Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Harapan


__ADS_3

"Anak dan ibu sama saja," gumam Dara. Dia kini tahu dari mana sifat Kris yang berlagak paling sempurna ternyata itu ajaran ibunya. Namun dia juga tahu dibalik ucapan tajam Kris ada hati yang lembut selembut es cream yang lumer di mulut.


"Kau mengatakan apa Dara?" tanya Savitri. Dara mengeluarkan senyum tiga jari sembari menggelengkan kepalanya.


"Tidak Ibu?"


Mereka lalu terdiam. "Ibu aku baru membeli rumah ini haruskah aku menjualnya kembali?" tanya Dara.


"Tidak usah! Ibu masih punya uang untuk menyewa rumah selama beberapa tahun di Jakarta. Rumah ibu adalah rumah keluarga, peninggalan orang tua. Biar nanti sepupu Ray yang baru menikah kemarin menempatinya. Sedangkan rumah ini buat tempat singgah kita jika pulang kampung. Kalau tidak kita bisa mengontrakkan, lumayan buat pemasukan."


Dara lalu menganggukkan kepalanya. Kini dia bisa mencicipi bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu.


Perut Dara mulai berbunyi keras membuat Savitri melihat ke arahnya.


"Kau lapar?" tanya Savitri. Dara menganggukkan kepalanya.


"Di rumah ada sayur jengkol sama sayur kacang panjang," ujar Savitri. Dara terlihat meringis mendengar sayur jengkol. Biasanya dia itu demen makanan khas orang Indonesia itu namun semenjak hamil makanan dengan bau yang menyengat akan membuat perutnya mual.


"Kau tidak mau?"


"Aku ingin makan seblak panas," ingin Dara lirih.


"Kalau begitu kita ke rumah ibu saja. Ibu akan memasakkan seblak spesial untukmu," ajak Savitri. Dia lalu menarik tangan Dara untuk pergi ke rumahnya.


"Sekalian menginap di rumah ibu saja," kata Savitri.


Dara menganggukkan kepalanya. Mereka lalu berjalan keluar dari rumah Dara melewati jalan yang memisahkan rumah mereka dan masuk ke dalam rumah Savitri.


Bersih, sejuk dan damai, mungkin kata itu cocok untuk menggambarkan kondisi rumah ini. Segala perabotan di rumah ini adalah perabotan sederhana serta kuno hanya terlihat masih terawat dengan baik dan diatur dengan sedemikian rupa sehingga terlihat nyaman untuk ditinggali.


Mereka lalu masuk ke dapur sederhana. Savitri mulai mengambil perlengkapan memasak dan bahan-bahannya.

__ADS_1


"Ceritakan pada Ibu mengenai Kris!" kata Savitri. Savitri menawari Dara apel, Dara hendak mengambilnya tetapi Savitri menarik tangannya lagi. Dia mencucinya lalu memotong nya kecil-kecil baru di berikan pada Dara.


"Kris itu ketus tetapi hatinya lembut. Dia tidak terlalu suka makanan pedas dan sangat pemilih dalam hal makanan. Dia bahkan sering mengejekku yang doyan makanan pinggir jalan." Dara mulai mengunyah apel pemberian Savitri.


"Oh, ya! Tetapi itu patut dipahami karena dia hidup mengikuti gaya keluarga Danuraja. Sangat berbeda sekali dengan ayah Kris dia itu orangnya low profil, dia selalu menikmati apa yang aku hidangkan," kata Savitri.


"Kris juga melakukan itu. Dia memakan semua yang aku masak tetapi sebelumnya dia mengatakan jika makanan ini aneh rasanya, tidak enak, terlalu asin atau apalah tetapi dia pasti menghabiskannya tanpa sisa."


Savitri yang sedang memotong sosis menghentikan kegiatannya untuk sejenak dan tersenyum.


"Kalian pasti pasangan yang lucu bila bersama."


"Lucu apanya, kita biasa berdebat dan bertengkar mengenai semuanya, termasuk menonton film. Dia sangat berisik jika aku menonton film drama, mengomentari jelek tentang apa yang aku lihat. Namun, dia menemaniku hingga aku lelah menonton dan dan selalu tertidur di sebelahnya." Dara menghentikan ceritanya mengingat momen itu. "Tertidur dalam pengakuannya," batin Dara.


"Kau merindukannya?" tanya Savitri.


"Sangat!" jawab Dara jujur.


Savitri menghela nafasnya.


"Ibu... ." panggil Dara keberatan.


"Sebetulnya dia juga berhak tahu akan kehadiran anak ini," sela Savitri cepat.


"Aku tidak berani untuk mengatakannya," ujar Dara.


"Kenapa?"


"Siapakah aku Bu, aku hanya anak yatim-piatu yang miskin. Di awal pertemuan kami dia mengatakan jika kami tidak selevel. Memang itu terdengar menyakitkan tetapi makin kesini aku semakin menyadari jika apa yang dikatakan Kris memang benar adanya."


Savitri lalu mendengar ocehan Dara tentang Kris hingga Seblak matang dan Savitri memberikannya pada Dara.

__ADS_1


"Hummm nyummy ... ," ujar Dara.


"Makanlah!"


Dara menganggukkan kepalanya. Savitri sebenarnya tahu jika Ray menyukai Dara tetapi kembali lagi jika dia telah menganggap Dara sebagai menantunya dalam tanda kutip walau dia tahu mereka belum menikah. Dia sebagai ibu Kris tidak rela jika calon menantunya ini akan menikahi pria lain bukan anaknya.


Apalagi kini Dara sedang hamil anak Kris, calon cucunya, tidak boleh ada nama lain yang tertera sebagai nama ayah anak ini. Hanya Kris yang berhak menyandang nama ayah anak ini. Sekalipun itu adalah keponakannya sendiri, Ray.


Egois memang, namun harapan itu akan ada. Jika mereka diciptakan untuk bersama maka dinding pemisah pasti akan runtuh hanya saja waktunya kapan Savitri tidak bisa menentukannya. Dia percaya suatu hari nanti mereka pasti akan kembali dipertemukan.


***


Lama sudah Kris tidak mendatangi apartemen miliknya. Selama ini dia tinggal bersama kakeknya di kediaman keluarga Danuraja.


Kris lalu masuk ke dalam apartemen itu. Setiap langkahnya hanya dipenuhi oleh bayangan Dara. Wanita itu pasti akan menjemputnya di pintu atau tertidur menunggunya datang di sofa kursi tamu.


"Dara kau sedang apa? Apa kau sedang bersama pria lain?" batin Kris marah.


Dia lalu melangkahkan kakinya ke dapur tempat dimana dia bisa melihat wanita memasak dan menyiapkan minuman untuknya. Biasanya kopi panas pasti akan selalu dia berikan setiap kali Kris duduk di depan meja dapur.


Sepi dia rasakan sekarang. Dia ingin mengenyahkan bayangan Dara namun tidak bisa. Bayangan itu selalu melekat dalam pikirannya dan dia tidak mampu untuk mengenyahkannya pergi.


Kakinya yang panjang mulai menapaki anak tangga menuju ke kamar Dara. Lorong itu mengingatkannya pada Dara, wanita itu akan menyanyi setiap kali membersihkan kediamannya, senyum lebarnya selalu mengiringi ketika dia melihat Kris, terkadang sifat jahilnya akan membuat Kris kesal dan menggerutu. Kris menghentikan langkahnya dan memukul keras dinding.


Sejenak dia bersandar di sana. Setelah hantu Dara pergi dari matanya, dia lalu melangkah ke kamar Dara. Tangannya memutar knop pintu dan membukanya.


"Kris ada apa? Apa yang kau butuhkan?"


Kalimat itu yang akan Dara ucapkan ketika melihatnya masuk ke dalam kamar. Lalu Kris akan mencari-cari alasan agar Dara bisa keluar dari kamarnya. Dara yang manis, selalu melayani semua kebutuhannya dengan baik.


Sulit baginya untuk melupakan sosok Dara. Waktu dua bulan terasa singkat untuknya. Dia ingin Dara kembali dan hanya menjadi miliknya.

__ADS_1


Kris lalu berjalan masuk, duduk di pinggiran tempat tidur dan mengusapnya pelan. Rasa rindu pada sosok Dara semakin mencengkram erat hatinya, menyiksanya secara perlahan.


Dia tahu jika Dara sudah menemukan impiannya di sana. Dia tidak bisa egois dengan keinginannya sendiri. Namun dia membutuhkan Dara di sisinya, untuk menemaninya dalam setiap keadaan. Haruskah dia menjemput Dara untuk kembali kemari?


__ADS_2