Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Takut Berpisah


__ADS_3

Alehandro lalu mengisi formulir itu dan mengosongkan kolom bagian nama ayah. Dia tidak ingin menjadi perdebatan nantinya jika Dara melihat nama Kris terpampang jelas di nama anak Dara.


Setelah itu dia hendak masuk kembali ke ruangan dia melihat tubuh Dara telah bersih dan memakai pakaian yang ada di dalam tas. Bayi Dara pun terlihat sudah terbungkus rapi.


"Tuan nama Tuan siapa?" tanya seorang petugas.


"Alehandro Cortez," jawab Alehandro.


"Oh, Anda lupa mengisinya di formulir," kata petugas itu lalu meninggalkan Alehandro yang hendak mengatakan sesuatu. Dara melihatnya.


"Aku coba memberitahu," kata Alehandro tidak enak. Dara tersenyum.


Salah seorang perawat datang kembali untuk membawa gelang identitas anak. Perawat itu lalu menyematkan di tangan anak Dara.


"Siapa namanya Bu?" tanya perawat itu.


Dara melihat ke arah Alehandro.


"Apa kau punya nama untuk anakku!" tanya Dara.


"Aku... ," tunjuk Alehandro pada dirinya sendiri. Dara menganggukkan kepala. Alehandro lalu mengambil tubuh mungil itu dari dekapan suster.


"Yakin, kau mau aku memberi nama bayi ini?" tanya Alehandro ragu.


"Jika bagus, kenapa tidak?" ucap Dara yakin sembari menyunggingkan senyum lebar penuh kebahagiaan.


Alehandro melihat wajah cantik yang tersenyum ke arahnya.


"Dia cantik seperti bunga-bunga yang tumbuh di musim panas yang memberi keindahan dan kebahagiaan. Dara menaikkan kedua alisnya ke atas."


"Bagaimana jika namanya Burnett Rose Hafisha, bunga kebahagiaan, agar kehadirannya menebarkan kebahagiaan pada semua orang termasuk dirimu," kata Alehandro.


"Nama yang bagus," kata Dara menganggukkan kepalanya.


Seorang suster mendekat lalu menuliskan nama itu di gelang tangan anak Dara.


"Sekarang Anda bisa mengadzaninya!" ujar Dokter itu yang masih mengira Alehandro ayah dari bayi itu.


"Aku!"


"Tidak ada orang lain," ucap Dara.

__ADS_1


Lantunan adzan dikumandangkan dan Dara hanya bisa melihatnya sembari menitikkan air mata kebahagiaan. Kini dia mempunyai seseorang untuk menemaninya harinya, seorang anak untuk tempat mencurahkan cinta dan kasih sayang. Anak yang akan menjadi masa depannya kelak.


Alehandro menyelesaikan Adzan nya dan mendekati Dara.


"Kau menangis?"


"Aku menangis bahagia," ucap Dara. "Entah bagaimana aku harus mengucapkan banyak terima kasih padamu!"


"Cukup jadi ibu yang tangguh dan ibu yang baik bagi anakmu," jawab Alehandro.


Alehandro lalu menyerahkan anak itu pada Dara di saat yang sama Kris dan Sheila serta Savitri masuk ke dalam ruangan.


"Dara!" panggil Kris. "Apakah itu anakku!" tanya lagi.


Dara menutup matanya dan menahan sesak di dada. Dia ingin marah namun dia tahan.


"Siapa yang memberitahumu?" tanya Dara melihat Kris mendekat.


"Ibu Lusi yang memberitahu."


"Sebaiknya aku keluar," kata Alehandro namun tangan Dara memegang tangan Alehandro pandangan matanya seperti ingin meminta bantuan.


"Biar ibu yang menggendongnya," pinta Savitri.


"Di sini saja," kata Dara tidak percaya dia takut anaknya akan diambil oleh Kris.


"Tentu saja apa kau tidak mempercayai kami?"


"Seseorang bisa berubah kapan saja!" ujar Dara.


Savitri lalu menggendong anak Dara dan mendekatkannya pada Kris juga Sheila. Sheila merasa dirinya terintimidasi dengan kehadiran bayi itu takut jika Kris akan lebih condong pada Dara setelah melihat anaknya.


"Dia mirip Dara tetapi matanya mirip dengan dirimu," kata Savitri. Kris lalu mencium anaknya dengan perasaan bahagia bercampur terharu.


"Terimakasih, Dara kau memberikan hadiah kebahagiaan terbesar bagiku," ucap Kris.


"Itu adalah kebahagiaanku Kris aku harap kau ingat itu," ucap Dara ketus.


Mereka lalu menimang Rose dan tertawa saat melihat tingkah lakunya. Sheila hanya berdiri bersandar di tembok dengan wajah murung.


Seorang perawat kembali datang dengan membawa map.

__ADS_1


"Ini surat kelahiran anak ini. Bobotnya 3,6 sangat besar tinggi 50 cm. Lahir pada pukul sembilan pagi kosong lima menit. Nama Ibu Dara Sukmawati dan nama ayah Alehandro Cortez, nama anak Burnet Rose Hafisha," ucap perawat itu tentang isi surat kelahiran yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit. Alehandro dan Dara membuka mulutnya.


"Ada apa ini, aku ayah dari bayi ini," teriak dari Kris. "Kenapa kau mencantumkan nama pria lain sebagai ayah dari anakku!" dada Kris naik turun dengan wajah merah padam.


"Dara apa maksudnya?" teriak Savitri tidak terima. Dara dan Alehandro saling menatap. Bukan mereka yang memasukkan nama ayah dari bayi itu.


"Aku tidak mengira wanita sepolos kau akan berbuat seperti itu," Sheila menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia tidak ingin jika kau menjadi ayahnya." Sheila lalu pergi keluar dari ruangan itu.


"Kami ti ... ," Dara ingin mengucapkan sesuatu namun tangan Kris direntangkan. Para Dokter dan perawat serta petugas segera datang mengetahui ada perdebatan yang terjadi di ruang bersalin.


"Maaf Pak ini rumah sakit kalian tidak bisa membuat kegaduhan," hardik seorang perawat.


"Lagian ibu ini baru saja melahirkan anaknya Anda harus mengerti kondisi lahir dan batinnya yang masih lemah," bentak salah seorang Dokter tidak senang.


"Sebaiknya kalian keluar dari ruangan ini jika ingin membuat keributan," dorong seorang petugas keamanan.


"Dara, apa kau mau memisahkan aku dari anakku jika begitu aku akan meminta hak asuh dari anakmu ini!" teriak Kris sembari mundur ketika tubuhnya di dorong keluar dari ruangan itu. Seorang perawat mengambil anak Dara dari gendongan Savitri. Mereka bertiga lalu pergi menjauh.


"Tenang Bu mereka tidak akan mengganggu ibu atau anak ibu," ujar petugas itu lagi. Pertahanan Dara runtuh, air matanya mengalir deras membasahi pipinya.


Dara menangis dan Alehandro memeluk tubuh Dara. ''Kau harus kuat," kata Alehandro. Mengusap rambut Dara dia menjadi miris melihat nasib wanita ini. Pantas saja jika Maria sangat menyayanginya.


"Mereka tidak boleh mengambil anakku," ucap Dara menatap Alehandro dengan mata ketakutan.


"Mereka tidak akan pernah mengambil anakmu," jawab Alehandro. Dia tidak menyangka Kris berubah menjadi pria yang menyedihkan seperti itu.


"Bagaimana jika apa yang mereka katakan itu benar. Mereka kaya bisa berbuat apa saja," takut Dara gemetar. "Aku tidak bisa membayangkan jika harus berpisah dengan anakku."


"Tenanglah, Dara kita bisa membahas ini nanti," kata Alehandro.


"Aku takut, aku takut, dia satu-satu hal yang aku punyai dan aku miliki dalam hidup ini," ungkap Dara ironi.


"Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil Rose darimu," balas Alehandro.


Alehandro lalu mengangkat dagu Dara. "Percaya padaku!"


"Tenang Bu, Anda baru melahirkan," celetuk seorang Dokter wanita melihat Dara yang masih menangis.


"Bolehkah dia tetap bersamaku," pinta Dara. Perawat itu menganggukkan kepalanya dan menyerahkan bayi kecil itu pada Dara. Dara lalu mendekap bayi itu erat di dadanya.


"Ibu tidak akan membiarkan mereka mengambilnya Nak, kita akan selalu bersama," janji Dara dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2