulah di sini dan ambil minum di dapur sebelah sana. Aku akan ke kamar untuk bertanya kamar mana yang akan kalian tempati," kata Kris.


"Kris sebaiknya aku kembali saja ke rumahku," kata Dara.


"Tidak Dara aku sudah pernah kehilanganmu dan aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya," ucap Kris memegang tangan Dara.


"Kris!" panggil Dara kesal.


"Ku mohon, demi kebaikan anak kita," bujuk pria itu lagi.

__ADS_1


Dara lalu kembali lagi ke kursi dan memegang kepalanya yang terasa pening.


"Kau mau air minum Dara," tawar Savitri. Dara menganggukkan kepalanya. Tenggorokannya terasa sangat kering.


Alehandro benar. Semua tidak baik bagi dirinya. Membuat pasangan itu berpisah atau menjadi istri kedua. Bagai makan buah simalakama. Dimakan ibu mati, tak dimakan ayah yang mati. Pepatah ini menggambarkan dirinya yang berada di antara dua pilihan sulit.


Maria, andai kawannya itu masih hidup dia pasti bisa memberikan solusi.


Sedangkan di dalam kamar Kris sedang membujuk Sheila.


"Sheila maafkan aku jika mengecewakanmu," ucap Kris.


"Untuk apa kau meminta maaf bukannya selama ini kau ingin dia hadir kembali ke hidupmu. Kau selalu memanggil namanya sehingga acap kali kau tidak melihat ke arahku!" ujar Sheila memalingkan wajah ke arah lain.


"Walau kata-kataku menyakitkan tetapi yakinlah kau mempunyai tempat tersendiri di hatiku," kata Kris.


"Tempat yang mana? Apakah jauh lebih besar atau lebih sempit dari kekasihmu itu?" ketus Sheila.


"Sekarang jujurlah padaku siapa yang kau inginkan di sisimu aku atau dia, agar aku tidak termakan oleh rayuan memuakkanmu itu!"


Kris terdiam.


"Kau terdiam karena masih mencintainya tetapi membutuhkan aku untuk tujuan dan kepentinganmu Kris. Aku akui dari awal kita bersama memang hanya sebatas urusan bisnis semata. Aku menikahimu agar terbebas dari tuntutan untuk cepat menikah dan kau agar memperoleh warisan dari Kakek Wasesa."


Kris menutup matanya untuk meredam emosi yang ada di hati.


"Cukup Sheila! Jika waktu yang kita lalui bersama tidak berarti bagimu maka aku akan pergi meninggalkanmu tetapi jika itu berarti bagimu maka beri aku waktu untuk menentukan pilihanku," kata Kris.


"Kris aku," Sheila menunduk dan terisak.


Kris lalu memeluknya.


"Kris perlu kau ketahui jika aku pernah melakukan kesalahan dan karena kesalahan itu membuat diriku tidak ingin menikah. Aku takut jika dia tidak akan menerima keadaanku dan menjadikannya sebagai alat untuk menjatuhkan harga diriku," ungkap Sheila.


"Aku bukan pria seperti itu. Kau lihat jika aku juga melakukan kesalahan dengan Dara. Oleh karena itu, aku ingin memperbaiki kesalahanku. Namun, aku juga tidak bisa mengabaikan dirimu karena aku tahu kau wanita yang baik."

__ADS_1


__ADS_2