Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kenyataan Tidak Seindah Impian


__ADS_3

"Paman, Cantik membutuhkannya saat ini aku harap kau mengerti. Kau tidak ingin Cantik merasa tertekan dan trauma melihat Bundanya nanti," jawab David yang masih terdengar oleh Bella.


"Alasan saja! Kau memang pria yang tidak mempunyai hati. Aku yakin ini alasan Sofi mengakhiri hidupnya!" David enggan membalas hal itu dia lebih baik diam menghadapi hujatan semua orang.


Terdengar bisik-bisik orang yang mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai Bella. Dia ingin menjadi istri David yang sah dan terlihat di mata semua orang tapi bukan begini caranya. Dia bagai orang kejam yang membuat orang hidup sengsara karena kehadirannya. Akan tetapi semua orang tidak mau mengerti akan hal itu. Apalagi hujatan terhadap dirinya yang mengatakan dia penyebab kematian Sofi membuatnya tertekan. Bohong jika dia baik-baik saja. Kenyataannya dia ingin pergi dan menghilang dari sini detik ini juga.


Bella masih terdiam di tempat melihat David yang sibuk mengurus jenazah Sofi yang akan dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Dia tidak sadar jika seseorang datang dan merangkul pundaknya. Bella terkejut melihat wajah David yang tua dengan rambut berwarna putih kekuningan dan mata biru yang mempesona. Kini dia tahu dari mana David memperoleh wajah tampannya.


"Grandpa!" teriak Cantik melihat kakeknya. Dia tersenyum senang. Kakeknya selalu datang memberinya mainan baru jika baru datang dari berpergian jauh.


"Hai!" kata Ayah David tersenyum pada Bella.


"Ha-hallo, Tuan Sinclair," sapa Bella gugup. Ayah David mengambil Cantik dari gendongan Bella.


"Tidak usah sungkan panggil saja aku Papah seperti David," ucapnya.


"Papah," Bella tersenyum canggung ini kali pertamanya dia bertemu keluarga David selain ibunya.


"Hai Bella aku kakak tertua David, namaku Raina," kata perempuan yang datang bersama ayah David. "Dan yang berdiri di sebelah David itu suamiku, Bryan."


Bella membalas uluran tangan kakak Bella.


"Sayang sekali kita bertemu di saat yang tidak tepat. Tapi aku turut bahagia melihat David kini bahagia bersamamu. Aku bisa merasakan bagaimana dia mengkhawatirkan dirimu dari tadi dan melihat rasa kagum terhadapmu di matanya ketika kau masih terlihat tegar ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman ini."


Ayah David menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Bella.


"Sebaiknya kita ke mobil Papah saja agar bisa selalu bersama dalam keadaan ini, sembari saling mengenal satu sama lain," ajak Raina. ''Aku tahu kau merasa takut dan canggung dalam menghadapi semua ini," bisiknya lagi.


Raina lalu merangkul pundak Bella mengajaknya ke mobil Tuan Sinclair.


David yang melihat istrinya telah aman dengan keluarganya merasa lega dia terlihat tersenyum sebelum masuk ke dalam mobil ambulance.


Bella bisa melihat senyum David. Dia lalu memandang Ayah David. Tuan Robby Sinclair. Wajah yang sama tapi berbeda generasi.


"Kau duduk di belakang bersama Raina. Biar aku di depan bersama Cantik,'' kata Tuan Robby.

__ADS_1


"Aku ingin bersama Ibu saja," pinta Cantik. Robby lalu memberikan Cantik pada Bella.


"Ternyata kau sudah mengambil hati cucuku paling cantik ini," ujar Tuan Robby.


Bella tersenyum tulus. Mereka lalu masuk ke dalam mobil.


Di dalam perjalanan Ayah David bercerita tentang keluarga David. David adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya bernama Raina, kakak keduanya bernama Jack yang sekarang menetap di Inggris mengurus usaha keluarga mereka di sana.


"Dan Cantik adalah satu-satunya cucu perempuan keluarga Sinclair makanya dia paling di sayang. Selain karena paling kecil juga karena menggemaskan." Raina mencubit pipi Cantik.


"Tante, aku tidak suka jika pipiku dicubit nanti akan semakin besar." Cantik mengembungkan kedua pipinya.


"Bagaimana jika Tante menciummu terus," goda Raina.


"Tidak mau! Ibu lihat Tante ini sangat nakal," rajuk Cantik pada Bella sembari bersembunyi didadanya.


"Kau lihat si mungil ini semakin manja dengan Ibu barunya. Bagaimana jika Ibu Cantik ikut Tante saja. Biar Ibu Cantik menemani Kak Fredy di sana, Kak Fredy pasti senang jika punya Ibu seperti Ibu Cantik."


"Ini Ibu aku, tidak boleh di pinjam ma Kak Freddy. Kakak kan punya Tante yang mengajak bermain. Ibu jangan mau ikut Tante, yah." Cantik terlihat khawatir sekali jika ibunya benar-benar diambil tantenya.


Bella menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ibu ada buat Cantik."


Mereka lalu terdiam sejenak larut dalam pikiran masing-masing.


"Cantik sangat menyayangimu. Aku bisa merasakannya," kata Raina.


Bella terdiam.


"David beruntung memilikimu. Pantas saja dia enggan untuk melepaskanmu walau kalian sudah berpisah begitu lama," lanjut Tuan Robby.


"Oh, rupanya Ayah David juga tahu masalah ini," batin Bella.


"Baru melihatmu saja aku langsung menyukaimu," kata Raina memeluk bahu Bella tapi diiringi tatapan tajam mata Cantik.


"Aww ... Lihat Pa! Ada yang tidak suka jika Ibunya di sentuh orang lain," seru Raina tertawa.

__ADS_1


Mereka lalu tertawa melihat kelakukan Cantik yang sangat posesif pada Bella. Sama seperti ayahnya.


"Di mana Mommy, aku tidak melihatnya?" tanya Bella.


"Dia masih di kantor Polisi karena kasus ini. " Semua orang terdengar mendesah.


"Kenapa?" tanya Bella.


"Apakah David tidak menceritakannya padaku?" tanya Tuan Robby melihat Bella dari kaca spion


Bella menggelengkan kepala.


"Dia mungkin tidak ingin membuat istrinya bertambah pikirannya. Ayah lihat bagaimana hujatan semua orang yang dilayangkan ke arahnya," jawab Raina.


Terdengar suara nafas yang berat dari Tuan Robby.


"Naura masuk penjara karena masih menjalani pemeriksaan terhadap kasus ini. Terakhir kali dia bertemu 'si korban'," Mereka tidak mau menyebut nama karena takut jika Cantik paham pembicaraan ini. "Mereka terdengar bertengkar hebat. Dan sebagian pelayan mendengarnya."


"Ya Tuhan, lalu bagaimana akhirnya. Apakah tidak ada penjelasan yang lain? Misalnya CCTV siapa tahu ada orang lain yang masuk ke ruangan itu selain Mom?" tanya Bella bingung.


"Sayangnya belum ada. Papa dan David sudah menyewa beberapa detektif untuk mengungkap kasus ini. Mom memang gampang terpancing emosi tapi dia orang yang baik," terang Raina.


Bella menganggukkan kepalanya. Walau pertemuan pertama mereka tidak menyenangkan tapi pertemuan kedua mereka membuat dia terharu karena Ibu David bertindak penuh kasih sayang terhadapnya.


"Aku dan Papa serta suamiku langsung terbang dari Inggris setelah tahu permasalahan ini." Raina menunduk. Wajahnya terlihat sedih dan beberapa bulir air mata sempat terlihat jatuh.


"Semua akan baik-baik saja, Kak. Semua kebenaran pasti akan terungkap nantinya. Kita hanya butuh bersabar," ujar Bella mengusap bahu Raina. Raina menghapus air matanya dan menatap Bella dengan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Tanpa terasa mereka sudah berada di kompleks pemakaman. Mobil berhenti di area parkir. Bella keluar dari mobil menggendong Cantik.


Ayah David merangkul bahu Bella seperti ingin melindungi menantunya dari pandangan tidak sedap sebagian orang. David lalu berlari ke arah mereka dan berhenti di depan Bella.


"Ikut Ayah!" ajak David pada Cantik. Anak ini menggelengkan kepalanya. David terlihat melihat Bella.


"Biarkan saja David kau urus saja semuanya. Ayah akan berada bersama Bella," kata Tuan Robby mengerti kekhawatiran David.

__ADS_1


"Aku pergi dulu," kata David. "Kau tetap bersama Ayah. Aku khawatir dengan mereka yang ingin menyakitimu."


"Aku baik-baik saja," jawab Bella tegar tetapi jauh di dalam hatinya dia juga sangat terluka mendengar hinaan dan cacian yang dilayangkan ke arahnya.


__ADS_2