
Dini hari Maria terbangun dari tidurnya karena panggilan alam yang tidak bisa dia tahan lagi. Setelah menunaikan hajatnya. Dia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, penasaran ingin tahu apakah Alehandro masih berada di dalam luar kamarnya atau tidak.
"Sepertinya dia tidur di kamar tamu?" gumam Maria. Tetapi dia tidak yakin sendiri. Karena penasaran dia membuka pintu kamarnya pelan.
Nafasnya terhenti seketika melihat Alehandro tidur meringkuk depan kamar kedinginan tanpa selimut. Maria berjongkok karena melihat nyamuk yang menempel di lengan Alehandro. Dia sangat gemas pada nyamuk itu dan...
Plak!
"Ada apa, apa ada kebakaran?" tanya Alehandro terkejut dari tidurnya.
Maria merendahkan bahunya dan memperlihatkan tangan yang terkena darah nyamuk.
"Kau berdarah? Kenapa?" tanya Alehandro.
Maria menepuk dahinya sendiri karena kesal.
"Aku menepuk nyamuk yang ada di lenganmu?
"Nyamuk? Nyamuk?" Alehandro yang baru bangun tidur karena terkejut belum sepenuhnya sadar dan mengerti apa yang dikatakan oleh Maria.
Maria tersenyum kesal. "Aku menepuk nyamuk yang ada di lenganmu!"
"Oh nyamuk aku kira apa?"
Maria lalu bangkit dan berdiri di depan Alehandro.
"Kenapa kau tidak tidur di kamar tamu saja?"
"Aku ingin menemanimu, walau tidak satu tempat tidur setidaknya kita tidak saling berjauhan."
__ADS_1
"Mulutmu terlalu manis, sayangnya aku bukan wanita yang mudah untuk kau rayu!" ujar Maria masuk ke dalam kamar.
Alehandro mengikutinya dari belakang.
"Apakah aku boleh tidur di kamar ini?" tanya Alehandro riang.
"Kau akan tidur di kamar ini tapi aku akan pindah ke kamar lain!" ucap Maria mengambil selimutnya.
Alehandro berdiri di belakangnya sehingga Maria terkejut ketika membalikkan tubuhnya.
"Kenapa harus berpisah kamar sedangkan kita sudah sepakat jika kita akan memulainya dari awal!" kata Alehandro maju perlahan sehingga Maria terdesak mundur dan jatuh ke tempat tidur.
"Aku kira tadinya akan seperti itu hanya saja setelah melihatmu ... .''
Alehandro menggerakkan dagunya ke atas.
"Kau bersama wanita lain tadi pikiranku berubah!" jawab Maria.
"Apa kau tidak mengenali wanita itu?" tanya Alehandro tidak mengerti.
"Aku tadi berkenalan dengannya bukankah dia adalah artis terkenal," jawab Maria polos.
"Bukan itu Maria," jawab Alehandro.
"Lalu apa? Sebelum ini aku tidak pernah mengenalnya!"
"Kau bersungguh-sungguh!" tanya Alehandro tidak percaya.
"Sungguh, aku tidak berbohong. Lagi pula kau itu aneh, kau yang salah malah menginterogasi ku!"
__ADS_1
Alehandro lalu memegang tangan Maria dan duduk di sebelahnya.
"Lihat aku! Apapun yang terjadi percaya padaku jika aku tidak akan berbuat aneh pada wanita manapun lagi."
"Aku tidak percaya padamu!"
"Demi apapun aku tidak akan melakukannya kecuali kau yang menyuruhku menikah lagi!" ucap Alehandro.
"Ale!" teriak Maria kesal.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya karena aku telah berjanji pada ibuku. Hanya kau yang terakhir untukku," kata Alehandro.
"Dengarkan aku, wanita tadi adalah teman SMU ku,"
"Dan kalian pernah berhubungan dulunya?" cecar Maria menatap Alehandro serius. Matanya sudah berembun saat ini membayangkan dirinya harus memperebutkan Alehandro dengan teman wanitanya yang cantik dan seksi.
"Dengarkan aku dulu!" kata Alehandro kesal. Maria langsung menutup rapat mulutnya.
"Pernahkah kau melihat foto ibumu?" tanya Alehandro. Maria menggelengkan kepalanya.
"Ayah tidak pernah memberikannya walau aku selalu meminta."
"Pantas," gumam Alehandro. Dia lalu menatap Maria dengan penuh kasih sayang dan mengambil sejumput rambut yang menutupi wajahnya dan meletakkannya di belakang telinga.
"Apa hubungan wanita itu dengan ibuku?" tanya Maria.
"Dia ibumu!" kata Alehandro.
"Ibu ... bagaimana bisa?"
__ADS_1