
"Dara mengapa Rose tidak ikut bersamamu?" tanya Alehandro khawatir mengikuti Dara hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan Alehandro Cortez, aku lelah dan ingin meluruskan kaki sembari berendam air hangat," ujar Dara menghindari pria itu.
"Tidak! Kau harus mengatakan dulu alasannya!"
"Kris adalah Ayah Rose dan dia berhak ikut Ayahnya," jawab Dara tetapi bukan jawaban itu yang ingin Alehandro dengar dari bibir merah wanita itu.
Dara yang memang sudah lelah dengan drama yang menguras emosi sedari tadi, duduk di pinggir tempat tidurnya sembari melepas sepatu hak tinggi berwarna hitam.
"Mengapa kau tidak ikut bersama Rose?" tanya Alehandro ikut duduk di sebelah Dara.
"Kau itu, sungguh menyebalkan selalu memaksa orang untuk menuruti keinginanmu." kata Dara sembari mencari jepit rambutnya. Dia melihat itu di atas nakas.
"Ale tolong ambilkan jepit rambut itu," pinta Dara karena letak nakas itu berada di belakang tubuh pria itu. Alehandro lalu mengambilkannya. Dara mulai menyimpul rambut ke atas kepala sehingga membentuk cepolan asal. Lehernya yang panjang dan jenjang terekspos dengan indah, tidak sadar jika itu menjadi fokus sang duda yang ranjangnya telah lama dingin.
"Ale!" panggil Dara menatap miring pria yang sedang melamun. Alehandro lalu terhenyak pikirannya, kesadarannya kembali lagi.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Kita dan ranjang ini," jawab Alehandro cepat.
Sejenak Dara terkejut lalu tertawa kecil.
"Pikiranmu itu," Dara hendak berdiri namun lagi-lagi tangan Alehandro mencegahnya.
Dia mencondongkan tubuhnya sehingga wajah Alehandro dekat dengan wajah Dara membuat wanita itu mencondongkan tubuh ke belakang.
"Kau belum jawab pertanyaanku mengapa kau tidak ikut bersama Ayah dan anak itu."
"Memang jawaban apa yang ingin kau dapatkan?" Manik mata mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Aku ingin kau katakan jika aku adalah alasanmu untuk kembali," jawab Alehandro.
Dara menghindar, lalu bangkit dan berjalan meninggalkan pria itu.
"Apakah itu jawaban yang ingin kau dengar?" tanya Dara mengambil handuk dan hendak membawanya ke kamar mandi.
"Dara jangan permainkan perasaanku!"
"Jika kau pikir itu jawaban, maka anggap saja itu benar," lanjut Dara lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Dia menahan tawa lalu tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Alehandro tercengang untuk sesaat lalu tersenyum sendiri dan mulai bangkit untuk berjalan keluar kamar Dara.
Semoga apa yang dia pikirkan akan berhasil nantinya. Dia terkejut ketika melihat Kaisar sedang berada di depan kamar Dara berdiri menatapnya.
Alehandro lalu menggendong anaknya dan membawa ke dalam kamarnya sendiri.
"Ada apa, Sayang, kenapa kau berdiri di depan pintu kamar Rose?"
"Kenapa Rose tidak pulang Ayah?"
"Apakah dia akan tinggal di sana terus?" tanya Kaisar. Alehandro lalu menurunkan Kaisar di atas tempat tidur.
"Ayah tidak tahu tetapi itu adalah rumah Rose." Wajah Kaisar terlihat ditekuk. Dia lalu melipat tangan di dada.
"Ayah, apakah Tante Dara juga akan pergi ke rumah ayah Rose?" tanya Kaisar lagi.
"Ayah juga tidak tahu, Sayang," jawab Alehandro mengusap lembut kepala Kaisar. Anak itu lalu menundukkan wajahnya.
" Salahkah jika aku ingin punya teman seperti Rose yang akan selalu menemaniku bermain!" tanya Kaisar pada Alehandro.
"Dia punya rumah sendiri, Sayang, jadi kau tidak bisa memaksanya tinggal di sini," ujar Alehandro.
__ADS_1
"Jika Tante Dara di sini apakah Rose juga kan kembali ke rumah ini?" tanya Kaisar lagi.
"Ayah tidak tahu," jawab Alehandro. "Tetapi sepertinya Rose akan sering kemari."
Mata Kaisar lalu berbinar-binar. "Kalau begitu jangan biarkan Tante Dara pergi dari rumah ini Ayah!"
"Ayah tidak tahu bagaimana caranya agar Tante Dara tidak pergi dari rumah ini."
"Ayah bujuk dia agar mau tinggal di sini," kata Kaisar.
"Kau saja yang bujuk Tante Dara agar mau tinggal di rumah ini," rayu Alehandro. Kaisar menatap mata Alehandro dan pria itu menganggukkan kepalanya.
Kaisar meletakkan ibu jari dan jari telunjuk di dagunya seperti berpikir. Lalu dia tersenyum pada Ayahnya dan mengacungkan jempolnya.
***
Di tempat lain Kris yang sedang melajukan kendaraannya ke arah rumah lalu membelokkan mobil menuju ke tempat berbeda.
Kris lalu memarkirkan kendaraannya sesampainya di sebuah apartemen. Dia kemudian turun dari mobil dengan menggendong Rose.
"Kenapa rumah Ayah tinggi sekali?" tanya Rose yang tidak pernah pergi ke sebuah apartemen.
"Ini adalah sebuah gedung apartemen di sini ada banyak rumah yang dijadikan satu di setiap lantai yang berbeda," terang Kris.
"Wah rumah Ayah berarti ada di gedung ini?" tanya Rose. Kris hanya terdiam, mereka lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 25. Rose terus berceloteh dan bertanya tentang banyak hal. Kris dengan sabar menjawab semua pertanyaan Rose.
Kris senang anaknya langsung mau akrab dengan dirinya. Dia kira anaknya akan takut atau merasa canggung bertemu dengannya. Nyatanya Rose malah terlihat antusias bertemu dengannya.
"Ibu selalu bercerita jika Ayah terlalu sibuk di luar negeri jadi tidak bisa menghubungiku, tetapi ayah selalu menyayangiku," tutur Rose. Kris mencium pipi Rose dengan penuh kasih sayang. Dia terharu dengan cara mendidik Dara pada putrinya ini. Kini dia tahu jika Dara selama ini tidak menanamkan kebencian pada anaknya.
Pintu unit apartemen mulai ditekan. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka lebar.
__ADS_1
Wajah Sheila terlihat bingung menatap ke arah Kris dan Rose.
"Kris!" ucap Sheila gugup.