Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pamit


__ADS_3

Dara mengambil tasnya dan mulai memasukkan semua barang miliknya. Dia lalu mengambil bayinya. Tetapi sebelum itu dia meminta pada petugas untuk mengecek pembayaran rumah sakit.


Seorang petugas datang untuk membawa berkas yang diminta oleh Dara. Dara sudah bersiap dengan handphonenya untuk membayar biaya rumah sakit.


"Sudah di bayarkan oleh suami Anda sampai tiga ke depan, Bu," kata petugas itu.


Dara tersenyum canggung. "Di rumahku sedang ada musibah aku ingin pulang saat ini juga tolong katakan pada Dokter yang berjaga," pinta Dara.


"Tetapi!"


"Jika kalian menolak aku akan keluar secara diam-diam dari rumah sakit ini, ada masalah gawat yang mengharuskan aku pulang saat ini," seru Dara kesal.


"Saya akan mengkonfirmasi kepada dokter yang berjaga. Apa saya harus menghubungi keluarga Anda?"


"Tidak usah sebentar lagi mereka akan menjemputku," ujar Dara.


"Baiklah, Bu."


Setelah proses yang alot akhirnya Dara di perbolehkan pulang ke rumah. Dara mulai memesan Taxi on line. Dia dan bayinya mulai keluar dari rumah sakit itu tanpa ada seorang pun yang tahu.


Dia memegang bayinya masuk ke dalam mobil dengan menghela nafas panjang.


Semoga keputusannya kali ini tepat. Dia akan pergi dari Jakarta dan tinggal di tempat jauh.


Dia tidak ingin Kris mengambil anaknya dan dia juga tidak mau membuat masalah bagi siapapun termasuk Alehandro orang yang telah membantunya selama ini. Kota mana yang akan dia tuju dia pikirkan nanti.


"Bu, kau kemana kita?" tanya sopir Taxi.


"Stasiun kereta api."


"Kau yang kuat sayang," bisik Dara pada bayi mungilnya.


***

__ADS_1


Alehandro lalu pergi ke rumah Putra Tanjung untuk mengambil Kaisar. Seorang pengawal Putra Tanjung menghadang jalannya.


"Kau jangan main-main denganku!" ucap Alehandro kesal langsung memukul pria itu sehingga pria itu jatuh tersungkur.


"Natalia, dimana Kaisar," teriak Alehandro memasuki rumah itu.


"Ale, kenapa kau membuat keributan di rumahku!" teriak Putra Tanjung.


"Di mana Kaisar!" tanya Alehandro kesal.


"Dia aman bersamaku!" ucapnya.


"Kau jangan main-main denganku!" kata Alehandro berang. Dia lalu naik ke atas dan melihat seisi kamar Putra Tanjung menghalangi jalannya tetapi Alehandro mendorong tubuh pria tua itu.


"Natalia, serahkan Kaisar sebelum aku jatuhkan namamu dan nama ayahmu, aku tidak main-main," teriak Alehandro.


Natalia lalu keluar dari sebuah kamar membawa Kaisar.


"Bukankah kau sudah punya anak dari wanita itu jadi wajar jika aku membawanya aku neneknya."


"Aku sudah berbaik hati dengan menyatukan kalian dengan Dara jadi jangan mencoba-coba untuk memisahkan aku dengan anakku. Walaupun aku sudah menikah atau belum Kaisar tetap akan berada di sisiku."


"Berarti kau mengakui kalau dia adalah istrimu!" ujar Natalia.


"Dia bukan istriku tetapi teman karib Maria yang terkena musibah, dan aku hanya membantunya sesuai wasiat Maria!"


"Wasiat yang mana," kata Natalia.


Alehandro langsung mendekati Kaisar dan mengambilnya dari Natalia.


"Surat wasiat yang ditulisnya untukku. Dara dan Maria itu seperti saudara kandung, dia lebih dahulu hadir di hidup Maria sebelum kau datang. Dia yang menyemangati Maria selama ini karena itu aku menghormatinya sebagai bentuk balas Budi Maria padanya." Natalia bungkam oleh kata-kata Alehandro.


"Sekali lagi kuterangkan, dia bukan istriku! Dia dihamili oleh cucu Wasesa Danuraja, mungkin kau pernah mendengarnya dan dia meminta perlindungan padaku! Apa sekarang kau paham!"

__ADS_1


"Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya kalian melakukan ini padaku. Jika tidak aku bisa menghancurkan kalian dengan sangat mudah."


"Kalian boleh menemui cucu kalian tetapi tidak dengan mengambilnya dariku. Ingat perkataanku!"


Alehandro lalu melangkah pergi dari kediaman Putra Tanjung.


"Bukankah aku sudah katakan tadi jika kau salah mengambil Kaisar dari tangan Alehandro."


"Tetapi aku tidak mau Kaisar diasuh oleh ibu tirinya, Ayah," ujar Natalia.


"Dan kau salah sangka pada Alehandro. Memalukan!" ucap Putra Tanjung meninggalkan Natalia sendirian.


Alehandro langsung membawa pergi Kaisar dari rumah itu. Dia menggendongnya sembari menyetir mobil. Begitu sulit untuk menjadi orang tua tunggal bagi anaknya. Namun, dia yakin jika dia bisa menghadapinya.


Sesampainya di rumah Kaisar sudah tertidur dalam dekapannya. Mom Lusi yang semenjak tadi menangis lalu berdiri setelah melihat Kaisar dalam pelukan Alehandro.


"Akhirnya kau membawanya kemari, aku begitu takut mereka akan membawanya pergi," ucap Mom Lusi mengambil Kaisar dari gendongan Alehandro.


"Aku sudah mengatasi Natalia, setelah ini dia tidak akan berani lagi melakukannya."


"Ale, aku ada berita tidak bagus untukmu," kata Mom Lusi.


"Tini yang Mom suruh untuk menggantikanmu menjaga Dara sudah kembali dan mengatakan jika Dara sudah pulang ke rumah dari tadi sedangkan dia tidak kembali kemari. Aku sudah menyuruh Djoko untuk melihat apakah Dara kembali lagi ke ruko lama yang dia tempati. Nyatanya dia tidak kembali ke sana. Entah dimana dia saat ini. Pergi tanpa pamit dan kabar."


Alehandro langsung duduk lemas. Kepalanya mulai terasa pusing.


"Tuan, Bu Dara sudah tidak ada!" ucap salah seorang pelayan pada Alehandro melalui sambungan telephon.


***


Votenya ya Say ini hari Senin jika banyak nanti sore aku up satu lagi.


Like

__ADS_1


Komentarnya. Author itu suka bikin cerita berbeda dari bayangan kalian semua.


__ADS_2